Lawu Aku Dia 2

Hujan mulai reda, hampir jam tiga pagi sebentar lagi langit mulai terang, begitu juga penduduk dusun mulai bangun. Mereka telah berjalan hampir satu jam menyusuri kebun sayur dan jalan setapak. Dusun Blumbang begitu tulisan di batu tapal batas desa. Tak jauh dari tempat itu ada gubuk kecil di sebelah kali. Seketika muncul ingatan Hendra tentang kali itu. Dia tersenyum mendapat akal dan rencana pelarian mereka selanjutnya.

Hendra melepas gandengan tangannya karena harus melalui titian bambu. Dia naik lebih dulu mencoba kekuatan batang bambu, kemudian memberi isyarat pada perempuan itu untuk ikut menyeberang, perempuan itu pun naik ke titian dan memegang erat-erat tangan Hendra. Mereka telah melalui kali yang cukup lebar itu, tanpa sepatah katapun terus berjalan beriringan melintasi perkebunan cengkeh yang luas, sesekali terdengar isak tangis ditahan, Hendra diam tak berkomentar. Setelah kira-kira setengah jam lamanya berjalan sampailah di jalan setapak yang mulai menanjak, terdengar nafas perempuan itu mulai memburu namun tetap berjalan di belakang Hendra. Sampai satu ketika.

“Kita cari tempat yang aman untuk sembunyi.” Hendra memberi penjelasan

Tak ada jawaban. Hendra pun tak terlalu menghiraukannya dan terus melangkah sambil menengok ke belakang memeriksa keadaan perempuan itu. Jalan mulai datar namun sepanjang mata memandang hanya ada pohon cengkeh yang tinggi dan rimbun di kegelapan pagi menjelang fajar. Perempuan itu terpaksa berpegangan pada carrier Hendra, rasa takutnya kian menghebat.  Anehnya dia justru mulai menaruh kepercayaan dan harapan pada Hendra, penolongnya.

Langit mulai terang, bintang-bintang mulai memudar beberapa ada yang memicingkan sinarnya. Angin lembah mulai datang menderu-deru kadang bersiul kencang menggantikan suara hujan yang telah pergi. Kehangatan yang dibawa hujan kini berganti hembusan angin dingin menusuk-nusuk kulit sampai tulang.

Mereka berhenti di sebuah gubuk, kebun cengkeh telah mereka tinggalkan. Hendra menurunkan carriernya, membuka dan mengeluarkan beberapa kantong plastik lalu mengambil jaket dan sarung tangan, lalu memberikan pada perempuan itu masih tanpa sepatah katapun hanya pandangan matanya memberi isyarat, perintah agar perempuan itu memakainya.

Itu kali pertama mereka bertukar pandang dan saling melihat wajah masing-masing lebih jelas.  Hendra benar-benar terkesima ternyata perempuan ini seorang gadis yang luar biasa cantik, dalam kondisinya yang murung pun tidak memudarkan kecantikannya. Bentuk wajah oval menajam dengan dagu panjang, alis yang sangat serasi dengan matanya yang indah, hidung mancung, bibir yang menawan, rambutnya pendek lebih pendek dari rambut Hendra, khas kecantikan putri jawa. Tinggi badan sekitar seratus tujuh puluh sentimeter. Benar-benar mengagumkan. Tidak sopan ! Hendra mengalihkan pandangannya memcari-cari sesuatu ke dalam carriernya, tidak jelas apa yang dicarinya. Salting. Namun gadis itu juga tak kalah terkejutnya, dia bisa melihat jelas ketampanan penolongnya walaupun berusaha disembunyikan dalam kesederhanaan. Siapa dia yang telah menjadi sang penyelamat baginya. Saat itu dia tetapkan hatinya untuk mengikuti orang yang menolongnya ini, ingin dia bertanya, tapi hatinya masih diselimuti peristiwa mengerikan semalam. Biarlah dulu. Dia kembali dalam kebingungan.

Jam empat lebih tiga puluh menit, mereka masuk dusun Blumbang. Setelah meneliti keadaan sekitar Hendra menarik pergelangan tangan gadis itu menyeberang jalan aspal menuju jalan setapak menanjak. Dusun masih sepi, suara kokok ayam jantan sahut menyahut. Kembali mereka berjalan diantara kebun kol dan tomat yang luas. Di kejauhan puncak gunung Lawu demikian jelas terlihat kokoh diantara birunya langit, indah sekali. Sepanjang jalan di kebun itu datar, namun setelah kebun itu terlampaui, jalan setapak mulai menanjak, sebentar kemudian menurun dan berkelok-kelok, licin, terpaksa Hendra mengurangi kecepatannya memberi waktu pada gadis itu untuk mencari pijakan yang tepat, dan tak jarang Hendra harus membantunya setiap kali menuruni setapak yang curam dan licin.

Ada yang ganjil setiap kali Hendra menggenggam jari-jari gadis itu ada desir aneh di dadanya yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya. Dia berusaha keras mengusirnya pergi, tetap saja tak mampu. Rupanya Hendra tak sendiri, gadis itupun punya rasa yang sama, beberapa kali dia menggigit bibir bawahnya tiap kali jari mereka bertemu.

 

Minggu, 17 November 1985

Sepi di pesanggrahan Pringgodani.

Tak tampak orang-orang yang biasanya menepi dan bersemedi. Padahal hampir setiap hari biasanya tempat itu tak pernah sepi, paling tidak ada satu orang. Hendra mengamati pesanggrahan yang telah banyak berubah, ada pondok baru yang bersih ada juga warung, di sekitarnya terlihat terawat dan bersih. Terutama lokasi pancuran yang kini tertata rapi dibandingkan saat Hendra kecil dulu.

Tak ada sesaji yang biasanya diletakkan dekat pesanggrahan, padahal dia berharap bisa mengambil isi sesaji untuk mengganjal perutnya yang lapar, paling tidak kue apem. Nakal. Mereka terus mendaki, sekitar lima puluh meter, ada dua warung yang masih tutup. Hendra mengetuk-ngetuk tapi tak ada sahutan, dilihatnya di belakang warung ada tumpukan singkong dan jagung, tanpa ragu diambilnya beberapa lalu menyelipkan beberapa lembar uang di bilik warung.

Sekitar sepuluh menit mendaki ada gubuk yang letaknya tersembunyi tak jauh dari jalan setapak, di situ ada bale-bale. Hendra berhenti, membersihkan bale-bale itu lalu menggelar sarungnya.

“Istirahat di sini.” Hendra tidak berani menatap mata gadis itu. Gadis itu menurut  karena dia memang benar-benar lelah dan ngantuk walaupun baju dan celananya masih basah. Tak lama dia sudah lelap.

Hendra sibuk membuat perapian lalu membakar singkong dan jagung, meski badannya lelah namun dia besusaha bertahan. Cukup lama dia membakar setelah matang dia sisihkan disamping perapian agar tetap hangat sambil menunggu gadis itu bangun untuk makan bersama-sama, tapi karena badannya lemas dan ngantuk ia sandarkan punggungnya di tiang gubuk lalu tak sadar dia tertidur.

Saat Hendra terbangun sudah pukul enam tiga puluh menit hampir setengah jam dia tertidur. Gadis itu masih nyenyak tapi dia harus membangunkan karena mungkin sudah waktunya minta bantuan, lagipula dia sudah lapar sekali maka cepat dia ambil dua buah singkong bakar dan melahapnya. Setelah minum secukupnya, kembali kantuknya datang lagi dan badannya pun terasa lemas. Hendra sudah tak tahan lagi maka dia rebahkan punggungnya di bale-bale di sebelah gadis itu, sempat dia menengok pemilik wajah cantik itu, tak lama kemudian diapun lelap.

Tersentak Hendra bangun, bahunya diguncang.

“Ada orang.” Bisik gadis itu, untuk pertama kali Hendra mendengar suaranya.

Hendra bangkit berdiri dan mencari asal suara ternyata orang-orang dusun. Kantuknya belum lagi pergi juga masih lemas, tetapi topik pembicaraan di jurang bawah sana membuatnya berlari ke tepi setapak pinggir jurang, orang-orang dusun dari rombongan yang berbeda berjalan beriringan mereka pencari akar tumbuhan dan kayu bakar. Rupanya cerita kejadian semalam telah menyebar, mereka sedang membicarakan peristiwa itu.

Hendra kembali menuju gubuk dan mengambil singkong dan jagung bakar dan menyodorkan pada gadis itu, dia hanya mengambil jagung.

“Minumnya di situ.” Hendra menunjuk ke botol minum miliknya, tanpa banyak bertanya, si gadis  mengambil botol itu dan tanpa ragu-ragu ditenggaknya sampai habis. Haus sekali.

Sebenarnya Hendra ingin memandangi sekali lagi gadis itu tapi dia merasakan debar jantungnya makin cepat, dia hanya mengawasi dengan ekor matanya. Rupanya gadis itu tahu kalau laki-laki ini benar-benar pemalu dan canggung, maka dia mendahului pikiran Hendra.

“Nama kamu siapa ?” Tanya gadis itu

“Hendra.”

“Tika.” Sambil menyodorkan tangan disambut jabat tangan oleh Hendra

Pringgosepi masih diselimuti kabut pagi. Di tebing timur cahaya jingga bertebaran muncrat dari sumbernya yang bersembunyi di balik tebing. Sementara di sebelah barat tebing masih nampak hijau berselubung kabut yang perlahan merangkaki tiap sudut permukaannya. Hawa dingin makin menusuk-nusuk kulit.

Sambil memandang Tika yang berdiri memunggunginya, Hendra mengingat-ingat kejadian semalam secara berurutan dan detail. Sadis dan mengerikan. Lalu apa hubungan Tika dengan kejadian itu dan mengapa dia dikejar-kejar. Umur Tika mungkin tiga atau empat tahun lebih muda darinya. Tiba-tiba Tika membalikan badan dan menghampirinya, matanya basah.

“Kita kemana lagi ?” Tika bertanya, Hendra kelimpungan tertangkap basah sedang memandangi Tika

“Sebentar saya ke bawah dulu, cari tau keadaan dan perbekalan. Kamu tunggu di sini.” Jelas Hendra bingung.

“Gak mau, takut.” Tika tidak mau ditinggal Hendra.

“Ya sudah kamu ikut yuk.” Mereka berdua turun ke pesanggrahan Pringgodani

Pesanggrahan sudah ramai tidak seperti subuh tadi, orang-orang dusun asik membicarakan kejadian semalam yang dibumbui berbagai tambahan dan gula-gula, seolah-olah mereka ada di saat kejadian, seru sekali. Mereka saling bersahutan bercerita namun ada beberapa orang yang hanya diam mendengarkan. Hendra langsung menuju warung  membeli bahan makanan kering dan minuman untuk perbekalan juga memesan sarapan untuk mereka berdua.

“Meniko panjenengan ajeng minggah mas (Ini kamu akan naik) ?” Tanya pemilik warung

“Nggih (Ya).” jawab Hendra

“Namung tiang kalih (Hanya berdua) ?” mulai curiga pemilik warung itu

“Mboten, konco-konco nenggi dateng pondok (Tidak, teman-teman nunggu di pondok)” Hendra berbohong

“Atos-atos mas, ndalu kolo wau wonten rampok, nyulik lare wedok, trosipun tiange minggah (Hati-hati semalam ada rampok menclik gadis dan dibawsa naik.).”

“Oo… mekaten..maturnuwun pak de (Begitu terimakasih pak de).” Hendra memberi isyarat pada Tika untuk bergegas menghabiskan makan dan minumnya, saatnya segera pergi dari situ sebelum mereka makin banyak bertanya. Setelah membayar dia segera membawa perbekalan makanan dan air minum, bergegas naik lagi ke Pringgosepi.

“Mereka curiga ya ?” Tanya Tika

“Iya dituduh rampok dan nyulik kamu. Orang desa gampang dihasut”

“Trus kita gimana ?”

“Nanti saya jelaskan rencananya” Mereka terus naik
Sesampai di gubuk itu Hendra cepat-cepat kemasi barang-barangnya.

“Kamu pernah naik gunung ?” Tanya Hendra, Tika menggeleng wajahnya berubah ketakutan.

“Pilihan pertama kita naik gunung ini dan turun di bagian timur laut di desa Girimulyo Jogorogo, Ngawi, jalur itu hampir tidak pernah dilalui jadi kita aman, kalau kita beruntung besok pagi sebelum fajar kita bisa sampai, kalau cuaca gak bagus baru lusa kita sampai sana atau pilihan lainnya saya antar kamu ke pos polisi terdekat cuma saya gak bisa percaya pada polisi sekali pun, dan pasti saya akan ditangkap karena fitnah. Tapi itu gak apa-apa saya siap.” Hendra diam menunggu jawaban. Tika merenung sebentar, kemudian dipandanginya Hendra tanpa berkedip.

“Aku bingung gak ngerti, terserah kamu.”

“Oke…kamu siap capek naik dan turun gunung ?”

“Ya.” Jawab Tika ragu

“Yuk kalau kamu capek atau ada sesuatu yang kamu rasakan kamu jangan ragu atau sungkan bilang ya.” Tegas Hendra

“Ya” Tika menjawab lirih sambil menatap Hendra dengan beribu pertanyaan.

Sebenarnya Hendra ragu jalur Jogorogo yang pernah dia lalui enam belas tahun lalu apakah masih sama, tapi dia sudah memutuskan. Hendra melangkah perlahan-lahan karena dia meminta Tika untuk berjalan tepat di depannya jadi dia tidak perlu memaksakan diri. Setiap lima belas menit mereka istirahat.

 

Pukul sebelas siang

Setelah empat jam berjalan mereka sampai di pos Taman Sari, Tika lelah sekali, nafasnya masih tersengal-sengal dan tenggorokan  pun kering, kepalanya pusing telinganya berdenging.

“Kamu istirahat dulu ya saya ke belakang sebentar.”  Kata Hendra Tika bingung dan takut ditinggal.

“Ya Jangan lama-lama.” Jawabnya pelan dan terpaksa, pasrah dia  duduk dan meluruskan kakinya di depan pohon tumbang di depan gubuk.

Tidak sampai lima menit Hendra sudah kembali, Tika merasa lega begitu melihatnya, sempat dia ragu karena baju dan celananya sudah ganti. Ada carrier besar di punggungnya.

“Itu dari mana?” Tika bertanya

“Ini saya simpan di sana jadi kalau pulang cukup pakai yang kecil ini.” Jelas Hendra

“Jadi kamu baru turun kemarin itu ?”

“Iya.” Jawab Hendra, Tika hampir tidak percaya.

“Yang kecil biar aku yang bawa.” Kata Tika

“Gak usah, biar saya aja”

“Biar botol air dan jaket aku yang bawa” Pinta Tika

“Okay. Tapi kamu ganti dulu celana dan bajumu basah” Hendra memberikan beberapa kaos kering, celana training dan kaos kaki miliknya lalu pergi ke ujung jalan setapak menjaga kalau ada yang lewat

“Hendra, yuk kita jalan lagi” Tika sudah selesai dan siap berangkat

“Kamu sudah cukup istirahat ?” Hendra geli melihat kaosnya yang kebesaran untuk tubuh Tika, untunglah dia menggendong carrier kecil, tapi Hendra tahu badan Tika pasti tidak nyaman.

“Udah kok yuk….” tegas Tika sambil mulai berjalan meniti jalan setapak diikuti Hendra di belakangnya.

Hutan yang mereka lalui makin lebat, tapi jalan setapak sudah tak seterjal sebelumnya, juga tidak licin. Langit cerah tanpa awan dan matahari bersinar terang panasnya menyengat ke ubun-ubun tandanya menjelang tengah hari jam dua belas. Sunyi tapi indah sekali walaupun masih dihantui peristiwa semalam Tika masih bisa menikmati keindahan hutan gunung Lawu.

Burung-burung jalak gading terbang dan hinggap dari satu dahan ke dahan lain kadang juga di tanah atau bebatuan. Burung ini memang legenda khas gunung Lawu yang sudah menjadi sahabat pendaki gunung apapun tujuan pendakiannya. Hendra selalu diikuti oleh lebih dari dua burung setiap kali mendaki, sejak pertama kali dia ke puncak gunung ini menemani Agung ketika dia masih tinggal di Tawangmangu.

“Burung-burung itu kenapa mengikuti kita terus ?” Tika bertanya keheranan sambil berhenti untuk beristirahat.

“Mereka memang sahabat kami.”

“Sebanyak itu ?”

“Nggak sih satu aja, tapi saya sejak dulu selalu ditemani lebih dari dua”

“Kenapa bisa begitu”

“Saya gak tau, mungkin kamu harus tanya mereka.” Tika tersenyum, senyum yang memikat hati Hendra membuatnya bingung memikirkan bagaimana bisa perasaan itu muncul, perasaan yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Dia berusaha keras terlihat wajar dalam kebingungannya. Dasar canggung. Sebenarnya Tika pun tahu kalau Hendra salah tingkah dan dia justru suka.

Setelah berjalan hampir dua jam tiba-tiba kaki kiri Hendra terasa berat dan mulai kejang lagi, sementara walaupun perlahan Tika masih berjalan penuh semangat dan makin lama makin jauh meninggalkan. Akhirnya karena sudah tak bisa bertahan Hendra berhenti dan duduk sambil mengurut kakinya. Sesaat kemudian Tika sudah disebelahnya.

“Kenapa Hen ?”

“Kram gak apa-apa sebentar lagi juga baik.” Hendra berusaha berdiri, namun Tika sepertinya tak menggubrisnya dia mengankat kaki kiri Hendra dan meluruskan lututnya, kakinya ditekan dengan kuat dan mantap ke atas mengarah ke tulang kering dan memijat ototnya dengan cara menekan untuk memberikan efek tenang pada otot. Beberapa kali dia ulang dan kejang Hendra membaik. Hendra bingung luar biasa dan mengakui kalau ini yang teman-temannya ceritakan rasanya jatuh cinta.

“Gak jauh dari sini ada gubuk kecil di bawah tebing batu kita istirahat di sana.” Hendra berusaha bangkit berpegang pada pohon besar. Tika membantu memapah Hendra sebentar saja Hendra sudah pulih dan mampu berjalan walaupun belum normal betul. Lima belas menit kemudian mereka sampai di gubuk yang disebut Hendra. Mereka beristirahat di sana.

Hendra melepas sepatunya yang basah menaruhnya di bawah terik matahari dan mengganti kaos kaki. Dia membongkar carriernya dan mengeluarkan matras yang cukup untuk mereka berdua. Tika terus memandangi Hendra ketika dia merebahkan diri takut terjadi sesuatu pada penolongnya itu.

“Gak apa-apa cuma butuh istirahat,” Hendra menghibur

“bangunkan aku ya lima belas menit lagi.” Kemudian dia tertidur pulas, Tika cukup bisa merasakan perubahan kata “saya” menjadi “aku” sudah memberi tanda kedekatan mereka.

Tika terus mengawasi jalan setapak yang mulai dilalui orang-orang turun dari puncak, mereka menyapanya dan berlalu. Hawa dingin memaksanya memakai jaket dan sarung tangan. Angin berhembus kencang sekali kadang suara nya begitu menakutkan, juga suara atap seng tertimpa angin tak kalah kerasnya.

Ada rasa takut dan khawatir dia duduk mendekat ke tempat Hendra berbaring, saat dekat dia bisa mendengar nafasnya teratur artinya dia sedang lelap. Dipandanginya wajah itu sepuasnya, ganteng tapi misterius dengan bulu-bulu kumis dan jenggot yang tumbuh tidak teratur mungkin karena belum sempat dicukur, hidung tinggi mancung dan bibirnya menawan, kulitnya memerah mungkin karena terpapar matahari selama pendakian, rambutnya gondrong lebat kecoklatan.

“Mengapa aku bertemu cowok ganteng di sini dalam keadaan serba menakutkan, bukan di Mall besar di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Siapa dia sebenarnya, dimana dia tinggal, kalau dari wajahnya mungkin dia empat atau lima tahun lebih tua.” Lima belas menit sudah berlalu tapi dia tidak ingin membangunkan Hendra, selain kasihan juga masih ingin memandangi penolongnya.

“Sudah punya pacar belum ya. Hah…..Kamu kenapa Tika. Jatuh cinta ?” Dia menutup wajahnya dengan tangan, ada perasaan malu tapi senang. Namun seketika ia teringat lagi peristiwa semalam, mulai ia meneteskan air matanya. Entah bagaimana nasib teman-temannya, tapi kembali ia menguatkan hatinya untuk bertahan hidup. Kembali ia memandangi Hendra yang masih tidur, meneliti setiap lekuk wajah dan tubuhnya,  membenamkan dalam ingatannya. Seketika Hendra duduk terbangun, saat Tika tidak siap dan masih memandanginya. Kaget luar biasa, malu sekali. Dia tersipu.

Hendra memeriksa jam tangannya, sudah satu jam lebih dia tertidur. Badannya lebih segar dia mengambil carrier nya dan mengambil tas kecil bertuliskan ‘Survival Kit’ dari dalam tas dimbilnya kantong bergambar palang merah, dibukanya dan dia mengambil 2 kapsul satu diminumnya yang satu lagi diberikan pada Tika.

“Vitamin untuk daya tahan tubuh” Jelas Hendra. Tika tanpa ragu mengambil dan meminumnya, dia sudah pasrahkan nasibnya pada Hendra. Hendra mengemasi matras, membenahi carriernya untuk melanjutkan perjalanan.

“Aku yakin mereka pasti memburu kita mungkin mereka mengambil jalan pintas, kita lanjutkan ke pos Penggik sekitar satu setengah atau dua jam dari sini. Di sana kita makan siang.” Tika diam saja, dia masih malu akan kejadian tadi, padahal Hendra sama sekali tidak tahu akan kejadian itu, justru dia yang merasa malu terlambat bangun.

Kali ini Hendra berjalan di depan karena rute ini adalah yang terberat dari yang ada di semua pos gunung Lawu, jalan yang berkelok-kelok dan menanjak tajam. Hendra berjalan perlahan sambil selalu membantu menarik Tika kalau sudah kehilangan tenaga untuk melangkah naik. Namun perasaan yang sama saat jari mereka bertemu tak juga kunjung pergi, sampai Hendra mengumpat pada dirinya sendiri dalam hati. Mereka masih beristirahat setiap lima belas menit, setelah dua jam kemudian pos Penggik sudah terlihat. Ketinggian di pos ini sekitar 2800 MDPL.

 

Pukul Dua Siang

Mereka beristirahat menjauh dari pos yang ramai oleh pendaki-pendaki yang beristirahat, kabar tentang kejadian semalam sudah menjadi obrolan diantara mereka. Hendra sengaja mengambil jalan lain di belakang pos supaya tidak bertemu mereka. Ada hal menarik, salah satu dari mereka mengatakan tadi pagi pasukan gabungan polisi brimob, pasukan khusus angkatan darat, marinir, SAR dan jagawana sudah berangkat menyisir dan mungkin sekarang sudah di sekitar taman sari. Semua pendaki sudah diberitahu ciri-ciri gadis yang diculik tapi ciri-ciri penculiknya tidak jelas. Hendra dan Tika saling berpandangan.

“Kita tidak bisa berhenti di sini, kamu masih kuat ?.” Tika mengangguk walaupun sejujurnya dia letih sekali. Mereka meneruskan pendakian perlahan-lahan, istirahat setiap sepuluh menit dan Hendra harus selalu dekat Tika untuk membantu dan memberinya semangat.

Sampai suatu saat Tika benar-benar kelelahan dan hampir saja tergelincir mendadak matanya berkunang-kunang, untunglah Hendra selalu dekat sehingga cepat menyambar tubuh Tika. Tika menyandarkan kepalanya di dada Hendra, badannya lemah sekali. Beberapa saat kemudian walaupun dia sudah agak tenang dan lebih kuat dia masih enggan melepaskan diri dari pelukan hangat Hendra. Dia bisa mendengarkan detak jantung Hendra rasanya aman dan nyaman.

Hendra sebetulnya sangat bingung, karena Tika pasti bisa merasakan kegugupannya, tapi Hendra tidak punya pilihan lain.

“Dekat sini ada sendang kita bisa bisa istirahat di sana.” Hendra memapah Tika pelan-pelan menuju sendang Panguripan.  Tika masih terus memeluk Hendra selama berjalan sampai ke sendang.

Sesampai di pinggir sendang Hendra menggelar matrasnya, Tika segera duduk. Hendra memeriksa denyut nadi, pupil mata dengan senter juga telinga dan tenggorokan Tika. Semua bagus mungkin ‘shock’ , kecapekan dan kurang tidur. Cepat-cepat Hendra mencari ranting-ranting kering dan membuat perapian sekaligus memasak air dan mie instan yang tadi dibeli di warung.

Tika minum teh panas perlahan-lahan disuapi Hendra lalu makan mie instan dengan telur masih disuapi. Setelah Tika selesai makan Hendra membereskan peralatan dan merapikan carrier. Dia memberikan kesempatan Tika untuk beristirahat, Hendra sangat khawatir Tika terserang hypotermia, dia memasangkan Tika buff dan kupluk gunung, merapikan jaketnya. Dipeluknya Tika agar dia hangat dan memberi semangat, langsung disambut dengan pelukan erat Tika sambil menangis. Hendra mengerti Tika dilanda ketakutan dan cemas luar biasa, lama mereka berpelukan untung tidak ada pendaki yang lewat atau mengambil air di sendang.

“Yuk… Hen”

“Kamu sudah mendingan ?”

“Udah, nanti keburu mereka datang.” Hendra berdiri lalu membantu Tika berdiri. Mereka mulai berjalan perlahan, Hendra masih memapah Tika perlahan-lahan untuk menyesuaikan diri.

Pos selanjutnya adalah Cokrosuryo (lambang kerajaan Majapahit terakhir) biasanya ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Perjalanan menuju pos ini juga masih menanjak di kiri kanan jalan kadang terlihat pohon edelweis yang indah sementara vegetasi lainnya mulai jarang.

“Itu edelweis ?” Tanya Tika

“Ya”

“Bagus ya, indah sekali” Sejenak hilang lelah dan ketakutan yang menghantuinya melihat hamparan bunga-bunga yang indah. Ingin sekali melihat eidelweiss dari dekat.

“Diatas masih banyak, di jalan turun juga, di bulak peperangan”

“Oh…asiik”

Tiba-tiba Tika berjalan gesit, Hendra jadi terheran-heran. Dia berjalan di depan dan Hendra masih bingung mengikuti dari dekat, seketika Tika merasa senang dan aman. Sambil tersenyum-senyum dia melalui jalan menanjak itu. Hendra baru sadar mengapa hal itu bisa terjadi, dia hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

Bersambung

https://www.mpudenta.com/lawu-aku-dia-3/

 

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *