Lawu Aku Dia 10

Malam itu di tepi danau Al Qahtaniah semilir angin  membawa kelembaban air danau menurunkan suhu yang panas di padang pasir. Suasana hening, sepi, di kejauhan bulan purnama nan indah memandang, memberikan penerangan ke bumi, sementara lebih jauh di atas bintang-bintang gemerlapan menghiasi langit  bak lukisan   indah kemilau. Masih di langit hitam bersih tidak berawan, bintang jatuh melintas kesana kemari, sungguh indah pemandangan malam.

Di tempat itu, Hendra menunggu dengan sabar dalam jeep, kontaknya memberikan lokasi itu sebagai tempat pertemuan dengan buronnya melalui sebuah transaksi senjata. Sudah  dua jam dia menunggu. Lamunannya melambung jauh ke jurang macan di gunung Lawu, walaupun dia sudah merelakan Tika namun kenangan-kenangan indah susah dilupakan, setulusnya dia serahkan pada pemilik jagat raya apapun nasibnya kelak. Rasa sayangnya belum pernah luntur terbukti pada tiap doa yang dia panjatkan tidak pernah  lupa menyisipkan deretan kata untuk Tika agar selalu sehat dan bahagia dalam lindungannya.

Bulan lalu setelah beberapa hari menjenguk pakde yai Mus di Selokambang, dia menemui kakak-kakak angkatnya tangis bahagia keluarga almarhum pak Kasmin mendapati adik angkat mereka ternyata masih hidup. Mereka semua berkumpul di rumah Agung di Bandung melepas rindu.

“Om sekarang tinggal dimana ?” Tanya Dewi anak sulung Agung

“Di Selokambang.” Hendra terpaksa harus mengatakan  padahal dia tidak pernah tinggal menetap di satu tempat.

“Jauh banget sih Om. Rumah om yang di Kebalen masih ada kan ?” Heru anak sulung Rini menimpali, Hendra tersenyum mengangguk.

“Emang kamu tau Selokambang dimana ?” Dewi penasaran

“Selokambang ? “ Tanya Heru memastikan Dewi mengangguk

“Tau lah. Aku pernah disuruh ayah ke sana, habis turun dari Semeru.” Hendra kaget sekaligus senang

“Kamu sudah ke Semeru ?” Tanya Dewi

“Udah lah mbak, aku kan pingin kaya om, naik gunung itu asik.”

“Kapan kamu ke sana ?” Tanya Hendra

“Bulan Januari om pas liburan.”

“Sama siapa kamu ke sana ?”

“Sama temen-temen sekolah, ikut klub pecinta alam .” Hendra tersenyum bangga pada ponakannya itu.

“Kamu disuruh pakde ke Selokambang untuk apa ?” Dewi penasaran

“Oh… Ayah titip surat untuk eyang yai.”

“Berapa lama kamu di Selokambang ?” Kembali Hendra bertanya

“Dua hari, asik di sana. Udaranya dingin pemandangannya indah, teman-teman di pesantren baik-baik semua. Cuma sepi banget.”

“Om dulu tinggal di sana ya ?”Dewi kembali bertanya

“Iya Om dulu besar di sana.”

“Eyang yai cerita, om yang bangun pesantren itu sekarang jadi bagus, bersih dan rapi.” Heru antusias menceritakannya.

“Podo asik ngobrol gak ajak-ajak.” Ayu ikut bergabung

“Lagi cerita Selokambang tante, Heru udah ke sana. Aku jadi pingin juga.” Kata Dewi

“Nanti kalau libur kamu bisa ke sana, atau lebaran tahun depan kita semua kumpul disana.”

“Setuju tant, aku juga kangen sama eyang.” Kata Heru

“Tir kamu matur pakde ya.”

“Siap mbak.”

“Perhatian semua…lebaran tahun depan semua kumpul di Selokambang ya. Kita lebaran di sana.” Ayu mengumumkan rencana itu.

“Asiiik….”

“Okeh….”

“Pasti……”

“Selokambang itu dimana ?” Tanya Karin anak perempuan Rini.

“Di lereng gunung Semeru, tempatnya dingin dan pemandangannya indah, di sebelah rumah eyang itu pesantren dan sekolah dulu om Tirto tinggal dan belajar di sana.” Rini menjelaskan pada anaknya

“Oh gitu, boleh gak aku belajar di sana juga bu ? Biar bisa kayak om Tirto.”

“Bagus kalau kamu mau tinggal di sana, makanya lebaran nanti kamu bisa lihat sendiri.”

“Om dulu belajar apa aja di sana ?” Karin sangat antusias

“Selain belajar ilmu agama di pesantren, kita juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah setara SD, Tsanawiyah setara SMP dan Aliyah setara SMA. Pelajarannya biasa seperti umumnya sekolah negeri hanya pelajaran agama Islam lebih banyak.”

“Teman-teman di sana baik-baik om ?”

“Asik punya Rin, aku punya banyak teman di sana padahal cuma dua hari.” Heru promosi

“Nanti kalau kita di sana kamu bisa rasakan sendiri, habis itu kamu putusin.” Hendra menjelaskan pada Karin

“Iya om. Aku bener pingin kayak om.” Hendra memeluk Karin yang lain pun ikut berpelukan.
Dari kejauhan ayah dan ibu mereka saling pandang dan terharu melihat kasih sayang anak-anak mereka pada pamannya, itu karena pamannya juga sangat sayang mereka.

“Kapan kamu ajak lagi Tika ketemu kita semua ?” Mas Agung membuka pembicaraan setelah anak-anak mereka pergi ke kamar.

“Iya Tirto, sudah waktunya kamu berumah tangga masak mau plesiran terus ?” Hendra tersenyum

“Kapan ?” Rini mendesak

“Apalagi yang kamu tunggu. Penghasilanmu sudah lebih dari cukup. Kami semua sudah nunggu untuk pergi melamar Tika.” Rini paling ngotot

“Aku yo kepingin mas, mbak tapi biarlah Allah yang memutuskan, aku manut.”

“Lah metu tenan ajarane pakde yai, skak mat kita semua kalau itu alibinya.” kata Agung

“Tirto bener, aku bantu doa mohon pada Allah semoga dipercepat perjodohan mereka.” Ayu selalu membela adiknya sejak mereka kecil.

“Amin.” Berbarengan mereka menjawab

“Kita sekeluarga sepakat dalam setiap doa untuk memohon untuk Tika dan Tirto.” Mas Agung sebagai yang paling tua memberi amanah.

“Pakde yai sudah tau tentang Tika ?” tanya Mas Dody

“Pak de Yai hampir tau semua yang aku alami, setiap aku pulang ke sana satu per satu beliau tanya. Titis, seolah beliau ada dalam tubuhku kemanapun aku pergi.”

“Subahanallah.”

“Jadi beliau juga tanya soal Tika ?”

“Iyo mbak.”

“Terus kamu jawab apa ?” Ayu penasaran

“Monggo kersane gusti Allah, apapun yang diberikan aku syukuri.”

“Tirto…..” Ayu tidak tahan lagi, dipeluknya adiknya sambil menangis.

“Aku mau konfirmasi Tirto. Salah satu teman di kantor, anaknya teman dekat Tika. Ada khabar Tika mau menikah awal tahun depan. Mudah-mudahan ini salah.” Tanya Dody disela tangis Ayu.

“Loh…” Rini kaget dan protes suaminya tidak pernah menceritakan.

“Bener Tir ?” Kembali Ayu penasaran

“Soal menikah aku gak tau, tapi kalau dia tunangan memang betul. Jangan salahkan Tika, dia pikir aku sudah mati. Dia harus menjalani kehidupannya.” Jelas Hendra

“Trus kowe piye ?” Mbak Rini tidak terima adiknya kecewa.

“Yo gak opo-opo. Aku masih punya keluarga ini dan keluarga besar Selokambang.”

Semua terdiam, Apa yang dilakukan Hendra sudah jauh melampaui mereka semua dia sudah melepaskan kepentingan pribadinya. Tentu pakde yai Mustofa bisa tersenyum bahagia karena anak yang dibimbingnya telah sukses menjalani berbagai ujian.

Mereka semua bertekat untuk tetap mendoakan Tika dan Hendra, biarlah Tuhan yang menjadi penentunya. Sebenarnya bukan hanya mereka, pakde Mus dan santri-santri di Selokambang juga selalu mendoakan Hendra, begitu juga semua orang yang dibantu Hendra dan teman-teman  Hendra mereka berdoa untuknya.

“Tika masih di Manchaster ? Kapan kamu terakhir ketemu ?”

“Masih. Aku ketemu tahun lalu di Lawu, berdua naik gunung seperti dulu.”

“Kalian udah jalan sama-sama lagi ? trus dia gimana ?” Hendra tersenyum

“Wis… sekarang yang kita butuhkan doa mohon pada Allah. Urusan mereka biarkan diselesaikan berdua saja.” Mas Dody menyudahi tanya jawab.

“Siap komandan.”

“Ha…ha…ha…” Mereka tertawa bersama

“Dik, rumahmu yang di Kebalen sudah dijual ?” Tanya Nasrul suami Ayu

“Masih ada mas gak saya jual, ada yang ngurus untuk bersih-bersih.”

“Kami akan pindah ke Jakarta. Aku dipindah ke kantor pusat. Jadi…”

“Wis monggo rumah itu buat mbak Ayu dan mas Nasrul sekeluarga gak usah sungkan.”

“Maksud mas Nasrul…” Ayu berusaha menjelaskan.

“Yu… Tirto wis ngomong toh. Rumah itu untuk kalian, jangan kecewakan dia.” Agung mengingatkan Ayu kebiasaan adik bungsunya.

Seketika Ayu memeluk Hendra entah apa dibenak adiknya itu sehingga sekarang dia bisa melepaskan tekanan kebutuhan keluarganya. Mereka sedang kebingungan mencari tempat tinggal, harga sewa rumah di Jakarta sangat mahal apalagi kalau harus beli tentu mereka tidak mampu. Nasrul pun masih bengong tidak percaya, begitu mudahnya Hendra membuat keputusan untuk masalah yang sangat besar, harga rumah itu tentu mahal sekali, tapi kemudian dia sadar Hendra sudah melampaui batasan kebutuhan materi. Dalam hati dia teguhkan untuk selalu mendoakan Hendra.

“Nanti urusan administrasi surat-surat biar diurus Adam ya mbak. Mas gak usah repot-repot serahkan sama Adam aja, juga kalau mau pindahan atau renovasi bilang sama dia.” Ayu masih menangis dia masih ingat betul semenjak ibunya masih hidup adiknya itu selalu menjadi tulang punggung keluarga mereka, sampai sekarangpun masih tidak berubah.

“Terus kamu tinggal dimana, di rumah kami aja ya.” Dody menawarkan sekalian dia mencari teman main catur.

“Terima kasih mas, aku bisa di apartemenku di Kuningan mas.” Dody tersenyum walaupun dia agak kecewa karena masih banyak yang dia ingin bicarakan dengan Hendra.

“Dekat kantor ya.”

“Iya mas tinggal jalan kaki.” Hendra melanjutkan dengan minta perhatian keluarga lalu menyampaikan sesuatu.

“Kebetulan kita semua kumpul aku mau matur. Rumah bapak yang di Tawangmangu yang dulu dibeli pak carik, aku susuki (beli), sekarang sudah selesai direnovasi jadi kalau kita mau pulang ke Tawangmangu ada tempat untuk tinggal.” Keluarga inti pak Kasmin saling pandang, tak pernah terlintas di pikiran mereka untuk membeli lagi rumah itu.

“Bener Tir ?” Rini terkejut

“Kapan ?”

“Iyo mbak, tahun lalu. Kebetulan mereka lagi butuh  pak carik gerah (sakit).”

“Alhamdulillah.” Agung bersyukur diberi adik yang begitu baik hatinya, tentu pak Kasmin tersenyum bahagia di sana memberikan mereka Hendra yang sangat sayang pada keluarga.

 

Suara mobil terdengar diantara sunyi, Hendra tersadar dari lamunannya kemudian mengamati keadaan sekitar. Mobil berhenti sekitar lima ratus meter dari tempat Hendra, menunggu isyarat, Hendra menyalakan lampu jeep nya dua kali dan klakson satu kali. Mobil itu mendekat tiga orang turun, salah satunya mirip buronan yang dicarinya. Kontaknya tidak ada bersama mereka.

“Do you bring the money ?”

“Show the stuff.” Hendra memandang tajam pada si buron

“No, you first.”

“No deal.” Hendra bersikukuh dan bersiap naik ke jeep nya

“Wait !” Kata orang itu Hendra mengangkat bahunya

“Lets do it same time.”

“Fair.” Hendra ke belakang jeep mengambil tas ransel dia sadar kalau ketiga orang itu mulai menyiapkan dirii dan senjata mereka, dengan tenang dia kembali ke tempat semula.

Mereka membuat formasi mengepung dengan si buron berada di tengah, masing-masing sudah mengokang senjata api otomatis hanya si buron yang menggunakan pistol desert eagle yang tersohor. Begitu juga Hendra sudah menggengam pistol makarov dibalik tas yang dipegang tangan kirinya.

Mereka saling mencari waktu yang tepat, nampaknya sudah tidak mungkin dilakukan dialog, memang bukan itu tujuan Hendra. Sambil menodongkan senjata mereka si buron berkata pelan

“Throw the bag.” Hendra tersenyum

“You have to take it from me.”

Orang berkafayaeh di sebelah kanan bergerak mendekat, sampai kira-kira jarak dua meter dari Hendra tiba-tiba Hendra maju menyambutnya dan dari dalam tanah bermunculan orang-orang dengan senjata lengkap. Si buron tidak sempat menghindar di belakang kepalanya menempel ujung laras senjata api. Mereka menyerah, Hendra menghampiri si buron dan mengamati lekat-lekat. Tiba-tiba Hendra menarik tangan kanan buron itu dan menyingkap lengan bajunya, orang itu bingung untuk apa lawannya  melakukan itu.

“Gua pikir lu udah mati  di Tawangmangu.” Hendra memastikan bekas luka orang itu.

“Indo. Siapa lu ?”

“Villa Tawangmangu tahun 85. Lu Hasan kan !” Hendra berbisik di telinga Hasan.

“يمكنك ربطهم ، شخصين آخرين يمكنك أن تفقد على الحدود. أحضرت شخصين مع هذا الشخص (Kalian ikat mereka, dua orang itu boleh kalian lepas di perbatasan. Dua orang ikut saya bawa orang ini)”. Hendra memberi perintah.

Hasan berusaha mengingat-ingat tapi sama sekali dia tidak pernah mengenal Hendra, dia berpikir  lagi mengapa Hendra melihat bekas luka di pergelangan tangannya.

“Lu yang dulu bantuin dan bawa cewek itu lari. Iya gue inget sekarang.” Hendra hanya tersenyum.

“Gue berani bayar berapa aja, tolong lepasin.”

“Lu pikir gue siapa,  punya apa lagi ?”

Hasan sedikit bingung dia sukar mencari akal atau hal lain yang bisa dijual saat itu.

“Gue gak ngerti musti gimana tapi jangan balikin gue ke Indo. Abis gue.”

“Lu pikir dulu apa yang lu punya.”

“Cewek mau, gue punya yang cantik-cantik.”

“Sialan lu pikir gue germo.” Hendra sewot

“Gimana mau loh ?”

“Gue butuh informasi, semua jaringan lu, temen-temen, cara operasi, asal duit dan siapa aja orang-orang gede yang ikut main. Detail !!!.”

“Berat bos, habis gue kalau buka semua.”

“Cuma buat gue gak ada orang lain yang bakal tau. Lu mau kerja ama gue ?”

“Kerja dimana ?”

“Bakal pindah-pindah tempat , orang-orang  taunya lu udah mati.”

“Gue gak gak bisa balik ke Indo.  ?”

“Gak, lu tunggu instruksi gue. Hidup lu gue tanggung, gak akan kurang dari yang lu dapet sebelum ini.”

“Gitu ya bos. Gimana ya.”

“Gue kasih lu mikir lima menit kalau gak cocok siap-siap buat gue balikin ke Indo.” Hasan memandang lekat-lekat wajah Hendra yang dingin dan datar, sangat sukar menebak isi pikirannya apalagi hatinya.

Dia menimbang-nimbang peluangnya untuk bertahan hidup, kalau menolak artinya pasti dia dibunuh karena terlalu banyak yang dia ketahui, melibatkan orang-orang besar dan berkuasa, mereka raja tega. Peluang hidupnya hanya kalau dia dilaporkan mati, bahkan untuk bersembunyi pun akan sukar, dia akan menjadi buron semua pihak.

“Gue nyerah bos, ikut aja apa mau lu.”

“Hmm, lu cerita sekarang detailnya.” Merasa sudah tidak punya harapan lagi dia mulai bercerita tentang organisasi mereka. Hendra diam-diam merekam keterangan Hasan.

“Di lingkaran aparat ada yang aktif terlibat.”

“Banyak.”

“Sebutin…” Hasan terdiam sebentar

“Gak usah takut, gue udah bilang gak ada orang lain yang tau cuma gue.”

Hasan mulai menceritakan satu persatu petinggi-petinggi yang terlibat dalam organisasi maupun operasi pesanan. Hendra agak kaget Hasan menyebut beberapa nama yang amat dihormatinya, tak ingin mengacaukan suasana dia diam mendengarkan.

“Kejadian di Tawangmangu dulu ada kaitannya sama mereka ?”

“Jelas ada kan semua perintah dari mereka.”

Hendra menduga sebenarnya urusan di villa Tawangmangu dulu itu belum semuanya selesai masih ada sisa-sisa pekerjaan yang belum tuntas, karena terbongkar dan kebetulan dia terlibat mereka menghentikan.
Dulu targetnya Tika. Sekarang Tika sudah aman karena dia bisa memonitor keberadaan dan aktifitasnya, ayah dan ibu Tika aman karena masih dilindungi oleh pengamanan profesional, mantan aset yang sudah pensiun, mereka mendirikan perusahan jasa keamanan. Juga mas Arif yang dia titipkan pada teman-temannya yang bergabung pada jasa keamanan itu.

Tinggal kakak Tika, Inna yang sekarang tinggal di Paris, suaminya diplomat bertugas di Paris disini titik lemahnya. Mereka tahu kalau Hasan dalam masalah maka kubu lawan harus dilemahkan dengan menyandera salah satu dari anggota mereka.

“Kapan operasi di Paris ?” Hendra bertanya mengagetkan Hasan dia enggan menjawab pikirnya mungkin orang ini coba-coba.

“Cepet sebelum gue berubah pikiran.” Hendra masih menunggu jawaban.

“Dua hari lagi.” Hasan kaget Hendra tahu operasi sangat rahasia itu.

“Lu harusnya ikut ?”

“Gak. Gue cuma diminta siapin aset.”

“Sudah siap ?”

“Kemarin mereka udah di sana.” Hendra terdiam dan berpikir, pasti akan berdampak pada keluarga Tika dan akhirnya pada Tika sendiri. Dia memang belum menarik garis merah menuntaskan kejadian di Tawangmangu yang banyak melibatkan orang-orang dalam kekuasaan.

Beberapa tahun terkakhir ini mulai terlihat gerakan bawah tanah untuk menumbangkan rezim berkuasa dan yang mengherankan adalah keikutsertaan lingkaran dalam kekuasaan. Banyak operasi-operasi lapangan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu tanpa koordinasi dengan pimpinan, termasuk penangkapan Hasan ini. Hendra sendiri menganggap Hasan adalah aset berharga yang akan dia butuhkan dan dia lebih memilih memanfaatkannya untuk kepentingan di kemudian hari.

“Gue butuh nama-nama orang yang lu kirim.”

“Iya…iya…tapi gue minta jaga bini sama anak gue di Yogya.” Hendra mengangaguk setuju.

Hasan mulai memberikan semua yang Hendra butuhkan dan Hendra menepati janjinya untuk mengurus Hasan juga keluarganya. Mulai hari itu Hassan menjadi bagian dari jaringan yang dibangun Hendra dia adalah aset yang sedang diinisiasi ulang.

 

Al Kiswah, 29 Juni 1994

Selesai shalat dzuhur Hendra menuju ke café dekat masjid menemui teman-temanya yang sudah menunggu. Seperti biasa mereka ngobrol tak menentu dan bercanda tertawa-tawa menghabiskan waktu setengah jam.
Hendra pamit pada mereka karena besok dia harus pulang, mereka saling bertukar alamat dan nomor telepon, Hendra janji untuk datang enam bulan lagi. Mereka saling berpelukan seolah mereka sudah lama berteman padahal mereka baru kenal beberapa hari lalu.

Teman-teman baru selalu menumbuhkan ide baru, dia berencana membeli tanah dan mendirikan usaha di kota itu.entah apa jenis usahanya nanti, Seperti di tempat lain, ini adalah langkah awalnya mendirikan usaha untuk membantu orang banyak.

Sebelum kembali ke rumah kosnya Hendra mampir ke toko besar yang menjual berbagai kebutuhan. Dia berbelanja untuk ibu pemilik rumah tempat dia menginap, berbagai kebutuhan dapur seperti tepung terigu, beras, minyak zaitun, telur, susu, butter, mentega dan masih banyak lainnya. Hendra minta diantar gerobak keledai untuk membawa belajaannya, banyak orang yang berpapasan memperhatikan belanja barang begitu banyak seolah akan ada musibah atau perang. Beberapa orang sempat bertanya tapi dijawab utuk persediaan ibunya yang susah ke pasar.

Sesampai di rumah penginapannya, Hendra membawa langsung ke dapur dibantu kusir gerobak.

“من أنت للتسوق (Kamu belanja untuk siapa) ?” Tanya Ibu pemilik rumah yang bernama Qamar.

“للأم ، بحيث يمكن للأم الانتهاء من اللوحة عبر غرزة في أقرب وقت ممكن (Untuk ibu, supaya ibu bisa menyelesaikan lukisan kristik secepatnya).” Ibu Qamar tertegun memandangai Hendra, perlahan air matanya meleleh. Entah bagaimana anak muda ini bisa tahu kalau hatinya sedang kalut dan tertekan. Firasatnya mengatakan Hendra ini bukan anak muda biasa, pertama kali dia bertemu saat datang menanyakan sewa kamar kos dia sudah merasa ada yang istimewa darinya.

“يجب أن أذهب إلى البيت الليلة ، انتهى عملي. أشكر الأم التي اهتمت بي هنا (Malam nanti saya harus pulang, urusan saya sudah selesai. Saya berterima kasih pada ibu yang sudah mengurus saya selama di sini).”

“لكن ألا تستأجر لشهر واحد؟ لقد دفعت مسبقاً؟ (Tapi bukannya kamu sewa untuk satu bulan ? Kamu kan sudah bayar di muka)?” Hendra mengerti tentu ibu Qamar berpikir untuk mengembalikan sisa uang sewanya tapi sudah habis dipakai.

“سأستأجر بالفعل للسنة القادمة ، بعد ستة أشهر سأعود مرة أخرى. هذا الإيجار لمدة عام(Saya justru akan menyewa untuk satu tahun ke depan, enam bulan nanti saya akan datang lagi. Ini uang sewa untuk setahun).” Hendra memberikan amplop berisi pound Syria dan dollar Amerika
Ibu Qamar tertegun, tak bisa menjawab dia masih belum percaya akan apa yang dialaminya saat itu.

“الإيجار كثير ولكنك لست هنا (Uang sewanya banyak sekali tapi kamu tidak tinggal di sini) ?”

“فكر بي هنا. إنها ثروة الأم (Anggap saja saya di sini. Itu rejeki ibu).”

Ibu Qamar tiba-tiba memeluk Hendra dia menangis sesenggukan. Hendra tahu ibu ini punya hutang yang harus dia cepat bayar, hutang kepada tetangganya yang juga sepupunya. Beberapa kali Hendra melihatnya datang menagih hutang dia mencuri dengar urusan hutang piutang itu. Terakhir sepupunya itu minta dilunasi akhir bulan atau minta ibu Qamar menjual rumahnya. Dia terpaksa berhutang untuk membiayai kuliah anak laki-lakinya di kedokteran Univeritas Damaskus.

“يمكنك أن تأتي وقتما تشاء ( Kamu boleh datang kapan pun kamu suka),”

“شكرا لك يا أمي. ذهبت إلى الغرفة أولاً ( Baik ibu terima kasih. Saya ke kamar dulu).”

“نعم يا صغيري ( Iya nak).” Hendra naik menuju kamarnya.

Hendra kaget saat membuka pintu kamarnya anak gadis bu Qamar sedang duduk di kursi menghadap jendela.

“Sorry. May I ?” Hendra menegur

“This used to be my bedroom before I moved to Brussel. Do you mind ?” Hendra agak kaget karena dia juga malam ini akan terbang ke Brussels

“Oh…No I don’t, but I need to pack my stuff.” Gadis itu hanya tersenyum manis.

“Rasha.” Gadis itu menjulurkan tangan kanannya

“Hendra.” Hendra menyambut jabatan tangannya sedikit berdebar.

“What time is your flight ?

“Nine fifty tonight”

“Really ?”

“Where are you going ?”

“Brussels.”

“We are in the same flight !”

“Oh what a coincidence.”

“We can go together.” Rasha menawarkan

“Okay. Have you finished packing ?”

“No need.”

“I need to pack.”

“I heard you will be back in six month right. Better leave them here.” Rasha mencari jaminan agar bisa bertemu Hendra lagi.

“Great. Thanks.”

“By the way thank you for what you did to my mom. I will find way to pay it back, I need some time.”

“No…Rasha, no need. It is your mom’s fortune don’t ever take it back.” Mata Rasha berkaca-kaca,

” Laki-laki ini benar-benar berhati mulia.”

“Once again, thanks Hendra.”

“It’s ok.”

“What time will we leave for Damascus ?” Hendra bertanya

“Four and arrive six.”

“We still have plenty of time then.”

“Lunch is ready smell my mom preparing some dish for us”

“Go first I’ll go down after finish.” Hendra menaruh sebagian besar pakaiannya di lemari dan hanya memasukan jeans dan kaos di backpacknya, sementara Rasha turun menemui ibunya.

“اين انت Dari mana kamu ?”

“الدردشة مع هندرا Ngobrol dengan Hendra.”

“في الغرفة Di kamar ?”

“نعم ، في غرفتي Iya, di kamar ku.”

“أنت لست مؤدبًا. أين يمكن لفتاة دخول غرفة الرجل Kamu gak sopan. Mana boleh gadis masuk ke kamar laki-laki.”

“نعم يا سيدتي ، لكنه مهذب ولطيف جداً Iya bu tapi dia sopan dan baik sekali.”

“أنا أعلم ، ولكن إذا رأينا من قبل الناس يمكن أن يكون مشكلة Ibu tahu tapi kalau dilihat orang bisa jadi masalah.”

“لا شيء ينظر إليه. على أي حال مجرد الدردشة Gak ada yang lihat. Lagi pula hanya ngobrol.”

“أنت ، إذا أعطيت النصيحة ، يجادل الآباء دائمًا Kamu kalau dikasih nasihat orang tua selalu membantah.”

“الأم. هيندرا وسيم وقلبه لطيف جدا Ibu. Hendra itu tampan dan hatinya baik sekali ya.”

“نعم ، أمي حقا يحبها Iya ibu benar-benar sayang dia.”

“يا امي أنا أحبه! من بين كل الرجال الذين قابلتهم هذه المرة أشعر حقا بالحب Ih ibu. Aku yang sayang dia ! Dari semua laki-laki yang pernah aku kenal baru kali ini aku benar-benar merasakan jatuh cinta.”

“ما هو صديقك الإيطالي؟  Pacarmu yang orang Italy itu gimana ?”

“أنا لا أواعد بعد هندرا هو خاص جدا  Aku belum pacaran kok. Hendra sangat spesial.”

“كنت حقا تقع في الحب  Kamu benar-benar jatuh cinta.”

“يبدو مثل سيدتي حدث ذلك أننا صعدنا على نفس الرحلة حتى نتمكن من الذهاب معا Sepertinya begitu bu. Kebetulan malam ini kami naik penerbangan yang sama jadi bisa bareng.”

“إنشاء إلهك متطابق  Insha Allah kalian berjodoh.”

“آمين  Amin.”

Tak lama kemudian Hendra turun dan menuju meja makan, Ibu Qamar, Rasha dan sepupu perempuan Rasha sudah menunggu.

“آسف لفترة طويلة كان عليّ أن أرد على الهاتف أولاً Maaf agak lama saya harus menjawab telepon dulu.”

“دعونا نأكل Ayo kita makan.” Hendra mengangkat kedua tangannya lalu mengucapkan doa makan.

“يا بني ، أنت متدين جداً ولطيف باللغة العربية ، تتعلم من أين Nak kamu begitu taat beragama dan fasih berbahasa Arab, belajar dari mana ?” Bu Qamar bertanya dengan sungguh-sungguh, Hendra tersenyum.

““منذ أن كنت طفلاً ، كنت أعيش في مدرسة داخلية إسلامية (مدرسة للتعليم مع التعاليم الإسلامية) ، وقد تعلمنا اللغة العربية والإنجليزية والألمانية واليابانية ، بالإضافة إلى المعرفة العلمية مثل معظم المدارس. عادة لدينا لكونها ثقافة الطلاب في المدارس الداخلية الإسلامية ذوبان ثقافتنا الأصلية ونحن يحدث العيش والعيش على جافاSemenjak kecil saya hidup di lingkungan pesantren ( sekolah untuk mendidik dengan ajaran Islam ) kami diajari bahasa Arab, Inggris, Jerman dan Jepang juga pengetahuan keilmuan seperti umumnya sekolah. Kebiasaan kami menjadi budaya murid-murid di pesantren melebur dengan budaya asli kami kebetulan kami tinggal dan hidup di Jawa.” Jelas Hendra.

“رائع حقا Hebat sekali.”

“كما قابلت الإندونيسيين في دمشق وأوروبا ولكنهم مختلفون عنك Aku juga pernah ketemu orang-orang Indonesia di Damascus dan di Eropa tapi mereka beda sama kamu.”

“إذا كنت تقابل الأصدقاء الذين يأتون من مركزنا المهني ، فإن الأمر نفسه تقريباً ، فمعلمونا يأتون من أجداد المعلمين أنفسهم ، ومعلموهم يأمرون بتعليم تلاميذ النبي أو  أحفاد النبي محمد (ص).Kalau kamu ketemu teman-teman yang berasal dari pesantren kami maka hampir sama, guru kami berasal dari eyang-eyang guru yang sama, dan guru-guru mereka mengurut sampai pada murid-murid sahabat Nabi atau keturunan Nabi Muhammad.”

Mereka masih membicarakan budaya dan Islam di Indonesia, Bu Qamar sangat kagum akan pengetahuan agama Hendra tentang Al Quran dan Hadif yang sangat mendalam. Didalam hatinya Rasha membatin kalu dia semakin yakin kalau Hendra adalah pilihannya, selain tampan, sopan, sederhana, hatinya baik dan bisa dipastikan dia adalah imam yang hebat. Dia masih punya waktu bersama Hendra sampai besok mudah-mudahan dia bisa membujuknya untuk tinggal lebih lama di Brussel.
Pukul empat taxi yang mereka pesan sudah menunggu di depan rumah, Rasha dan Hendra siap-siap berangkat. Ibu Qamar merasa berat melepas anak gadisnya juga Hendra yang sudah dianggap anaknya.

“الأم يجب أن تكون حذرا في المنزل ، في غضون أسبوعين أذهب للمنزل Ibu hati-hati di rumah, dua minggu lagi aku pulang.” Rasha memeluk dan mencium ibunya.

“كن حذرا يا فتى Hati-hati nak.” Kemudian Hendra menyalami Bu Qamar dengan mencium tangan kanannya, ibu itu sempat terkejut sebuah penghargaan yang tinggi untuknya, sambil berkata

“تعتني الأمهات بصحتهن وراحتهن عندما يشعرن بالتعب من العمل على اللوحات. أترك رقم هاتفي على مكتب الهاتف. إذا كنت بحاجة إلى أي شيء ، فلا تتردد Ibu jaga kesehatan dan istirahat kalau sudah lelah mengerjakan lukisan. Saya tinggalkan nomor telepon saya di meja telepon. Kalau ibu butuh apapun, jangan sungkan.” Bu Qamar mencium kedua pipi Hendra sambal menangis sedih.

“فتى جيد كن حذرا لا تنسى العودة إلى هنا Baik nak. Kamu hati-hati ya. Jangan lupa untuk pulang ke sini.”

“سيدتي جيدة Baik bu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam warrahmatulahi wabarokatuh.”

Rasha sebenarnya cemburu ibunya begitu sayang pada Hendra, belum pernah ibunya seperti itu bahkan pada adiknya sekalipun. Hendra punya naluri melindungi itu yang menyebabkan semua yang dekat dengannya merasa aman, Rasha bisa merasakan itu.

Mereka juga pamit pada sepupu Rasha dan meminta untuk menjaga bu Qamar, lalu berjalan menuju taxi yang sudah menunggu, Hendra seperti biasa menuju taxi lebih dulu membukakan pintu untuk Rasha.

“Thanks.” Rasha bisa merasakan ketulusan Hendra, dia membatin ini pasti yang dilakukan Hendra pada ibunya. Mereka melambaikan tangan saat taxi mulai berangkat.

“You are very nice to my mom ”

“Your mom love both of you very much, she has golden hard, patient and diligent .”

“Do you do this to others like my mom  ?” Hendra tersenyum.

“Means you have many moms who love you  ?” Kembali Hendra menunduk tak bias menjawab, Rasha memandang Hendra serius dalam hatinya dia berkata.

“Hendra ini pemalu sekali juga rendah hati.” Masih memandangi Hendra

“Uh ganteng sekali, bibir yang seksi, hidung yang menawan, bola mata coklat sejuk, ingin aku ada selalu dekat dia, nyaman dan aman.” Rasha lelap dalam lamunannya saat memandangi Hendra.

“May we stop for Maghrib pray.” Waktu menunjukan pukul empat lima belas menit masuk waktu shalat

“Sure I need to pray as well.” Supir taxi memarkir di masjid, mereka bertiga pun turun untuk shalat.

Mereka sampai di bandara pukul enam lewat mereka menuju check in counter, Hendra mengurus boarding mereka lalu mereka menuju counter imigrasi selanjutnya mecari tempat untuk makan. Mereka makan malam di café sambil menunggu waktu boarding yang masih beberapa jam lagi.

“What do you prefer ?” Tanya Rasha.

“Fattoush, manoushi bread and hot tea, thanks”

“I want Tabbouleh and soda with ice.”

Sambil menikmati makan malam mereka mereka ngobrol santai .

“Hen, what do you do actually.”

“I am freelance reporter. How about you.”

“Photo model.”

“Wow terrific, soon you will become an artist.”

“No way.”

“Sure, you are pretty, attractive and smart.” Rasha benar-benar tersanjung dia senang sekali dipuji Hendra.

“I just started last year and only few months ago I got my first job. Really it is not easy.”

“Do you like your job ?” Rasha termenung sebentar, Hendra melihat keraguan di wajah cantik Rasha.

“How is your fattoush ?”

“Good. Your Tabbouleh ?” Rasha mengangsurkan sendoknya menyuapi Hendra.

“Delicious.” Hendra balik menyuapi Rasha.

“Hmmm.” Rasha menunjukan jempolnya

“Hen, how is Bali ? I really eiger to go there.”

“Bali is an amazing place, bring us perspective of live. Most of population is Hindu, Balinese Hindu a slightly different with Hindu in India. The natural scenery and local hospitality make Bali exquisite which not ever been found in other part of the world.”

“Wow definitely  I have to go there .”

“Let me know when you ready. Simply just prepare your passport and visa.”

“Really ?”

“Sure I will take you not only Bali, there are some place in Indonesia you need to see.” Rasha benar-benar senang, kemanapun kalau berdua dengan Hendra dia pasti suka.

“About photo model if there is other opportunity I might take it. You know limitedness I have.”

“Understand, what you prefer ?”

“I don’t know just copy yours to follow my destiny.”

“Insha allah.”

“Amin.” Rasha menitikan air matanya.

Panggilan boarding untuk penerbangan mereka sudah diumumkan , setelah Hendra membayar mereka menuju boarding gate. Rasha kaget ketika mereka masuk pesawat dan ternyata mereka duduk di kursi terdepan dia memang tidak sempat memembaca boarding passnya.

“How come they put us in business class, my ticket is economy.”

“Don’t know, lets enjoy.” Rasha curiga Hendra merubah tiketnya, tapi dia segera duduk karena sudah mulai ngantuk.

“How many days will you stay in Brussel ?” Hendra tersenyum

“The day after tomorrow I will leave.” Rasha ingin sekali ikut

“So soon why don’t you stay a week or two.” Hendra tersenyum

“I have schedule to catch.”

“Where will you stay ? Hotel ?”

“Yes.”

“There is hotel close to my apartment is walking distance.”

“Great let’s see.”

Rasha tidur selama perjalanan dari Damaskus ke Ankara sedangkan Hendra masih asik membaca buku.

“You don’t sleep ?” Hendra tersenyum sambil menunjukan bukunya.

“Where are we ?”

“Ankara. Go sleep next stop will be Wina.” Kantuknya tidak bisa ditahan, sebelum tidur dia melirik Hendra lalu memeluk lengan Hendra dan menyandarkan kepalanya di bahu Hendra. Hendra mengusap-usap rambut Rasha, bahagia dan nyaman begitu yang dirasakan Rasha.

Ketika mereka terbangun pesawat sedang landing di bandara Brussel, perjalanan Rasha kali ini benar-benar nyaman karena ada seseorang yang menjaganya. Perasaan ini tidak pernah ada dengan semua teman laki-lakinya, bahkan dengan pacarnya sekalipun. Sebelum turun dia merapihkan rambutnya, lalu mengikuti Hendra menuju garbarata, tasnya sudah dibawa Hendra.

Mereka berjalan santai di lorong menuju pintu keluar. Hendra melihat jam tangannya lalu mengajak shalat subuh. Musala terletak  di sebelah selatan di sudut ruang tunggu di samping toilet, Sebuah ruangan yang difungsi kan sebagai musala. Empat tahun lalu Hendra mengusahakan pengadaan musala itu pada otoritas bandara rupanya mendapat tanggapan baik.

Saat memasuki musala masih sepi, walaupun tidak terlalu besar musala itu cukup untuk empat baris shaf laki-laki dan empat baris shaf perempuan masing-masin baris bisa untuk sepuluh orang. Sebagai pembatas jamaah  laki-laki dengan perempuan terpasang penyekat portable terbuat dari kayu ramin dengan kaca buram maroko yang artistic. Dinding dan lantainya sangat bersih hampir tidak ada debu pada karpet Persia yang tebal itu, tentu karena dirawat dengan baik.

Hendra berwudlu di bagian laki-laki sedangkan Rasha di seberang dinding untuk perempuan, setelah selesai Hendra menuju ruang shalat, seseorang menyapanya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Orang itu mencium tangan, Hendra langsung memeluk dan mencium kedua pipinya.

“Sugeng mas Tirto.”

“Alhamdulilah pengestumu dik, mugo sampeyan ugo.”

“Subuh sek yuk.”

“Sebentar wudlu dulu.”

“Tak tunggu dik.”

Safar sahabatnya itu adik kelasnya di Selokambang, dia yang mengajaknya ke Brussels,  sekarang dia bekerja di Airport  itu sekaligus menjadi imam di musala. Safar yang asli Sumenep sangat berterimakasih pada Hendra mereka selalu menyempatkan untuk bertemu setiap kali Hendra ke Brussels pertemuan mereka selalu diawali di musala airport.

Hendra masuk musala lalu mendirikan shalat sunah, begitupun Rasha di bagian perempuan. Tak lama kemudian terdengar lantunan azan subuh, Rasha mengintip dari celah sekat terkesima mendengar suara merdu pujaan hatinya saat melantunkan tiap kata pada lafadz azan. Setelah selesai azan mulai banyak berdatangan jamaah shalat. Safar kemudian mengalunkan iqamah tidak semerdu suara Hendra tapi keduanya punya lafadz dan alunan nada yang sama, kemudian Safar mempersilahkan Hendra menjadi imam.

Selesai shalat dan membaca doa, surat al Quran, tasbih, tahmid dan takbir seta salawat Hendra menyalami semua jamaah satu persatu, beberapa orang memeluknya dan saling bertanya kabar mereka. Sebuah hubungan yang ramah dan guyub di negeri yang jauh dari Indonesia seolah mereka sedang di Selokambang di lereng gunung Semeru.

Rasha sudah menunggu Hendra di kursi tunggu di luar musala, baru kali ini dia shalat begitu khusyuk dan mengakiri dengan banyak pujian untuk Nabi dan doa pada Allah. Bukan main tradisi islam di Indonesia begitu luhur, padat akan budaya damai, ramah dan penuh kehangatan. Hendra keluar dari musala bersama Safar berjalan menuju tempat Rasha duduk menunggu.

“Rasha this is Safar my best friend.” Safar mendahului untuk menyalami

“Hi, nice meeting you.”

“Mas aku harus balik ke kantor tadi ada yang aku tinggal.”

“Yo wis gak popo mene aku rene jam 10. Awakmu onok tah ?”

“Aku sampek jam sepoloh bengi.”

“Mene yo.” Safar menunduk pada Rasha pamit dan bergegas kembali ke kantornya.

“How many language do you speak ?” Hendra hanya tersenyum Rasha mulai terbiasa tidak mendapat jawaban langsung,hanya senyuman atau anggukan kepala

“Shall we ?” Rasha tersenyum lalu melingkarkan tangannya di lengan Hendra, mereka keluar dari airport mencari taxi.

“Rue de brasseurs s’il vous plaît (Tolong ke Jalan Brasseurs) .” Rasha meminta supir taxi

“exactement où (Tepatnya dimana) ?”

“Appartments Brasseurs.”

“Bon (Baik).”

Perjalanan dari airport ke apartemen Rasha memakan waktu dua puluh menit jalan raya masih sepi karena hari masih pagi baru jam lima. Setelah membayar taxi Hendra mengikuti Rasha menuju lantai tiga. Apartemen itu  kelihatan sudah tua bangunannya kuno dan agak kusam kurang terawat beberapa marmer di tangga sudah pecah. Ada lift tapi nampaknya tidak berfungsi.

Ukuran apartemen Rasha tidak luas hanya cukup untuk satu tempat tidur, satu meja kecil dengan satu kursi ,satu kamar mandi dan toilet, walaupun kecil tapi ditata rapi dan bersih, pasti ini didikan ibu Qamar yang hebat. Hendra kagum akan tata letak, dan ruangan yang sempit itu bisa dia efisiensikan sedemikian rupa sehingga barang-barangnya tidak betrumpuk.

“This is may cage. I already here for almost one year, my best afford.”

“Hey this is nice, you manage very well.”

“Thanks.”

“I think I need to find hotel room I saw one across the street.”

“Yes, but you can shower here and take a rest. I’ll walk you to the hotel.”

“No need. I am ok.”

“No I insist.” Hendra tidak sampai hati menolak, dia tersenyum

“Ok you win.” Rasha mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi gembira.

Hendra melihat pintu kamar mandi Rasha terbuat dari kaca buram, tapi dia tak ambil pusing. Dia membuka backpacknya mengambil peralatan mandi lalu menuju kamar mandi.

“I don’t have hot water.”

“No problem.”

Rasha melihat Hendra mandi dibenaknya dipenuhi berbagai khayalan, dia ingin mandi berdua dengan Hendra. Tentu akan menyenangkan sekali, mudah-mudahan Hendra adalah jodohnya. Dia akan panjatkan itu pada setiap doannya, karena dia yakin kali ini benar-benar jatuh cinta. Lima belas menit kemudian Hendra sudah selesai mandi badannya terasa segar. Rasha memperhatikan Hendra yang rambutnya masih basah ingin cepat-cepat memeluknya.

“Your turn ?” Rasha tersenyum mengambil handuk dan baju gantinya.

Hendra menyalakan televisi mencari chanel berita Paris, belum ada berita apa-apa mudah-mudah operasi rahasia itu belum dimulai atau dibatalkan. Hendra mengganti chanel tv belgia dan Jerman serta Itali semua masih aman. Tidak ada kegiatan yang menjadi pengalih perhatian.

Pintu diketuk dari luar, Hendra berjalan untuk membuka pintu. Seorang laki-laki muda sekitar dua puluh lima tahun berdiri kebingungan melihat Hendra.

“Désolé pour qui (Maaf, cari siapa) ?” Hendra bertanya

“Qui es-tu (Kamu siapa) ? Rasha est là (Rahsa ada) ?” Melihat dari gaya dan penampilannya pasti ini anak Itali.

“Rasha, someone looking for you (ada orang cari kamu).” Orang itu nyelonong masuk, Hendra sudah akan menariknya tapi Rasha sudah keluar dari kamar mandi.

“Sim…quoi de neuf, vous êtes tôt ici ( Sim,,ngapain kamu pagi-pagi kesini) !” Rasha kelihatan kurang suka

“Aimer, qui est cette personne (sayang siapa orang ini) ?”

“Hendra. mon meilleur ami. Hen, c’est Simone. (Hendra.sahabatku. Hen, ini Simone).” Hendra melambaikan tangan lalu meneruskan melihat berita di TV dia tahu Simone tidak suka melihat dia ada di situ matanya menunjukan dia cemburu. Hendra bertingkah seolah-olah tidak tahu, Rasha juga risih dia ingin Simone cepat pergi.

“Combien de temps est-il ici (Berapa lama dia di sini) ?”

“Aucune de vos affaires (Bukan urusanmu).”

“Tout dans cette pièce est mon affaire (Segala sesuatu di ruangan ini adalah urusanku).”

“Si vous ne souhaitez pas aider, je vous rembourserai (Kalau kamu gak rela menolong, akan  saya kembalikan uangmu )!” Rasha kesal

“Oui, je lui ai dit de payer (Iya, suruh dia yang  bayar).”

“Prends soin de ta bouche (Jaga mulutmu).”

“Sinon tu paies venir avec moi (Kalau kamu gak nurut) !” Simone menarik Rasha dengan kasar, Rasha melirik Hendra minta bantuan.

Bersambung

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *