Hari Aneh Penuh Kejutan

Aku berdiri di depan meja Dian, Direktur Utama pengganti ayahnya, pak Rahardjo yang mem”pensiun”kan dirinya sendiri bulan lalu. Pak Raharjo pemilik saham terbesar, sekaligus pendiri perusahaan, sementara adiknya memiliki saham minoritas.

“Kamu kemasi barang-barang pribadi kamu dan besok tidak perlu datang lagi !” Kata Dian dengan nada datar sambil melihat layar laptopnya, sama sekali tidak memanatap mataku.

Tanpa memberi jawaban, aku balik kanan bergegas kembali ke ruanganku,  memasukan laptop, alat tulis, buku, dan catatan pribadi ke dalam backpack. Masih banyak barang pribadiku yang tersisa tapi aku malas membawa barang yang ukurannya besar, juga lukisan yang tergantung di dinding kantorku terlalu besar untuk kubawa sekarang. Aku harus mempersiapkan kardus untuk barang-barang itu, lebih baik minta bantuan teman-temanku atau office boy, tapi kalau tidak bisa pun tak apa. Lupakan saja.

Teman-teman mendatangiku memberi simpati atas kejadian barusan, entah mereka tahu dari mana. Wajah mereka terlihat bingung. Apa yang harus mereka lakukan ? Mengikuti langkah beraniku atau membiarkan aturan baru itu berlaku dan menerimanya.

“Saya salut sama kamu Gar, kamu berani dan konsisten.” Kata Salman dengan sungguh-sungguh aku hanya tersenyum tanpa komentar.

“Aku gak punya temen curhat lagi donk.” Irena sesunggukan memegangi lenganku.

“Masih ada Pras kan, jangan remehin dia.” Aku mencoba menasehati untuk menghargai tunangannya, Prasetio.

“Ah Pras, mana mau dengerin, dia justru minta didenger.”

“Udah jangan manja gitu lu harus mandiri.”

“Tapi kalau aku telpon angkat ya, jangan lupa kabarin kalau kamu udah dapat kantor baru.”

“Iyeee… Gue telpon elu, janji.” Irena mencium pipi kiriku, kemudian berlalu sambil menangis.

Teman-teman lain menyalamiku mengucapkan perpisahan, ada yang sedih tapi ada juga yang senang. Posisi general manager sekarang terbuka lebar, mereka sudah menunggu kesempatan ini, aku tak ambil peduli.

Sarno tiba-tiba menangis sambil memelukku,  membuatku tertegun untuk beberapa detik. Dia adalah office boy di kantor itu. Tangisnya asli tidak dibuat-buat dan aku baru sadar dia sangat bergantung padaku.

“Nasib saya gimana pak ? saya juga belum bisa kembalikan uangnya.”

“Siapa bilang kamu pinjam, gak perlu kamu kembaliin.” Aku tegaskan walau aku tahu bukan cuma itu masalahnya.

Setiap bulan aku selalu menyisihkan uang gajiku untuk dia, memang sengaja aku lakukan untuk membantu dia membiayai ibunya yang sakit juga sekolah   empat orang anaknya. Gajinya sebagai office boy dengan status pegawai tidak tetap tidak akan cukup membiayai keluarganya, apalagi manajemen selalu menolak pinjamannya. Sekarang aku sudah keluar tentu dia akan kebingungan memenuhi kebutuhannya. Beberapa saat aku berpikir mencari ide.

“Setiap hari pulang dari kantor kamu ke rumah saya, beres-beres rumah. Hari Sabtu kalau gak lembur kamu rapiin kebun. Saya gaji kamu mingguan. Mau ?” Tiba-tiba ide itu terlintas begitu saja.

“Alhamdulillah mau, pasti mau pak.”

“Ya sudah. Minggu depan mulai ya.” Wajahnya kembali bersinar dan aku keluar dari ruang kerja yang aku tempati selama lima tahun ini.

Saat aku menutup pintu ruangan Dian berdiri melihatku keluar, matanya menatapku aneh. Aku memberi anggukan kecil sebelum keluar dari pintu utama kantor itu. Aku resmi keluar dari perusahaan itu, ini adalah perusahaan ketiga, tapi baru kali ini aku keluar karena dipecat, yang lainnya mengundurkan diri, tapi aku sama sekali tidak menyesal karena meyakini sesuatu yang sangat prinsip, kejujuran.

Aku tersadar dari lamunanku, seseorang menyapaku dalam bahasa jepang yang sopan

“Sumimasen. Watashi no baggu no hoikuen wa doko ni arimasu ka ( Permisi. Dimana tempat penitipan untuk tas-tas saya )?” Seorang nenek dengan penampilan trendy kurang cocok untuk perempuan Jepang seusianya.

“Chokorēto-ten no mae ni wa, hoikuen no kauntā ga arimasu. Massugu susumu to ni-juu mētoru hodo hidari ni magarimasu (Di sana di depan toko coklat ada counter untuk penitipan, terus jalan lurus lalu belok ke kiri kira-kira dua puluh meter ).”

“Domo Arigatō (Terimakasih ).”

Aku mengangguk dan tersenyum tanda menerima terima kasihnya, hanya aku tidak habis pikir kenapa dia bertanya kepadaku padahal orang pasti tahu kalau aku bukan orang Jepang. Dari bentuk muka dan kulitku sudah bisa menduga kalau aku keturunan campuran. Sekitar sepuluh langkah menjauhiku kembali dia menengok dan menganggukan kepalanya, aku balas dengan anggukan juga. Benar-benar pagi yang aneh dan aku sedang menunggu keanehan apalagi hari ini.

Aku datang empat jam lebih awal dan memilih menunggu di bandara Kansai yang ramai ini, aku takut terlambat karena  kereta api JR Haruka selalu penuh di pagi hari. Biarlah menunggu sambil terkantuk-kantuk dari pada harus berlarian mengejar waktu dan meminta maaf setiap kali menerobos antrian di jalan maupun eskalator, capek juga setiap kali harus ber “sumimasen” atau “gomen” apalagi sambil berlari.

Aku kembali teringat teman-teman di perusahaan lamaku yang hampir tiap hari kirim berita kejadian di kantor, puncaknya kemarin. Mereka sedang dalam proses negosiasi pemutusan hubungan kerja dengan alasan efisiensi karena prestasi perusahaan menurun drastis setahun terakhir. Kasihan mereka. Setelah Sarno enam bulan lalu aku rekrut, sekarang mereka minta untuk ikut. Irena sudah sejak Sarno ikut aku berkali-kali telepon minta ikut. Sebenarnya aku tidak keberatan ada posisi-posisi yang memang aku butuhkan lagipula sudah tahu dan kenal mereka dalam kemampuan bekerja, tapi aku tidak sampai hati kalau harus menggembosi Dian. Dia akan sangat terpukul kalau aku lakukan itu, juga tidak ingin menyakiti hatinya, Dian tetap teman spesial untuk ku.

Lagi-lagi aku dikejutkan sepasang kekasih yang sedang ribut, mereka duduk tepat di belakangku. Sepertinya mereka orang Malaysia begitu aku dengar dari bahasa dan logat bicara mereka. Aku tidak tertarik mendengarkan keributan itu walaupun mengganggu, beberapa orang pindah dari kursi-kursi mereka. Aku malas untuk pindah aku suka spot ini, bisa melihat lewat kaca di depanku aktifitas mondar-mandir pesawat dan crew ground handling. Supaya tidak terganggu aku pakai headset dan kunaikan volumenya, beres. Lagu Queen cocok untuk suasana pagi ini untuk memompa semangat.

“Hei…..” Aku berteriak protes badanku terjengkang ke depan, kursi yang kududuki berantakan, aku membalik badan. Dua orang itu memandangku serius.

“What’s wrong with you guys.” Aku merentangkan dua tanganku protes tak terima

“Awak bermula.” Laki-laki Malaysia itu meluruskan jari telunjuknya ke muka ku. Aku bengong.

“Ini orang sakit jiwa.” Kataku dalam hati, tapi aku malas memperpanjang masalah aku ambil tasku dan berniat pindah dari situ.

“Michael…you don’t even care about me anymore ?” Si perempuan terlihat mengiba padaku. Aku  terpaku, tambah bingung, drama apalagi ?

“See. Dia sudah tak suka awak lagi.” Teman laki-lakinya senang, dia tersenyum-senyum.

“How dare you do this to me Michael.” Perempuan ini serius menatap mataku, matanya indah dan wajahnya juga cantik khas melayu. Timbul juga pikiran jahilku untuk mengaku Michael, tapi bisikan lain mengatakan berbeda.

“Who is Michael. Nama saya Tegar saya orang Indonesia. Kalian salah orang.”

“Hah…” Suara mereka bersamaan

“Betul awak bukan Michael ?” Perempuan itu tak  percaya

“Michael…Michael. Saha tah jelma. Tuh itu bahasa sunda. Michael bisa bahasa sunda ?” Aku keluarkan logat asliku Ciamis.

“How come. Awak mirip sekali.” Masih dengan nada curiga

“Nih paspor saya.” Aku tunjukan pada mereka dan kedua-duanya kaget dan mengangguk-angguk.

“Maaf. Kami khilaf pak cik.” Aku pun geleng-geleng kepala sambil mengangkat tangan kananku dengan lima jari dibentang. Mereka kemudian pergi dan aku bisa duduk tenang  lagi.

Aku termenung, ternyata ada yang mirip aku, bikin penasaran. Padahal selama ini aku merasa yakin tidak ada orang yang mirip. Bagaimana bisa mamaku asli Ciamis dan papaku Rusia Utara. Susah kalau ada yang mirip kecuali kalau aku punya kakak atau adik, padahal aku anak tunggal, atau jangan-jangan papa punya anak lagi selain dari mamaku. Aku terperanjat dan berdiri cepat-cepat aku telpon papa.

“Kenapa Gar ? kamu sudah pulang ?” Tanya papa  di ujung sana

“Belum pa. Aku mau tanya tapi papa jangan marah ya.”

“Iya kenapa ?”

“Papa punya anak lain selain aku ?”

“Heh jangan kurang ajar kamu.” Nada papa meninggi, aku ciut juga sudah lama tidak mendengar papa marah.

“Tadi kan aku sudah bilang jangan marah pa.”

“Kamu itu ngomong apa, gak ada. Anak papa cuma kamu.”

“Adik papa yang pilot itu punya anak gak ?”

“Wah papa sudah lama gak ketemu dia, kenapa ?”

“Ada orang mengira aku ini Michael.”

“Michael ? Itu nama sepupumu di Georgia umurnya dua tahun di bawah kamu.”

“Ohhh… Ok pa. Makasih ya.”

“Kamu dimana sekarang ?”

“Di Airport Kansai pa. Nunggu boarding pulang.”

“Oke. Hati-hati besok malam jangan lupa pulang ke Bandung dan bawa calon istrimu.”

“Papa sama mama itu terus topiknya.”

“Pokoknya bawa.” Telepon ditutup

Aku tersenyum-senyum ternyata perempuan tadi tidak salah, pantas dia ngotot ternyata Michael itu sepupuku. Seperti apa ya Michael, tiga bulan lagi ada jadwal bisnis ke Moscow aku akan sempatkan mampir ke Georgia. Rupanya ini kejadian aneh lainnya, mudah-mudahan ini yang terakhir.

Aku kembali memutar lagu sambil melihat pesawat hilir mudik, landing dan take off. Bandara Kansai adalah bandara tersibuk ketiga di Jepang setelah Haneda dan Narita di Tokyo. Management airport yang sangat rapi dan cepat, baik itu di landasan, back office maupun front office sangat jelas terlihat, semua tertata dengan teratur.

Kursi yang kududuki agak bergoyang mungkin ada orang lain duduk di kursi sebelah di deretan kursi yang terdiri lima dalam satu barisnya. Lama-kelaman goyangannya makin keras aku menengok ke kanan, tidak ada orang, lalu ke kiri. Aku hampir tak percaya apakah aku tidak sedang berhalusinasi.

“Dian ?!” Dia memandangku aneh, penampilannya bukan Dian yang aku kenal tegas sebagai Direktur Utama anak pemilik perusahaan besar perkapalan. Aku pindah duduk menyebelahi dia.

“Apa kabar ? Lagi bisnis atau liburan ?” Dia diam sambil memandangiku tanpa berkedip.

“Tegar, maafin aku ya.” Aku kaget dan bingung

“Eh…Maaf untuk apa. Kamu gak ada salah apa-apa.”

“Aku benar-benar salah nilai kamu.” Dia mulai menangis

“Ok…ok… permintaan maaf diterima. Ada apa Di ?” Dia masih menangis, aku lemas kalau melihat perempuan menangis benar-benar ini titik lemahku. Entah, ini keanehan apalagi.

“Sehabis kamu pergi semua kacau, gak ada lagi yang kasih arah dan semua keputusan selalu salah. Papi marah karena aku mecat kamu. Sekarang perusahaan lagi susah Gar, udah enam bulan kita merah terus. Itu awalnya papi jadi sakit sampai sekarang.”

“Temen-temen sering telpon aku tapi gak ada yang kasih tau bapak sakit .” Aku memanggil bapak karena hubunganku dengan papi Dian sangat dekat.

“Memang kita rahasiain biar gak nambah beban psikologis.”

“Ok…ok…Dian. Apa yang bisa aku bantu ?” Dia malah nangis dan memeluk aku, aku coba hibur dia dengan memeluk dan mengusap-usap punggungnya memberi dia rasa aman dan tenang.

Setelah dia mulai tenang dia perlahan berbisik.

“Kamu masih baik seperti dulu Gar, selalu perhatian dan menolong. Aku kehilangan kamu, aku gak ngerti harus mulai dari mana benahin semua ini. Aku bingung, harus ngurus papi yang sakit. Kamu mau ya gantiin posisiku.”

“Kamu yakin aku mampu ?”

“Cuma kamu, aku yakin papi juga punya pendapat yang sama.”

Aku diam beberapa saat berpikir keras karena aku sendiri harus menjalankan usahaku dan sekarang sedang membutuhkan konsentrasi dan perhatian. Beberapa klienku di Jepang sedang dalam tahapan investasi awal. Di lain pihak aku tidak mungkin tega membiarkan Dian menghadapi masalah rumit sendirian.

“Baik Di. Nanti kita bicara detailnya. Kamu tenang dulu. Papimu siapa yang jaga ?”

“Mami sama om Firman gantian juga sepupu ku. Aku harus cari kamu, makanya aku nyusul kamu. Aku minta paksa info flight kamu sama sekretarismu.” Aku senyum mendengar kata paksa, karena pasti tidak akan diberi tanpa itu.

“Kapan balik  ke Jakarta ?” Aku bertanya dan dia tersenyum

“Ya bareng kamu lah, duduk di sebelahmu.” Rasaku yang lama itu datang lagi, rasa yang dulu ada setiap saat bersama Dian, hanya sekarang aku tak segugup dulu.

“Kamu mau makan dulu sebelum boarding?” Aku tawarkan karena dia terlihat lemas.

“Gak nanti aja di pesawat, di sini lebih nyaman.”

“Mau aku ambilin kopi ?”

“Gak usah air putih ini aja, aku masih pengen deket kamu.” Dia menunjukan botol yang digenggamnya.

“Dari tadi juga kita udah deket.” Aku mencoba mengalihkan perhatiannya tapi dia malah jadi serius.

“Kamu tahu waktu aku lakuin itu ke kamu aku berharap kamu marah dan tanya sebabnya, kamu malah diam dan pergi. Aku nyesel tau Gar. Aku gak bisa tidur berhari-hari. Apalagi kamu sama sekali gak pernah kasih kabar, padahal aku pengen banget ketemu kamu.”

Dian menyandarkan kepalanya di bahuku, ingin aku bilang kalau aku juga rindu kamu tapi mulutku terkunci ada sesuatu yang membuat aku ragu untuk mengatakannya.

“Sekarang kan kita udah ketemu.” Aku mencoba menghibur lagi

“Sebenernya kamu dulu itu memang pacaran sama Sasha ?”

“Gak pernah, kalau deket iya, Sasha kan udah punya pacar.”

“Tapi kalian deket banget kemana-mana berdua.”

“Kamu cemburu ?” Dian menunduk menjawab lirih

“Iya.”

“Kenapa waktu itu gak tanya malah pecat Sasha yang gak salah apa-apa.”

“Aku udah ketemu Sasha dan minta maaf.”

“Oh ya. Kok kamu jadi berubah banget Di.”

“Semenjak kamu tinggal, aku belajar peka sama semua di sekelilingku, aku coba terus walaupun kadang berat tapi aku gak putus asa. Aku mau jadi orang yang lebih baik setiap hari.” Aku tertegun tidak percaya hal aneh ini terjadi pada hari ini. Dulu aku suka dan sayang Dian tapi dia terlalu manja dan mau menang sendiri, tidak boleh ada yang lebih dari dia. Dia selalu ingin dipuji walaupun itu pujian palsu.

Sekarang Dian berubah seratus delapan puluh derajat, jujur aku makin suka dan sayang dia. Dia lebih tampil apa adanya, terlihat dari cara berpakaiannya yang sederhana, tidak lagi memakai high heels sekarang dia pakai sepatu lari yang sederhana. Dia sudah bisa pakai jeans lusuh dan kaos santai walaupun aku tahu harga kaos itu mahal. Make up di wajahnya juga sederhana hanya bedak dan lipstik warna yang natural. Dia jauh lebih cantik berpenampilan seperti ini menurutku, walaupun tanpa make up pun sungguh Dian tetap cantik. Dian adalah seorang gadis sampul majalah saat dia remaja berbagai penghargaan diraihnya.

“Jadi kita gimana Gar ?”

“Gimana ? Apanya ?”

“Kamu gimana, aku kan udah bilang aku kangen dan cemburu. Kamu ?”

“Iya kangen tapi kita udah ketemu. Cemburu, aku udah jelasin. Clear donk.”

“Bukan itu maksudku. Masak kamu gak ngerti sih.” Dian menunduk malu

“Ok kita serius sekarang.” Dian kontan memandangku tanpa berkedip, dan aku sedang mengumpulkan jurus-jurus ku.

“Dian dari pertama aku ketemu kamu, aku sudah suka kamu, tapi aku tau diri. Waktu kamu pecat aku, aku diam karena aku sayang kamu. Aku gak mungkin marah, walaupun aku gak bisa terima keputusanmu. Aku juga hampir gila harus jauh dari kamu, sama dengan kamu aku juga gak bisa tidur mikirin kamu, sampai sekarang.” Dian melihatku dengan pandangan anehnya sambil bulir-bulir air menetes dari matanya.

“Aku cinta kamu Dian.” Dia memelukku sambil menangis

“Tegar, aku juga sayang banget sama kamu, aku cinta kamu.”
Aku bawa dia dalam pelukanku dan kubelai-belai rambutnya yang lembut dan wangi, untungnya ini di Kansai, Jepang tidak ada orang yang protes berpelukan di tempat umum.

“Jadi kita resmi pacaran?” Tanya Dian semangat

“Pacaran ?”

“Kamu gimana sih.” Dian protes

“Sampai di Jakarta kita langsung ketemu papi dan mami kamu, aku mau lamar kamu. Malamnya kita ke Bandung, papa  dan mama ku memang sudah minta aku bawa calon istri.”

“Beneran ? Kita langsung nikah ?”

“Iya kita kan udah lama saling kenal. Gimana kamu setuju ?”

“Mau banget, papi bisa langsung sembuh kalau kamu bilang mau lamar aku.”

Suara panggilan boarding pesawat ANA air jurusan Jakarta sudah terdengar dalam bahasa Jepang dan kami berjalan bergandengan tangan kadang berpelukan menuju boarding gate.

Kursi deret lima di depan Applause Gate Shop dan Kokumin punya sejarah bagi kisah cintaku. Setiap kali aku, Dian atau berdua atau kami sekeluarga ke Osaka, selalu duduk satu jam di kursi itu. Kepada ketiga anak-anakku, aku ceritakan kisahku dengan mama mereka saat detik-detik  aku melamarnya di kursi itu.

Dua puluh tahun telah berlalu anak laki-laki sulungku  bercerita sepulang dia dari Jepang. Waktu dia duduk di kursi itu menunggu keberangkatan pesawatnya. Pagi-pagi dia ditanya nenek tua berpenampilan aneh lalu minta diantarkan ke toilet. Setelah itu dia di tampar gadis Jepang katanya dia meninggalkan gadis itu tanpa penjelasan, di sebelahnya berdiri seorang pemuda Jepang yang akhirnya pergi. Gadis itu minta maaf dan berterimakasih karena dia terhindar dari kejaran pemuda itu. Menjelang boarding seorang gadis Swedia duduk di sebelahnya dan mereka berkenalan dan rupanya mereka saling suka. Sekarang gadis itu ada di rumahku dan  hubungan mereka berdua serius menuju pernikahan.

Aku dan anak laki-laki ku mengalami pengalaman yang hampir sama di hari aneh penuh kejutan di kursi deret lima di Kansai Airport Jepang.

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *