Lawu Aku Dia 3

Mereka sudah sampai di pos Cokrosuryo seperempat jam lebih cepat, suasana di pos itu sepi, mereka berhenti sebentar untuk beristirahat lalu lanjut menuju prapatan. Kontur jalan setapak menuju prapatan awalnya menurun, lalu datar kemudian sedikit menanjak. Tika masih tampak ceria melihat pemandangan yang luar biasa indahnya, menjelang prapatan jalan menanjak tajam, kecepatan mereka sedikit berkurang. Satu jam lebih waktu yang mereka tempuh sejak mulai berjalan dari pos Cokrosuryo sampai di prapatan.

Hendra menunjuk arah kiri artinya mereka akan melalui Hargo Tiling atau Pasar Setan, dia memang menghindari Hargo Dalem yang biasanya ramai. Tika begitu terpesona oleh hamparan edelweiss di sepanjang jalan, beberapa kali dia menengok ke arah Hendra mengutarakan rasa gembira dan kekagumannya pada pemandangan di sekelilingnya. Di hamparan edelweis sudah tidak ada jalan setapak mereka bisa berjalan berdampingan.

Malam akan segera tiba, Hendra mempercepat langkah menuju Jurang Mele, jalan mulai terus menurun. dia berjalan di depan untuk menjaga langkah Tika. Ketika sampai di Jurang Mele hari sudah hampir gelap, angin pun berhembus kencang sekali. Hendra berhenti, membongkar carriernya mengeluarkan senter dan jaket untuknya karena dingin mulai terasa mengganggu. Setelah siap mereka berjalan menuruni jalan setapak. Hari sudah benar-benar gelap tapi langit cerah dan sinar bulan membantu menerangi jalan setapak. Hendra menggandeng Tikaberjalan perlahan turun menuju pos Jurang Mele.

Berjalan di kegelapan malam membuat Tika takut dia memeluk lengan Hendra untuk menenangkan diri, kadang Hendra memeluknya untuk memberi semangat, Tika senang sekali dalam pelukan Hendra, lupa akan ketakutannya. Dia ingin terus dalam pelukan Hendra kalau awalnya dia agak malu sekarang dia benar-benar menunggu pelukannya. Perlahan-lahan Tika bisa menyesuaikan diri berjalan dalam gelap malam karena dia bisa sepenuhnya bergantung pada Hendra yang selalu melindunginya.

Sekitar tiga puluh menit berjalan mereka sampai di pos Jurang Mele yang sebenarnya bukan pos hanya gubuk yang hampir roboh, tanpa berhenti di pos Hendra terus berjalan, memang sebenarnya ada satu tempat yang dia tuju. Kira-kira lima belas menit kemudian dia berhenti, memeriksa keadaan sekitar dengan senternya, lalu berjalan mengitari tebing, akhirnya mereka sampai di balik tebing. Rupanya di situ ada tempat yang cukup luas menyerupai goa. Tempatnya tersembunyi, terlindung dari hujan maupun angin kencang, walaupun masih ada angin dari depan goa tapi hanya angin searah.

Hendra mencari tempat yang rata dan lebih tinggi dari tempat sekitar, setelah mendapatkan tempat yang cocok dia mencabut ranting dengan daunnya untuk menyapu. Dia mulai membongkar isi carriernya dan menggelar matras.

“Duduk di sini Tika”

Hendra membuka tenda kecil ‘Lafuma’ ukuran dua orang. Tika penasaran memperhatikan apa yang akan  Hendra, lakukan ingin dia membantu tapi percuma Hendra bekerja sangat cepat  sebentar saja tenda sudah siap,  matras pun sudah digelar di dalam tenda.

Selesai memasang tenda dia lalu keluar goa mencari ranting dan dahan kering lalu menyiapkan api untuk memasak sekaligus menghangatkan badan mereka. Hanya beberapa menit api sudah siap juga batu sebagai landasan panci juga sudah terpasang.

“Biar aku yang masak ya” pinta Tika

“Oh kamu mau..? Boleh.” Tika tersenyum puas. Hendra menyiapkan beras, telur, sarden, supermi, air, minyak dan bumbu2 dalam kotak-kotak kecil.

“Aku mau cuci beras tapi air kita terbatas.”

“Rendam pakai sedikit air terus diremas-remas sebentar” Hendra membantu. Tika tampaknya terampil untuk urusan ini. Dia juga tau berapa banyak air untuk dicampurkan pada beras.

“Kamu tinggal dimana?” Tika membuka percakapan dengan pertanyaan

“Hmm.. di Jakarta, kamu ?” Hendra gelagapan terserang penyakit canggung

“Sama dong…., kamu naik ke sini sendirian atau sama teman-teman juga ?”

“Sendiri, sekarang berdua” Hendra tersenyum, juga Tika

“Kamu sendirian gak….sepi”

“Udah biasa.”

“Maksudnya ?”

“Ya aku sudah biasa sendiri.”

“Ih… gak takut”

“Takut juga kadang-kadang, wajarlah.”

“Sudah ke gunung mana aja ?” Selidik Tika. Hendra tidak menjawab hanya tersenyum.

“Sudah semua gunung di Jawa ?” Hendra mengangguk

“Bali, NTT, NTB, Sumatra, ?” kembali Hendra mengangguk

“Kalimantan dan Sulawesi juga ?” Hendra kembali tersenyum

“Hah… sudah sampai Jayawijaya ?” Lagi-lagi dia mengangguk

“Di luar negeri juga, Himalaya-Mount Everest ?”

“Ya, masih ada beberapa yang belum, belum semua.” Hendra menunduk malu, Tika semakin penasaran

“Semuanya sendirian ?” Dan Hendra hanya tersenyum

“Kamu nih nekat.” Hendra makin menunduk diam, Tika benar-benar kagum juga beruntung bisa dekat dengan orang yang rendah hati.

“Keluargamu di Jakarta juga ?” Kembali Tika sangat ingin tau sosok tampan tapi misterius ini.

“Nasinya sudah matang Tika” Hendra berusaha mengalihkan arah percakapan.

Tika menatap Hendra yang beringsut ke panci diikuti Tika. Tapi Hendra benar nasinya memang sudah matang. Tika lalu memasak supermi goreng dengan telur, bau harum menggoda selera. Hendra memberikan Tika satu piring plastik kecil dan sendok kecil untuk makan, setelah nasi dan mie matang kemudian mereka memasak air untuk minum dan menyeduh kopi.

Di goa itu mereka makan sepiring berdua sambil ngobrol. Tika merasa begitu akrab dengan Hendra padahal baru kurang dari dua puluh empat jam dikenalnya, rasanya dia sudah mengenalnya bertahun-tahun walaupun Hendra yang pemalu dan misterius selalu mengalihkan pembicaraan tentang asal usulnya.

“Aku rasa di sini kita aman, mereka tidak akan pernah menduga kita akan lewat jalan ini. Mungkin hanya satu atau dua orang dusun yang tau jalan ini. Kalaupun mereka tau mereka takut kesini karena banyak cerita mistis dan mitos” Hendra memecah lamunan Tika

“Oh.. tapi gimana kamu bisa tau di sini aman ?”

“Aku pernah tinggal di dusun Tawangmangu dua belas tahun lalu, sering mencari kayu dan akar-akar sampai ke utara dan timur laut, salah satunya ke sini untuk istirahat.” Jelas Hendra

“Pantas kamu tahu betul jalan-jalan di sini.”

Setelah selesai makan dan perut sudah cukup terisi, Tika menyeduh kopi di satu cangkir, karena  memang hanya ada satu sehingga mereka minum bergantian, awalnya Hendra ragu-ragu tapi justru Tika yang mendahului minum lalu menyodorkan pada Hendra.

“Boleh aku tahu kejadian semalam ? Tapi kalau kamu gak nyaman, gak apa-apa. Lupain aja.” Tika merenung sejenak matanya yang tadi ceria kembali redup.

“Kami berlima bersahabat sejak SMA.” Dia menguatkan hatinya untuk memulai

“Tiga perempuan dan dua laki-laki, bahkan aku sudah berteman mulai SD dengan dua dari mereka. Liburan semester ini kita udah janjian untuk jalan-jalan. Terakhir kita jalan tahun lalu, itu ke gunung Papandayan. Dewi, sahabatku yang kuliah di Solo ngajak ke Tawangmangu, dan dia yang urus semua. Tiga hari lalu aku sampai di Solo, yang lain sehari kemudian.” Dia berhenti sebentar.

“Di Solo kami muter-muter kuliner, sebenernya perasaanku gak enak karena ada yang janggal, tapi entah apa. Setelah yang lain datang kami berangkat ke Tawangmangu dan semua lancar sampai di villa. Setelah penjaga villa membukakan pintu kami masuk villa dan membagi kamar kami. Kami keluar makan siang di rumah makan dekat perempatan, ada mobil jeep hitam parkir di depannya. Selesai makan kami pergi ke Air Terjun “Grojokan Sewu” menjelang gelap kami sudah balik ke villa. Kira-kira jam tujuh, hujan deras dan rencana kami makan di luar batal. Kami masak perbekalan dan makan di villa, sampai jam sebelas kami masih kumpul di depan televisi sambil ngobrol.”

“Aku lagi di kamar nyari sepatu buat besok paginya hiking di sekitar villa. Tiba-tiba aku denger suara teriakan Dian, aku kira mereka sedang ngerjain dia, tapi aku dengar suara bentakan keras. Kaget aku ngintip di gorden jendela ke ruang tamu. Bener, ada orang-orang yang gak aku kenal sedang berdiri mengitari mereka, tapi mereka cuma bertiga Toni sahabatku sejak SD gak ada di situ. Aku masih bingung apa yang terjadi, tiba-tiba Toni sudah ada dekat aku sambil menaruh telunjuknya di depan mulut, dia gandeng aku ke kamar sebelah lewat ‘connecting door’. Trus kita keluar lewat pintu dapur ke belakang villa. Kita lama ngumpet di situ, kehujanan dan kedinginan tapi terus bertahan di bawah pohon sedikit terlindungi oleh rimbun pohon-pohon  yang tinggi. Kita pindah ke depan untuk cari jalan keluar Toni punya rencana kabur lewat pintu depan tapi nunggu kesempatan baik. Ternyata pintu keluar mereka halangi pake jeep.”

“Lalu yang aku denger selanjutnya adalah suara teriakan mereka dan tembakan yang mengerikan dan tiba-tiba Toni menarik tanganku dan suruh aku lompat pagar tembok dan lari. Dia bantu aku tapi aku gak pernah lihat dia nyusul.” Tika menangis sedih, Hendra ikut juga terbawa sedih dan bersalah karena tidak mampu menolong mereka. Lama Hendra menunggu sampai Tika bisa tenang, untuk membantu menenangkan nya, dia menyeduh teh untuk Tika. Jadi yang pakai sweater abu-abu itu Toni, kasihan sekali ….banyak hal yang berkecamuk di pikiran Hendra.

Hujan semakin lebat, tanah di sekitar mereka mendirikan tenda juga basah oleh air hujan yang masuk terbawa angin, tapi tidak membasahi tempat mereka yang lebih tinggi. Suara hewan hutan yang biasanya meramaikan malam juga tak terdengar, hanya suara kodok terdengar sahut menyahut diantara suara hujan. Suara angin dan halilintar juga terdengar begitu kerasnya, sesekali sinar kilat jelas sekali menjilat pohon di depan goa.

Tika membenamkan kepalanya dan memeluk erat-erat kedua lututnya, menahan sesuatu yang begitu berat menindih pikiran dan perasaannya. Ia menangis, lirih hampir tak terdengar oleh Hendra karena kerasnya suara hujan dan angin. Hendra bingung sekali, dia merasa serba salah kalau ada orang yang menangis.untuk menghibur  dia peluk Tika untuk memberi rasa aman.

“Maaf seharusnya aku gak tanya, kamu istirahat dulu aja. Di dalam tenda lebih hangat gak kena angin”

Tika membuka sepatunya dan masuk ke dalam tenda, benar memang lebih hangat di dalam. Tika berusaha untuk tidur, berbagai macam ingatan dan perasaan bercampur aduk tak menentu. Badannya lelah tapi pikirannya susah untuk istirahat, sementara di sisi lainnya dia begitu tertarik pada sosok misterius yang sekarang sedang duduk di luar tenda. Banyak yang ia ingin tanyakan tentang dia. Sementara dia masih sedih kehilangan sahabat-sahabatnya dan dia belum percaya kalau semua itu terjadi, ingin semua itu hanya mimpi dan ia ingin cepat bangun.

 

Senin, 18 November 1985

“Tika…Tika…Tika…” Tika bangun. Sudah pagi dan Hendra ada di luar tenda yang terbuka  sedang memandang ke dalam tenda.

“Jam berapa sekarang ?” Tanya Tika

“Setengah enam” Jawab Hendra

Tika keluar dari tenda, diperhatikannya Hendra sudah ganti kaos warna biru gelap dan rambutnya juga basah. Dia masih duduk di matras dekat perapian yang sudah padam sambil terus memperhatikan Hendra yang sedang membenahi tenda, melipat dan memasukan kedalam carrier besarnya.
Hendra sadar dia sedang diawasi dan sesekali dia pun mencuri pandang. Setelah selesai membereskan peralatan lainnya.

“Kamu mau sarapan ?” Tika menggeleng.

“Kita turun yuk”

Tika diam, dia ingin mengatakan sesuatu tapi sukar sekali, sudah diujung bibir. Sudah tak bisa lagi bertahan.

“Aku mau pi…” Hendra tersenyum dan mengambil botol airnya dan berjalan lebih ke dalam goa.

“Tika di sini.” Hendra menunjuk tempat diantara batu yang disusunnya lalu memberikan botol airnya dan berlalu dari situ, meneruskan membenahi carriernya. Dari kejauhan Tika memperhatikan Hendra yang sedang sibuk, lega sekali. di benaknya tak pernah hilang rasa terimakasih padanya, Hendra yang misterius.

Saat itu bahaya belum berlalu ada kemungkinan pengejar mereka sampai ke tempat itu walaupun menurut Hendra kemungkinan itu kecil sekali. Tika membasuh muka dan menggosok gigi, walaupun belum bisa mandi tapi dia rasa cukup untuk saat itu.

Perjalananpun diteruskan, sepanjang jalan Hendra sama sekali tak bersuara hanya terdengar suara nafasnya. Tika bingung, takut kalau dia telah berbuat salah, diingatnya satu persatu peristiwa pagi ini, tapi tidak ada yang aneh. Kenapa ? Rasa takut kalau Hendra marah karena sesuatu yang dia perbuat membuatnya jadi serba salah tingkah. Akhirnya setelah hampir satu jam berjalan Tika berhenti.

“Aku mau istirahat” Tika menunggu jawaban, tapi Hendra hanya menengok dan menurunkan carriernya dan membantu Tika duduk diatas batu besar, lalu duduk tak jauh darinya tetap tanpa suara. Hendra menyodorkan botol airnya, menunggu Tika selesai minum baru dia. Setelah hampir sepuluh menit beristirahat Hendra berdiri dan mengangkat carriernya, dengan satu anggukan ia mengajak Tika melanjutkan. Ingin Tika menangis, satu-satunya orang tempat ia bergantung hidup marah padanya. Selanjutnya dia hanya menurut.

Ada kali yang jernih yang mereka lewati dengan bunga-bunga yang indah. Beberapa air terjun juga tak kalah menakjubkan ingin Tika berhenti dan menikmati keindahan alam itu, tapi Hendra terus berjalan tak perduli lagi padanya.

Mereka sudah melewati Bulak Akasia sekitar jam sepuluh, memang mereka turun cepat. Kalau mereka tidak berhenti akan sampai desa Girimulyo tepat tengah hari. Tiba-tiba Hendra menarik tangan Tika dan berlari membelah ilalang lalu berjalan mengendap-endap  menuju sebuah tebing. Tika yang masih bingung sekarang ketakutan, Hendra meletakan jari telunjuknya di bibir lalu menunjuk kuping. Diam dan dengar baik-baik. Lamat-lamat terdengar suara orang berbicara dan langkah kaki. Tika tegang sekali sebab dilihatnya Hendra sudah menghunus pisaunya. Suara mereka makin jelas dan akhirnya suara-suara itu menetap pasti tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

“Ini ada bekas jejak kaki tapi menghilang di sini.” Terdengar suara mereka

“Berpencar tiga orang ke kiri dan tiga ke kanan. Ini jejak baru pasti gak jauh”

Tika pucat, ternyata benar mereka belum sepenuhnya aman. Hendra menarik tangan Tika berjalan mengendap, beberapa saat kemudian Hendra berhenti, ternyata di ujung gerumbul ilalang itu adalah jurang yang tidak terlihat dasarnya. Hendra berbisik

“Kita turun ke jurang, merayap kamu aku gendong di punggung.” Suara langkah kaki ke arah mereka lebih jelas lagi. Hendra membuang carrier nya ke jurang, lalu meminta Tika naik di punggungnya, digendong.

Selanjutnya dia mulai mencari pegangan dan pijakan turun perlahan-lahan. Sementara suara orang-orang diatas semakin dekat mencari-cari diantara ilalang dan pohon. Setelah turun dua meter Hendra semakin cepat walaupun dia merasa jarinya kaku tapi dia tetap bertahan, dan ternyata jurang itu dalam sekali karena dasarnya belum bisa terlihat. Untungnya ada batuan yang berlubang sekitar tiga meter sehingga Hendra bisa masuk dan beristirahat sebentar. Tika masih memeluk Hendra bahkan makin erat dan tak mau melepaskan walaupun sudah duduk di lubang.

Mereka melanjutkan lagi menuruni tebing jurang, kali ini harus perlahan-lahan karena lebih licin sisa hujan semalam. Tangan dan kaki Hendra mulai gemetaran, sudah hampir tiga puluh meter dia turun. Dia mencari tempat untuk istirahat tapi tidak ada. Tika sadar kalau Hendra sedang kelelahan hebat, maka dia berusaha mencari pegangan pada akar-akar besar yang menjuntai ke dasar jurang. Beban Hendra sedikit berkurang dan diapun bisa mencari pegangan pada akar dan melilitkan ke tubuhnya, kemudian melilitkan akar lain pada tubuh Tika juga. Untuk sementara mereka bergantungan.

Setelah tenaga nya pulih lagi, Hendra melepas lilitan akar dan kembali menyiapkan dirinya untuk turun,
tanpa disadari Tika melepas ikatannya lalu  sambil berpegang pada akar dia mencoba turun perlahan.

“Tika jangan !!!” Hendra menegur pelan takut suaranya terdengar tapi terlambat.

Bersambung

Lawu Aku Dia 4

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *