Lawu Aku Dia 4

Tika masih terus berusaha turun sendiri dia merasa mampu dan ingin meringankan beban Hendra, namun tiba-tiba jarinya terasa panas dan sikunya seperti mau lepas, dia bingung. Sebenarnya Hendra sudah dekat, namun terlambat pegangan tangan Tika tidak bisa bertahan dan dia meluncur jatuh  Hendra panik luar biasa, secepatnya dia merayap turun dan karena tanpa beban ditambah rasa cemas dia kerahkan semua tenaga dan kemampuannya. Kira-kira sepuluh puluh menit dia baru sampai dasar jurang dia mencari Tika kearah dia kira-kira jatuh, mungkin karena dia merayap melenceng terlalu jauh sehingga jauh dari tempat Tika jatuh.

Sepuluh menit berlalu Tika belum juga ditemukan, jejak kaki dan bekas jatuhpun tak terlihat. Carriernya tergeletak lima meter dari tempat dia turun. Dasar jurang itu tanahnya datar, cukup luas kira-kira seukuran setengah lapangan bola, kalau melongok ketepian, dibawahnya masih ada jurang lagi yang lebih dalam. Hendra masih mencari-cari Tika tanpa mengeluarkan suara, karena kalau sampai terdengar maka  mereka dengan  sangat mudah ditemukan.

Setelah hampir setengah jam tanpa hasil Hendra memutuskan untuk memanjat tebing itu lagi, dia punya firasat Tika tersangkut di salah satu tempat di tebing. Dia mempersiapkan diri dengan membuat ‘harness’ di pinggangnya dan memasang ‘caribiner’ untuk memudahkan dia kalau harus bergelantungan. Dia mulai merayap naik mengandalkan jari-jari tangannya memanjat dan kakinya mencari pijakan di batu-batuan tebing, sambil memeriksa ke kiri dan ke kanan. Sesekali dia berhenti dan mengikatkan akar pohon pada carabiner, perlahan-lahan dia mengamati sampai hampir setengah jam tanpa hasil. Tiba-tiba dia mendengar suara mengaduh yang lemah. Tika !!!

Cepat dia mencari asal suara itu, telinga dan kepekaan nalurinya dikonsentrasikan pada satu titik dan dapat !!!. Dia lalu bergerak keatas kira-kira dua meter, menyimpang ke kiri ada pohon besar tumbuh rimbun. Kemungkinan besar di situ Tika jatuh. Benar dugaannya Tika sedang merintih dengan mata tertutup. Hendra memeriksa detak jantung di leher Tika, kemudian memeriksa tangan kanan dan kiri, bahu kemudian kaki-kakinya, sepertinya normal. Kepala dan muka juga tidak ada tanda luka atau benturan. Beruntung dia jatuh di rimbunnya pohon itu, tinggal bagian tulang belakang yang belum dia periksa, dia menggeser sehingga tubuh Tika agak miring supaya dia bisa meraba bagian punggung. Saat Hendra menekan sekitar pinggang Tika merintih sakit dengan mata masih tertutup, ada sedikit memar di sana, Hendra terpaksa harus menyingkap kaosnya untuk memastikan. Setelah mendapat kepastian tidak ada cedera serius, Hendra melepas harnes nya dan mengikat Tika supaya tidak bergerak dan tetap di pohon itu. Lalu dia turun ke dasar jurang.

Hendra sibuk mengumpulkan dahan-dahan yang kuat juga akar-akar pohon sebagai pengganti tali untuk membuat tandu juga tali untuk mengerek Tika turun. Hampir satu jam Hendra menyiapkan tandu dan perlengkapan lainnya. Setelah selesai dia menyiapkan tenda dan memasak air. Hendra bekerja ekstra cepat.

Kembali dia memanjat tebing jurang menuju pohon tempat Tika berada. Tika sudah siuman waktu Hendra sampai di tempat itu, mukanya masih bingung dan ketakutan, namum begitu melihat wajah Hendra muncul cepat ditariknya tangan Hendra dan dia menangis menggenggam tangan Hendra.

Hendra menunggu beberapa saat sampai Tika stabil, kemudian dia mengerek naik tandu,mengangkat Tika lalu meletakannya dalam tandu dan mengikatnya kuat-kuat agar tidak tergelincir. memasang carabiner dan tali yang tadi dia siapkan.

Perlahan-lahan dia menurunkan Tika dengan tali bertumpu pada cabang pohon yang kokoh, Sekitar lima menit Tika sudah sampai di dasar jurang, Hendra pun cepat-cepat menyusul turun dengan rasa cemas ingin lekas memeriksa kondisi Tika,

Ketika sudah samapai di dasar jurang dia membenahi matras di luar tenda dan menaruh kantung tidur diatasnya, membopong Tika lalu membaringkannya di atas kantung tidur, menyeka dengan kaos bersih yang tersisa, membersihkan muka dan tangan tika. Dari dalam carriernya dia mengambil perlengkapan survival memberikan obat pada lecet-lecet di tangan Tika. Ruas yang lebam diberi obat dan dibebat dengan perban. Tika agak risih saat Hendra sedikit menyingkap kaosnya dan tangan Hendra menyentuh permukaan kulitnya, perasaan malu, aneh, suka, bercampur-campur tak menentu, tapi  yang lebih aneh justru dia merasa aman dan ingin seterusnya tangan itu disana bahkan memeluknya. Dalam hati kecilnya Tika bertanya apakah dia benar-benar jatuh cinta.

Hendra membuka sepatu Tika yang basah dan berlumpur, menyingkirkannya lalu membuka kaos kakinya yang juga basah. Melihat Hendra begitu sabar dan tulus mengurusnya Tika tak lagi bisa membendung air matanya yang menitik jatuh.

“Sakit ?” Hendra menekan telapak kaki dan jari-jari kaki Tika  mengangguk

“Gerakkan jari-jari kaki kamu” Hendra lega semua baik-baik

“Bisa tekuk lututmu ?”

Kemudian Tika perlahan-lahan menekuk lututnya satu persatu, agak sakit dan kaku tapi bisa digerakkan.

“Bagian mana yang kamu rasa sakit ?”

“Pinggang” Hendra mengoleskan salep pada kaki dan pingang Tika

“Kepala ? Pusing gak ?”

“Sedikit berat” Hendra merasa tenang keadaan Tika tidak mengkhawatirkan.

Hendra memanaskan air untuk minum, saat itu persediaan air sudah semakin tipis. Dia memberikan Tika teh manis hangat, lalu membuat bubur dengan kornet. Tika minta duduk saat Hendra akan menyuapinya dibantu Hendra dia bisa duduk walaupun sedikit nyeri di pinggang.

Siang itu matahari terik sekali namun hanya sedikit yang mampu menembus rimbunnya tanaman di dasar jurang walaupun terang namun udaranya tetap dingin. Setelah selesai menyuapi Tika Hendra membersihkan semua alat makan dan memasak air putih hangat untul disimpan dalam botol minum persediaan minum mereka.

“Aku tinggal sebentar ya, cari air dulu, kamu istirahat” Tika mengangguk, tak mungkin dia ikut badannya masih sakit dan kaku. Hendra menyelipkan pisaunya dipinggang dibalik kaosnya, mengambil kompas memeriksanya dan berjalan ke bagian kiri jurang dan menghilang diantara pepohonan.

Tika menguatkan hatinya dan menanamkan keyakinannya bahwa Hendra pasti kembali, karena bukan hanya rasa ketakutan tapi juga ada rasa lainnya yang dia sendiri susah mengartikannya. Sambil menunggu dia membuka survival kit Hendra, banyak sekali benda-benda yang asing yang dia tidak mengerti untuk apa, pada ujung kanan bawah ada tulisan,

“Hendra. Jl. Kebalen V No. 30 Jakarta Selatan.” Seperti menemukan peta harta karun Tika mengingat-ingat alamat itu, kalaupun Hendra tak pernah akan memberi tahu tentang dirinya ada yang masih bisa dia ketahui dan cari tau tentang dia yang misterius.

Sudah hampir satu jam dan Hendra belum kembali timbul rasa khawatir di pikiran Tika. Sinar matahari agak redup dan beberapa kali terdengar geluduk, tandanya hujan akan segera turun. Tika tidak terlalu khawatir karena tenda dan tempatnya duduk sekarang terlindung di dalam goa, ada atap batu yang melindunginya dari hujan.

Sepuluh menit kemudian Hendra muncul membawa plastik tempat air dan dua ekor ayam hutan. Dia menghampiri tenda menggantungkan air dan ayam diatas dahan.

“Mereka masih mencari kita dan menyebar ke mana-mana, kita menginap di sini sampai keadaan aman untuk turun.” Tika menunggu informasi lain yang akan disampaikan Hendra

“Jumlah mereka makin banyak, polisi, tentara dari beberapa kesatuan, dan jagawana sudah tersebar bahkan pecinta alam juga ikut dalam tim pencarian. Ada beberapa orang yang badan dan ciri-cirinya mirip mereka yang di villa, aku lihat salah satu diantara orang-orang yang memburu kita.” Hendra tidak menceritakan perkelahian dengan salah satu dari mereka.

“Tempat ini aman ?”

“Sementara ini aman tapi besok mungkin mereka akan bisa mencapai tempat ini. Jumlah mereka semakin banyak.” Hendra menarik nafas.

“Mungkin mereka sudah mengetahui ciri-ciri ku dan mereka sudah tau tentang pengetahuanku akan gunung ini, makanya mereka tidak hanya menyisir ke selatan dan barat tapi juga ke utara dan timur laut. Sekarang mungkin sudah ada posko di sekitar Girimulyo, dan kita tidak bisa lewat sana.”

“Trus gimana, kita turun kemana”

“Kita istirahat dulu, pulihkan kesehatanmu, sebentar lagi juga hujan lebat akan turun mereka akan stop operasi. Aku akan mencari jalan dan menghitung semua kemungkian.” Hendra meyakinkan

“Perbekalan kita habis malam ini jadi besok pagi kita tidak bisa sarapan nasi, Cuma ada supermi dan telur”

“Besok pagi kita gak usah sarapan subuh kita mulai bisa turun, tadi aku coba jalan dan bisa” Tika memberi usul

“Bagus kalau begitu, aku masakin ayam dulu ya.” Hendra menambah ranting untuk perapian, sementara hujan mulai turun makin lama makin lebat. Tempat mereka benar-benar aman dari hujan karena tepat didepan tenda mereka ada dua pohon yang rimbun menutupi celah goa itu. Perapian yang dibuat Hendra kecil saja karena takut asapnya bisa mengundang kecurigaan.

Tika masih memandangi Hendra yang sedang sibuk menyembelih, membersihkan lalu membumbuinya,  kemudian membakar ayam tapi hanya satu, satu lagi masih ada tersangkut di ranting pohon paruhnya diikat sehingga tak bisa bersuara. Dia pikir mungkin untuk sarapan besok pagi. Hari sudah gelap dan hujan makin lebat dan belum menandakan akan berhenti. Nasi panas sudah tersedia kali ini nasinya tidak di liwet tapi ditanak, Tika benar-benar kagum pada Hendra, memasak pun dia begitu cepat dan terampil.

Malam itu mereka makan nasi dan ayam bakar kecap Tika memang sudah lapar apalagi bau ayam yang benar-benar menggoda. Hal yang tak pernah disangka oleh Tika sebelumnya, ayam bakar itu  bukan main lezatnya.

“Ihhh…. Hen enak banget ayamnya.” Tika kaget saat mencicipi pertama dan memandang Hendra heran

“Kok kamu pinter masak sih, pasti kamu semalam ngetawain masakanku ya”

“Gak lah. Masakanmu enak aku kan nambah kemarin.” Ada sesuatu yang dingin mengalir di dada Tika, senang sekali Hendra sudah mau ngobrol lagi, apalagi dipuji olehnya. Tika yakin kalau masakan ini ada di rumah makan di Jakarta pasti laku keras, benar-benar lezat tanpa bumbu penyedap gurih asli berasal dari ayam.

“Kamu pinter masak belajar dimana?” Tika memberanikan diri bertanya, Hendra senyum

“Itu rahasia perusahaan.” Jawab Hendra sambil masih senyum-senyum.

“Pelit.” Ketus Tika sambil memukul lengan atas Hendra, Tika mengambil lagi ayam bakar yang masih ada , rupanya dia benar-benar suka dan menikmati menu makan malam yang disiapkan Hendra. Terlintas dalam pikiran Tika jangan-jangan ini hanya sebagian kecil dari koleksi masakannya sambil memperhatikan Hendra yang sedang mencuci tangan sambil memeriksa ayam yang tergantung.

“Ayam itu untuk apa?”

“Oh ini untuk hadiah yang punya tempat, masa kita sudah pakai tempatnya gak kasih sesuatu.”

“Maksud kamu penunggu tempat ini ?”

“Iya”

“Hah…yang bener” Tika benar-benar ketakutan lalu berdiri memeluk Hendra

“Bukan mahluk astral yang aku maksud. Coba kamu perhatiin di depan ada yang bunder-bunder item.” Hendra mengarahkan senternya ke tempat yang dia maksud.

“Itu apa ?”

“Itu kotoran macan” Tika makin keras memeluk Hendra

“Trus nanti dia ke sini, ini tempat mereka ?”

“Ya sebentar lagi mungkin mereka ke sini, makanya kita sediakan makanan untuk mereka, bayar sewa tempat lah”

“Kamu kok gak takut sih, emang udah biasa?” Hendra kembali senyum-senyum

“Dah kamu istirahat lagi, besok subuh kita sudah harus siap.” Tapi Tika tetap bergeming memeluk lengan Hendra. Hendra menambah ranting-ranting pohon pada perapian agar tidak padam. Udara sangat dingin. Sementara Tika membuka mata lebar-lebar dan menajamkan pendengarannya khawatir kalau pemilik tempat itu datang, berdebar-debar dia menunggu saat itu tiba.

Sekitar pukul sebelas hujan berhenti dan langit mulai terang oleh cahaya bulan. Tika tertidur dipangkuan Hendra saat bahunya diguncang pelan, dia terbangun dan mendengar suara langkah yang aneh juga bau yang menyengat.

“Tuan tanahnya datang” Bisik Hendra di telinga Tika, dia memeluk lengan Hendra, tegang. Sementara sang macan berjalan santai lima meter di depan mereka  hanya terlihat sepintas, dia menjangkau ayam dan berlalu dari situ.

“Dia udah pergi ?”

“Sudah”

“Nanti dia balik lagi ?”

“Kalau sudah makan di sini dia akan cari ke tempat lain, pagi dia baru balik ke sini. Tidur”

“Bener ? Tapi aku tidur di sini aja.” Tika memasukan kakinya ke dalam kantung tidur berbantal paha Hendra. Tika merasa nyaman sekali seolah Hendra sudah menjadi miliknya, dia bisa mencium wangi tubuh Hendra ingin untuk selamanya ada di posisi itu dekat dengan Hendra.

Sementara Hendra sedang mencoret-coret rute dan melihat kompas. Dia menghitung jarak kemiringan dan memberi tanda-tanda pada jalur yang digambar, menghitung jarak dan kecepatan serta menandai jurang, air terjun juga sungai. Tika memperhatikan saat Hendra menulis satu nama kota.

“Kita turun di Magetan ?” Tanya Tika saat melihat gambar Hendra.

“Ya”

“Berarti ke timur atau tenggara ?”

“Betul, daerah itu sama sekali gak pernah dilalui orang, hanya binatang. Kontur dan elevasinya ekstrim, kita harus pakai tali untuk turun di beberapa tempat. Dulu aku pernah coba lewat jalur itu, mudah-mudahan masih ingat rutenya. Mereka sama sekali tidak akan ke sana karena jalur itu tidak pernah ada.”

“Mudah-mudahan kita aman” Sebenarnya Tika ingin sekali ditanya tentang dia supaya dia juga bisa sebaliknya bertanya, tapi Hendra masih mencorat-coret rute dan menulis desa Sidomulyo, Widorokandang ,Kalang, memberi tanda bintang di Kalang. Kemudian menggambar mobil dan garis ke pasar Goranggareng dan berakhir di Maospati, masing-masing diberi catatan jarak dan waktu tempuh. Beberapa catatan tentang mandi, istirahat, ganti pakaian, ganti sepatu direncanakan sangat detail. Tika tidak bisa tidur nyenyak, takut kalau pemilik tempat itu datang. Di luar suara binatang gunung saling bersahutan ramai sekali nyanyian alam yang merdu, tak lama kemudian Tika tertidur pulas Hendra membopongnya ke dalam tenda.

Ketika Tika bangun udara dingin sekali lebih dingin dari semalam, walaupun di luar langit terang. Memang udara pagi hari itu lebih dingin dari semalam. Hendra memberikan sikat dan pasta gigi, sabun dan handuk kecil, semua masih baru bungkusnya pun masih rapih. Ini adalah kali pertama Tika membersihkan diri sejak dua hari untung air yang dibawa Hendra cukup banyak, cukup untuk keperluan membasuh muka dan menyikat gigi. Nyaman sekali setelah tidak membersihkan diri walaupun belum sepenuhnya mandi.

Hendra sudah selesai mengemasi tenda dan perlengkapan lainnya, terakhir dia melipat kantung tidur dan matras, memasukan ke dalam carrier besarnya. Tika mengganti kaos, milik Hendra dan sepatu yang kemarin kotor dan basah sudah bersih dan kering, dia lalu memeriksa carrier kecil yang dibawanya memasukan botol minum dan sarung tangan, kupluk gunung masih dipakainya karena udara dingin terasa menggigit telinga. Hendra memeriksa sekeliling dan membersihkan tempat mereka menginap juga bekas perapian sehingga tempat itu kembali seperti semula sebelum mereka datang.

 

Selasa, 19 November 1985

Ketika mereka akan turun meninggalkan dasar jurang, Tika masih berdiri dan memandangi tempat itu. Kalau keadaannya berbeda ingin rasanya berlama-lama di sini, walaupun menakutkan tapi ada perasaan aman sehingga betah di situ, entah apa itu, susah menjelaskannya, seperti berada di rumah sendiri. Lamunannya memudar saat Hendra menegur.

“Yuk…Tika.” Dia pun beranjak dari situ mengikuti langkah Hendra

Tidak ada jalan setapak, tapi mereka berjalan menurun sangat tajam. Hendra menarik tangan Tika untuk berpegangan di lengannya, mereka turun perlahan menuju arah utara dan setelah turun sekitar lima belas menit berbelok ke arah timur. Ada tanda yang sudah dibuat Hendra kemarin, rupanya dia sudah mempersiapkan jalurnya.

Setelah berjalan tiga puluh menit, sampailah mereka di atas jurang di sebelah tenggara gunung Lawu, pemandangan dari tempat itu bukan main indahnya, di kejauhan terlihat gunung Kelud, Wilis, Arjuno dan Semeru berdiri megah diantara kabut tipis.

“Hen…indah sekali, rupanya ini kenapa banyak orang senang mendaki gunung.” Hendra tersenyum dan berhenti sejenak untuk beristirahat sekaligus memberi kesempatan Tika menikmati keindahan ciptaanNya.
Di kejauhan sana terlihat juga telaga yang luas dan air terjun yang tak kalah indahnya. Pagi itu memang langit sangat bersih biru tanpa awan di ujung sebelah timur matahari mulai memendarkan cahaya keindahan, rupanya sisi tenggara gunung Lawu benar-benar menakjubkan, tak akan bosan menikmatinya.

“Itu ada danau besar di bawah sana”

“Itu telaga Sarangan”

“Kita lewat sana ?”

“Gak. Kita akan lewat sedikit ke utara dari Sarangan. Telaga itu terlalu ramai, kita harus menghindari keramaian.”

“Yuk. Kita lanjut”

Hendra mulai berjalan perlahan sepuluh menit kemudian mereka kembali bertemu jurang, Hendra mengingat-ingat jalan untuk menuruninya, dia berjalan  ke kiri menyusuri tepi jurang, diujung jurang itu ada jalan air yang terjal. Hendra memasangkan harnes pada Tika dan mengaitkan tali dari akar yang dibawanya, kemudian sambil berpegangan pada batu-batu sepanjang jalan air Tika dikerek turun. Jurang itu sekitar tiga puluh meter sedangkan tali mereka  lebih panjang sepuluh meter. Hendra mengajari Tika cara turun dengan tali dan memcoba menurunkan sedikit sampai Tika benar-benar paham.

Tika sudah sampai dibawah, awalnya dia takut sekali tapi ternyata turun dengan tali menyenangkan. Setelah sampai di bawah Tika melepas tali, lalu tali ditarik Hendra untuk menurunkan kedua carrier.  Hendra turun tanpa tali merayap di bagian lain dari jurang itu, lima menit kemudian dia sudah sampai di sebelah Tika, membereskan tali dan menggendong lagi carriernya. Mereka meneruskan lagi perjalanan turun.

Beberapa kali mereka harus turun dengan cara itu, sampai kira-kira jam sebelas mereka sudah semakin dekat dengan desa tertinggi, ada asap mengepul tanda ada pemukiman di sana. Dari kejauhan sudah  tampak desa itu namun terlihat hanya ada beberapa rumah di sana,  tak lebih dari sepuluh rumah. Perjalanan menuju desa itu memakan waktu dua jam walaupun tidak ada jalan setapak tapi tidak ada lagi kontur tanah yang terjal. Mereka harus menyibak ilalang yang tinggi untuk melewatinya. Mendekati desa itu, kira-kira satu kilometer dari desa ada air terjun yang tinggi dan indah dan airnya sangat bening.

“Boleh mandi di situ ?” Hendra menggeleng pada Tika

“Kita harus menghindari hal yang mencolok, di depan aku akan cari tempat untuk menyimpan carrier besar ini dan juga jaket dan perlengkapan pendakian lainnya. Kita harus berpenampilan seperti dua orang yang sedang tamasya.”

Di tempat yang aman diantara batu besar tak jauh dari air terjun Hendra menyimpan semua perlengkapan pendakian mereka. Setelah itu bejalan menuju desa dengan mengambil jalan memutar ladang menghindari bertemu dengan orang-orang dusun.

Desa itu adalah desa Sidomulyo ada tulisan di plang irigasi di pinggir kali. Mereka terus berjalan melalui kebun tomat dan sayur-sayuran lainnya. Beberapa orang yang berpapasan mengira mereka  berwisata ke air terjun dan akan pulang. Hendra menegur ramah beberapa orang yang sedang bekerja di ladang.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju desa Widorokandang, Tika sudah lapar sekali. Ada warung makan yang mereka lalui tapi Hendra menengok pun tidak, Tika tak berani bertanya atau meminta. Sampai satu jam kemudian sekitar jam tiga mereka sampai di desa Kalang,

Hendra mencari kendaraan umum, tapi diurungkannya. Cerita tentang kejadian di Tawangmangu sudah jadi bahan obrolan para sopir. Hendra mencari pick up pengangkut sayur yang akan menuju ke Goranggareng, mereka menumpang dengan membayar ala kadarnya. Akhirnya sampailah mereka di desa Goranggareng.

 

Goranggareng adalah desa yang ramai, cukup banyak kegiatan ekonomi di sana, toko-toko kelontong, pakaian, rumah dan warung makan juga banyak. Suasana menjelang sore mulai sepi pengunjung tapi warung-warung makan masih banyak yang buka. Di dekat terminal berderet toko-toko sepanjang jalan. Hendra mengajak Tika  masuk ke salah satu toko yang cukup besar. Hendra membisiki Tika.

“Kamu pilih pakaian dalam, baju dan celana dan keperluan perempuan lainnya jangan lupa sepatu.” Tika bingung karena dia tidak punya uang sama sekali, Hendra memberi isyarat agar Tika cepat mencari keperluannya. Hendra juga mencari pakaian, sepatu dan perlengkapan mandi. Untungnya Hendra membawa perbekalan uang cukup banyak.

Setelah selesai berbelanja Hendra mencari penginapan sekitar terminal. Ada beberapa tapi dia memilih yang ada kamar mandi di dalam, dia minta dua kamar yang terhubung. Bukan main nikmatnya Tika membersihkan badannya  dia  mandi perlahan-lahan menikmati tetes demi tetes air. Setelah mandi hujan, keringat dan lumpur ,basah kering basah lagi dan kering lagi, bekas keringat yang kotor baru lepas saat itu.

Hendra pun membersihkan diri dan berganti kaos juga mencukur bulu-bulu di wajahnya yang sudah lebih sepuluh hari tak dibersihkan. Sejam kemudian Hendra sudah selesai dia lalu mengetuk pintu penghubung ke kamar Tika. Kebetulan Tika sudah siap.

Saat pintu di buka, mereka saling pandang takjub karena penampilan mereka berbeda. Tika terpukau oleh penampilan baru Hendra yang bersih dan tampan sekali walaupun sederhana, dengan sorot matanya yang sejuk tetapi misterius. Begitupun Hendra tak kalah terkejutnya mendapati kecantikan Tika yang berlipat-lipat dari yang dilihatnya waktu mencuri pandang, membuat dia makin salah tingkah.

“Kita cari makan dulu yuk.” Ajak Hendra yang sedang salah tingkah

“Iya aku lapar banget.”

“Mau makan mie bakso ? tadi aku lihat ada warung bakso di pojok jalan .”

“Iya mau…mau”

“Kalau masih kurang kenyang malamnya kita makan ayam bakar atau sate atau nasi pecel.” Tika tersenyum, Hendra menahan nafas mengatasi gejolak hatinya memandangi Tika dengan senyuman itu. Mereka lalu berjalan menuju warung bakso. Karena mereka lapar bakso itupun rasanya enak sekali. Gorang-gareng memang daerah yang masih sejuk udaranya terutama di malam hari, hawa yang sejuk menambah selera makan. Mereka berdua makan masing-masing dua mangkok, benar-benar lapar.

Selesai makan bakso Hendra mengajak Tika berjalan menyusuri trotoar melihat-lihat toko-toko sepanjang jalan. Beberapa tukang becak yang sedang mencari penumpang di sepanjang jalan itu menjajakan jasa mereka. Salah satunya menawarkan jasanya dengan wajah dan bahasa yang sangat ramah.

“Naik becak yuk Hen, aku belum pernah naik yang kaya itu.” Hendra menghampiri pengayuh becak ramah itu meminta diantar  ke alun-alun dan tempat makan pecel yang terkenal di sana lalu mengantar kembali ke penginapan. Mereka pun naik becak besar dan tinggi itu. Khusus untuk Tika ini adalah pengalaman pertamanya naik becak  jenis ini. Tika merasa senang dan bahagia sekali, beberapa kali dia mencuri pandang pada Hendra, sekarang dia benar-benar yakin kalau dia jatuh cinta. Hanya bagaimana cara dia harus mengatakannya pada Hendra dia bingung, karena pasti sulit menunggu Hendra yang canggung dan pemalu.

Menikmati jalan-jalan di desa itu sungguh mengagumkan, tak pernah terbayang oleh Tika dia bisa berada di situ, terlebih lagi bersama Hendra yang sangat baik dan ganteng. Saat itu dia bisa melupakan sejenak semua kejadian yang menyedihkan, dan bisa berlama-lama dengan Hendra.

“Itu alun-alun desa ini” Hendra memberi tahu Tika

“Ramai ya, itu sedang ada pasar dan sirkus”

“Malam ini untung gak hujan jadi mereka bisa menikmati bulan purnama”

“Oh iya sedang purnama, ih bulannya bagus sekali.”Tika memandangi bulan purnama yang indah

Hendra memberi isyarat pada pengayuh becak untuk berhenti di alun-alun, mereka berdua ingin menikmati malam hari bersama penduduk desa yang sedang bergembira. Mereka berjalan kaki diantara ramainya orang-orang di pasar malam. Melihat mereka berdua orang mengira mereka sepasang kekasih, karena Tika tak pernah melepaskan pelukannya di lengan Hendra.

“Habis ini, kita ke warung pecel. Kamu suka ?” Tanya Hendra setelah lebih dari dua jam di alun-alun.

“Suka… suka… yang ada lauknya macam-macam itu kan”

“Betul, kita di sini sampai jam sepuluh, setelah itu kita lanjut ke Maospati”

“Kita ke tempat siapa di sana ?.”

“Kakak ku dia dinas di sana, dari sana kamu bisa hubungi keluargamu.” Tiba-tiba Tika menunduk sedih sambil memainkan kukunya dia melirik Hendra yang juga bingung.

“Tika…Kenapa ? kamu gak suka ?”

“Kenapa gak besok aja, sekarang kita nginep di sini aja.” Tika masih berat berpisah dari Hendra. Sebetulnya Hendra juga berpikir yang sama tapi dia punya tanggungjawab yang berat atas keselamatan Tika, sehingga dia berpikir untuk secepatnya membawa Tika ke tempat yang aman. Selain itu dia sekarang makin yakin bahwa dia jatuh cinta, yang terakhir itulah yang lebih berat, dan dia tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan ini, dia benar-benar bingung.

“Nanti kita putusakan habis makan.” Tika tersenyum senang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Hendra.

Sampailah mereka di warung pecel yang diusulkan pengayuh becak. Kebetulan warung itu sedang ramai pengunjung sehingga mereka harus menunggu dalam antrian. Hendra memilih lauk empal dan tahu sedang Tika memilih ayam goreng, lahap mereka menyantap nasi pecel walaupun baru saja makan bakso, jelas mereka memang masih kelaparan. Warung ini memang terkenal di Gorang gareng, tak heran banyak sekali yang datang dari luar daerah, dari Solo, Surabaya atau kota-kota lainnya, selain masakan yang nikmat juga hawa dan suasana punya andil mempengaruhi selera. Beberapa tamu warung di bagian kanan sedang memperbincangkan sesuatu yang tertangkap telinga Hendra. Tak salah lagi, mereka sedang membahas koran pagi tadi.

“Durung ketemu yo ?” Tanya seorang bapak berumur limapuluh tahunan.

“Rung, iki wis telung ndino. Aku mau lewat Ngawi, kabeh di”stop”, dicek dikongkon mudun, bagasi diperikso.” Seseorang di meja lain menyahut.

“Arek wedok sing ilang iku jarene koran, anake jendral sing mentri iku lho.” Blam. Bukan main kagetnya Hendra dan dia mengumpat pada diri sendiri

“Goblok……..kenapa gak tanya siapa dia, waduh bener urusan ini panjang jadinya.”bisik Hendra dalam hati kemudian dia menengok Tika yang sedang asik dengan pecel dan ayam gorengnya.

“Tenang……semua memang sudah takdir.” Dia menjawab sendiri dalam hati lalu menyusun rencana baru

“Jadi gimana, kita nginep di sini khan ?” Tiba-tiba Tika bertanya saat Hendra sedang berpikir

“Ya… “ Hendra mengangguk pelan

“Makasih ya.” Tika tersenyum

Setelah menghabiskan teh panasnya Hendra membayar dan berbincang-bincang dengan penjual pecel “mbok Las” entah apa yang mereka bicarakan. Mereka menuju ke becak yang sudah menunggu untuk mengantar kembali ke penginapan. Ketika Tika masuk ke penginapan Hendra masih berbincang dengan penarik becak, yang nama panggilannya “pak Jo”.

Waktu sudah menunjukan pukul sebelas ketika mereka sampai di penginapan. Hendra meminta disiapkan air putih untuk minum malam itu sambil meminta koran terbit pagi, lalu mereka menuju kamar masing-masing. Hendra lelah sekali namun dia masih menunggu pesanannya dan tak lama kemudian pintu diketuk, pesanannya diantar berikut koran pagi tadi.

Ternyata memang benar berita hilangnya Tika menjadi headline beruntung mereka tidak memasang photonya, hanya photo operasi pencarian yang ada disana. Hendra membaca perlahan-lahan, isi beritanya bahwa anak perempuan seorang menteri yang juga jenderal diculik setelah peristiwa perampokan dan pembunuhan. Seorang diantara rampok itu membawanya mendaki gunung Lawu dan sampai sekarang masih dilakukan pencarian oleh tim gabungan. Menurut laporan lokasi mereka di sekitar utara gunung di ketinggian 2600 meter, pencarian semalam terkendala oleh cuaca buruk, badai dan hujan lebat sehingga pencarian dihentikan.

Jadi benar, memang Tika anak jendral hal ini membuat Hendra harus berhati-hati walaupun dia sudah yakin kalau dia benar-benar jatuh cinta. Pertemuan yang tak disengaja dan tragis ini terjadi hanya dalam tiga hari, tapi mudah-mudahan setelah mengantar pulang perasaannya akan berubah. Maka dia tak ingin menanyakan itu pada Tika dan lebih baik dia lakukan sebatas menolong dan menyelamatkannya. Hendra mulai menyusun rencana besok siang karena jarak dari terminal ke Maospati tidak terlalu jauh kalau dengan bus hanya satu jam paling lama.

Pintu penghubung di ketuk, Hendra membuka pintu, dibalik pintu Tika sedang memegang gelas kosong.

“Aku haus…tadi pesen air minum kan ?” Hendra lupa memesankan untuk Tika, tapi air yang ada cukup untuk mereka berdua.

“Iya ada di meja.” Tanpa menunggu Tika langsung menuju meja mengisi gelasnya lalu dia duduk di tempat tidur, minum sambil menyalakan televisi.

“Aku takut sendiri, boleh aku tidur di sini ya?” Hendra bingung tapi berusaha tenang

“Iya…” Hendra pindah duduk di kasur sebelah, untung twin bed.

Tak lama berselang Tika sudah tertidur pulas. Hendra memandangi wajah Tika yang makin cantik saat tidur, dia tidak bisa membayangkan kalau harus jauh dengan Tika, perasaan yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya. Apa dia harus terus terang pada Tika kalau dia suka dan cinta dia. Hendra walaupun lelah tapi masih susah untuk tidur pikirannya melayang jauh, sampai beberapa jam kemudian dia akhirnya lelap juga.

 

Rabu, 20 November 1985

Menjelang subuh mereka sudah bangun dan mandi. Hendra pamit pada Tika untuk shalat subuh di masjid dekat penginapan. Tika baru tahu Hendra seorang muslim, mungkin dia tidak memperhatikan saat dia shalat di gunung kemarin.

Pagi itu seperti kemarin langit cerah udara pagi sejuk tak ada tanda akan hujan. Mereka sarapan di penginapan sambil membaca koran, mereka berbincang pelan di meja pojok.

“Kamu sudah baca berita tentang kita ?” Hendra mengangguk

“Tentang asal-usul ku juga ?” Hendra mengangguk

“Ooo….jadi kamu sudah tau ?” kembali Hendra mengangguk

“Kamu tuh kaya batu ya, gak bisa ngerti perasaan orang lain.” Tika berdiri lalu berjalan kembali ke kamarnya. Hendra bengong dan sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, dasar Hendra. Sudah canggung, cuwek, bego pula. Dia bisa begitu perhatian ketika di alam terbuka yang sepi, tapi begitu di keramaian dia menjadi makhluk penyendiri, hidup menjauh dari keramaian. Apalagi kalau dia diminta berpartisasi dalam kelompok, dia hanya mengikuti atau diam tidak berpendapat. Mungkin pengalaman hidup sebatang kara membuatnya enggan terlalu banyak dan tergantung pada suatu kelompok. Hidup baginya adalah perjalanan dari hari ke hari lainnya yang entah akan kemana dan dia hanya mengikuti takdirnya, tidak punya cita-cita, keinginan apalagi harapan. Sendiri di alam bebas, di gunung, di laut dalam setiap petualangannya dia menemukan kebahagian. Kalau ada sebutan “JAGO KANDANG”, Hendra ini “JAGO LUAR KANDANG”. Waktu di gunung dia bisa begitu perkasa, hebat, pintar, cekatan dan sangat perhatian pada semua mahluk, tapi begitu di masyarakat ramai, mengkeret, gak punya nyali. Apalagi sama perempuan ngomong pun bingung, lebih-lebih lagi cantik, kaya, anak pejabat, langsung nyalinya ciut macam ayam sayur. Sampai-sampai dia lupa kalau dia jatuh hati.

Hendra mondar-mandir di depan pintu penghubung, mau mengetuk ragu-ragu, sementara hari makin siang. Akhirnya sambil menahan perasaan dan memejamkan mata dia mengetuk. Beberapa kali tidak dibuka juga.

“Tika…” Pintu terbuka

“Kenapa ? “

“Kita berangkat.”

“Kemana ?”

“Saya antar kamu ke tempat aman untuk bisa dijemput.” Tika benar-benar kesal, kenapa Hendra ini seperti orang yang belum kenal dia padahal sudah tiga hari mereka bersama-sama, benar-benar menyebalkan dan tidak berperasaan.

“Udah lah lebih baik pulang ke rumah dari pada kesel.” Kata Tika dalam hati, Tika sudah siap di depan pintu kamarnya ketika Hendra juga keluar, mereka lalu menuju petugas penginapan untuk membayar. Dari penginapan mereka berjalan kaki menuju ke terminal, selama mereka berjalan Hendra melirik-lirik Tika, dan Tika malah buang muka memberi pesan dia sedang tak mau diajak ngobrol. Hendra makin ciut.

Mendekati terminal banyak angkot “ngetem” dan Hendra mendekati salah satu dan mulai menanyakan harga untuk tujuan yang dia maksud dan setelah tawar-menawar selesai dia mengajak Tika naik.

Sepanjang jalan menuju Maospati supir angkot bertanya-tanya pada mereka namun Hendra hanya menjawab seperlunya atau dengan jawaban “Yo” dan “Gak” memang Hendra fasih berbahasa jawa. Akhirnya supir itupun tahu kalau penumpangnya tidak ingin digangggu, maklum mungkin sedang pacaran pikirnya. Tapi sebenarnya kalau diperhatikan orang, semua pasti berprasangka mereka adalah pasangan kekasih. Bagaimana tidak, yang satu cantik ayu khas gadis jawa dengan wajah lonjong, hidung mancung, mata lebar, alis mata tebal dengan bulu mata lentik, bibir mungil tidak terlalu tipis, kulit putih bersih dan tinggi badan sekitar 170 cm. Sementara yang laki-laki tampan, tinggi gagah, berkulit putih kemerahan, bentuk wajah oval, hidung mancung dan bentuk bibir yang sangat menggoda gadis-gadis yang melihat, juga yang istimewa adalah bola matanya yang berwarna coklat.

Tak terasa mereka sudah dekat  Maospati, supir pun bertanya.

“Trus ning endi iki mas ?”

“Nengen, aku mudun ning komplek”

“Komplek Iswahyudi ?”

“Iyo.” Tika sempat mengernyitkan keningnya, namun dia masih kesal maka dia diam.
Sampai di depan pos jaga mereka turun dan Hendra membayar ongkos pada supir angkot.

Mereka lalu menuju pos jaga dan Hendra mengeluarkan kartu nama pada petugas piket. Petugas pos jaga kelihatan sibuk dan Tika yang sudah biasa dengan kehidupan militer tahu pasti itu kartu nama  orang penting disitu, petugas itu menelpon kemudian dengan hormat mempersilahkan mereka berdua menunggu. Kira-kira tiga menit kemudian datang mobil dinas yang menjemput mereka dan mereka diantar ke salah satu rumah yang paling besar dibanding rumah lainnya. Hendra turun dan tanpa diduga Tika, tiba-tiba tangannya digandeng berjalan menuju rumah. Benar-benar tak karuan perasaan Tika saat itu senang, sedih, menyesal entah campur aduk.

Setelah sampai di depan pintu rumah yang terbuka, seorang perempuan keluar tergesa-gesa dan memandang Hendra tak berkedip dan Hendra buru-buru menghampiri dan memeluknya akibatnya perempuan itu menangis sesenggukan, Tika masih belum mengerti maka dia hanya memperhatikan.

“Kamu kenapa gak pernah nengok kami setelah ibu sedo ?”

“Sepuramu mbak, sekarang aku ke sini toh.”

“Iso ae kowe iki. Gimana kamu sehat-sehat ?.”

“Sehat mbak alhamdulilah pengestumu mbak, mas dan ponakanku semua sehat toh.”

“Iyo..alhandulilah, kita semua kangen banget lo. Lebaran tahun lalu kita semua nunggu kamu.”

“Maafkan aku mbak, ada tugas pas Lebaran kemarin.”

“Eeh kamu sama siapa, ayu banget… ini kamu bawa calonmu, arep mbok kenalne, alhamdulilah doa ku terkabul ?” Merah muka Hendra, cepat-cepat dia tarik Tika mendekat.

“Mbak ini Tika, Tika ini kakak ku mbak Rini.” Mereka berjabat tangan

“Ayo… kita ke dalam, kamu sudah sarapan Tirto.” Tika bingung kok “Tirto” bukan “Hendra”

“Sampun mbak”

“Ayo kita ngobrol di ruang belakang.”

“Apa mas Dodi nanti makan siang di rumah mbak ?”

“Sebentar aku tak telpon ke kantornya, dia pasti pengen banget ketemu kamu.”

Mereka ngobrol di ruang belakang rumah sambil minum es degan yang segar. Tika masih memperhatikan perbedaan Hendra dan kakaknya, sama sekali berbeda tidak mungkin mereka saudara kandung.

Di depan rumah terdengar suara mobil berhenti dan suara langkah menuju ke tempat mereka ngobrol. Bergegas Hendra mencium tangan dan memeluk kakak iparnya. Berkali-kali kakak iparnya itu melepas, memperhatikan Hendra yang lebih jangkung darinya dan memeluknya lagi. Kemudiam Hendra mengenalkan Tika pada mas Dodi.

“Mas aku mau ngomong sebentar.” Hendra mengajaknya ke ruang tamu, dan dia menjelaskan kepadanya tentang semua peristiwa yang dia alami dan tuduhan-tuduhan terhadapnya. Kakak iparnya itu kemudian sibuk menelpon, dan beberapa menit kemudian rumah itu sudah dijaga pasukan khusus angkatan udara, bahkan terjadi mobilisasi pasukan dengan penjagaan ketat sampai di jalan raya. Tak lama kemudian anggota kepolisian dan pasukan angkatan darat pun datang memenuhi halaman rumah.

“Tika kamu boleh menelpon ke rumah sekarang.” Jelas Hendra

Tika berjalan ke meja di sebelah kanannya dan mulai memutar nomor telepon. Dia menangis entah berbicara dengan ayah atau ibunya, Hendra berdiri di sebelahnya menjaga kalau tiba-tiba sock lagi.

“Mas Dodi papi mau bicara.”Tika memberikan gagang telepon pada Dodi

“Siap..siap…siap…laksanakan” Hanya itu yang terdengar

“Tika, kami akan siapkan pesawat yang membawa kamu ke Jakarta. Jam tiga nanti pesawat sudah siap berangkat, sekarang kamu istirahat dulu ya.” Jelas mas Dodi

Rini mengajak istirahat di kamar tamu tapi dengan halus Tika menolak dan mereka lalu ke meja makan untuk makan siang soto ayam kampung kuwah bening yang gurih dan sangat lezat.

“Tika, kamu harus tau. Soto buatan Tirto lebih enak dari soto ini.” Hendra tak bisa berbuat apa-apa, di mata kakaknya dia adalah adik yang selalu dibanggakan, dia tidak akan bisa apalagi tega untuk menentangnya.

“Iya, dia memang hebat mbak. Saya dimasakin ayam bakar dan sampai sekarang rasanya masih belum lupa.”

“Aduh kamu beruntung banget, mbak sudah lama gak dimasakin ayam bakar kecap nya.”

“Memang dari kecil sudah pinter masak mbak ?”

“Waktu kita masih kecil, kita semua selalu menunggu saat dia punya waktu untuk masak. Kalau dia sudah datang ke dapur, ibu akan meninggalkan dapur karena dia sudah tau masakan Tirto akan lebih lezat, bahkan ibu sendiri pun lebih senang masakan Tirto daripada masakannya sendiri. Ibu bilang Tirto masak sungguh-sungguh dengan hati dan itu bisa dirasakan oleh yang makan. Dia juga selalu mengubah-ubah rasa jadi kita tidak pernah bosan walaupun bahannya sama.”

“Ih bener mbak,  sampai sekarang gak bisa lupa rasanya ayam bakar.”

“Mbak Rini…wis to mbak.” Hendra protes

Hendra kemudian dipanggil mas Dodi untuk bertemu dengan petugas kepolisian untuk memberikan keterangan yang diperlukan untuk membuat berita acara. Tinggal Tika dan mbak Rini masih ngobrol.

“Jadi kamu kenal Tirto karena peristiwa di Tawangmangu itu ?”

“Iya mbak.”

“Tirto itu tertutup sekali, tapi kemana dia berada gadis-gadis selalu ingin jadi pacarnya. Selain dia ganteng, juga suka membantu  tanpa pamrih. Tapi yaitu dia itu susah bergaul, dia minderan.” Tika memperhatikan dan mengingat satu per satu yang diceritakan mbak Rini

“Kamu beruntung, tadi mbak lihat kamu digandeng waktu datang. Dia belum pernah melakukan itu pada gadis manapun. Kecuali pada kami kedua perempuan kakak angkatnya.”

“Jadi dia itu…..”

“Ya dia memang bukan adik kandung kami, tapi keluarga kami sudah menjadikannya anak dan adik kami. Dia yatim piatu yang tak tahu ayah ibunya.”

Bumi terasa berhenti berputar kepala Tika terasa berat, dia sudah capek menangis tapi kali ini tidak bisa menahan air matanya yang jatuh saat mendengarkan cerita mbak Rini, itu sebabnya Hendra selalu menghindar kalau ditanya masalah keluarga.

“Dia sangat sayang pada ibu kami bahkan melebihi kami anak-anak kandungnya. Beberapa tahun lalu ketika ibu sakit dan harus dirawat di rumah sakit di Solo, Tirto mengontrak rumah di Solo sendirian mengurus ibu. Sejak awal ibu sakit dia sudah ada dekat ibu, dia tinggalkan pekerjaan dan kuliahnya untuk mengurus ibu, saat itu kami semua masih susah, anak kami masih kecil-kecil, Mas Agung kakak kami yang paling besar sekolah master di Auchen. Belakangan kami baru tau Tirto juga yang selalu kirim uang untuk keluarga mas Agung di Bandung. Sampai ibu meninggal kami hanya sedikit mengeluarkan biaya, semua Tirto yang membayar. Kami tanya uang dari mana, jumlahnya besar sekali, kalau kami kumpulkan bertiga juga gak akan sanggup . Dia hanya tersenyum dan menjawab dari Tuhan. Setelah ibu gak ada setiap bulan dia selalu mengirimi kami, akhirnya kami tegur, apalagi setelah kondisi kami sudah cukup, kami ingin dia menabung untuk dirinya. Tapi dia memang selalu keras kepala, berhenti mengirimi kami, dia kirim ke keponakannya semua. Kami sayang dia dan kami juga tau dia sayang kami. Selain kami dia memang tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Tapi dia kenapa begitu tidak bisa menghargai perasaan orang lain mbak.”

“Maaf Tika, kamu sayang Tirto ?” Tika menunduk tak menjawab, mbak Rini tersenyum senang.

“Dia itu canggung, bingung kalau menghadapi perempuan. Tapi dari cara dia melihat dan memperlakukan kamu mbak yakin dia pun sayang sama kamu, jadi kamu yang sabar, dia tuh gak bisa didesak.”

“Oh…gitu ya mbak. Makasih nasehatnya mbak.”

“Nanti mbak juga tanya dia, kalau sama kami bertiga dia tuh polos gak ada yang disembunyikan. Kalau posisi kamu sudah seperti kami dia akan terbuka sekali.” Tika manggut-manggut mengerti bahwa dia harus bersabar, dia tersenyum puas artinya dia sudah mendapat lampu hijau dari salah satu kakaknya. Segera terusir rasa kesal dan galau tadi pagi, berganti dengan harapan.

Jam dua, rombongan penjemput dari Jakarta sudah datang dan mereka adalah ajudan-ajudan bapak Tika dan kakak laki-laki Tika, mereka langsung masuk menemui Tika yang juga sudah siap-siap. Tika berpamintan dan berterimakasih pada mbak Rini dan berjanji akan datang lagi mengunjunginya, mereka lalu berpelukan. Saat akan meninggalkan rumah mbak Rini, Tika mencari-cari Hendra yang tidak ada disitu, juga waktu diajak ajudan dan kakaknya untuk naik mobil dia masih belum mau, dia ingin bertemu Hendra.

“Tirto sedang berbicara dengan petugas polisi.” Kata mas Dodi

“Dimana dia mas ?”

“Di kantor polisi di Madiun, setelah kalian berangkat saya juga akan kesana.”

“Dia gak apa-apa khan, jangan sampai difitnah mas, saya korban sekaligus saksi.”Tegas Tika

“Justru nanti saya akan dampingi dia”

“Kalau gitu saya mau ke kantor polisi dulu, dia sudah nolong saya. Sekarang saya harus lindungi dia kalau dia…..” perasaan Tika tidak enak, ada yang tidak beres.

“Jadi pemuda yang di kantor polisi itu yang nolong mbak Tika ?” Tanya salah satu ajudannya

“Iya.”

“Kalau begitu kita ke kantor polisi dulu.” Perintah salah satu ajudan paling senior

“Siapkan pasukan ke sana” perintah ajudan yang lain kepada seorang perpangkat kapten angkatan darat.

Mas Dodi dan beberapa perwira serta anggota pasukan khusus angkatan udara mendampingi ajudan-ajudan itu, beberapa diantaranya adalah pasukaan khusus Angkatan Darat dan Laut

Sesampai di kantor polisi di Madiun mereka langsung menemui Kapolres dan ajudan-ajudan yang rata-rata adalah perwira itu langsung menemui petugas yang memeriksa Hendra.

Di dalam kantor, seorang petugas mengetik dua jari di atas kertas, beberapa petugas dari reserse bertanya dengan gaya arogan. Pertanyaan mereka berhenti setelah perwira angkatan darat dan pasukan khusus dari Angkatan Darat dan Angkatan Udara masuk, beberapa nampak kurang senang sementara lainnya hanya duduk membisu.

“Sudah selesai urusan berita acara ?” Salah satu perwira bertanya tegas

“Belum kami sedang periksa”

“Sampai kapan ?”

“Sampai kami selesai” Keadaan mulai menghangat seorang anggota pasukan khusus mulai mendekat

“Kalian sudah bekerja dari tiga hari lalu dan belum ketemu bukti, sekarang kalian sudah ketemu saksi yang bisa mengungkap kasus ini, atau kalian sedang mengejar pengakuan.”

“Kami sedang bekerja, jangan diganggu.” Polisi itu tersinggung, seorang dari anggota pasukan khusus itu maju dan menatap mata polisi itu dari dekat, sepuluh sentimeter.

“Kalau kami mengganggu kalian mau apa?” Tiba-tiba suasana menjadi tegang, jelas polisi reserse itu kehilangan nyalinya. Seorang perwira polisi masuk dan langsung memberi perintah.

“Perintah atasan. Batalkan semua pemeriksaan, selanjutnya dialihkan ke Mabes !”

Mereka semua keluar dari ruangan itu, juga Hendra. Di luar Tika sudah menunggu Hendra, dia cemas sekali dan begitu dia melihat Hendra dia langsung lari memeluknya.

“Kamu gak apa-apa kan ?” Hendra menggeleng dan tersenyum

“Gak apa-apa.”

Ajudan dan kakak Tika sudah di dekat mobil sedangkan Tika merasa berat sekali berpisah dengan Hendra, tapi dia harus berangkat kakaknya sudah memanggil. Tika berdiri dekat sekali dan memegang tangan Hendra, sekali lagi dia memeluk Hendra, membenamkan wajahnya di dada Hendra. Hendra melingkarkan tangannya mengeratkan pelukan, dia juga tidak ingin jauh dari Tika.

“Hen… makasih ya untuk semuanya, aku tunggu kamu.” Hendra sesungguhnya bingung sekali saat itu

“Ya, hati-hati.” Hendra menjawab lirih. Sudah cukup untuk Tika sebagai janji mereka bisa bersama lagi, dia tersenyum dan melambaikan tangan menuju mobil yang sudah menunggu.

Salah satu perwira itu datang dan untuk menjabat tangan Hendra untuk berterimakasih, sambil berjabat tangan Hendra berbisik.

“TXCQR”

Perwira itu terkejut, tapi cepat menguasai diri seolah tidak mendengar apapun dan dia bergegas ke mobil yang sudah menunggu.

Saat mobil itu meninggalkan kantor polisi Tika masih terus memandangi Hendra berat untuk berpisah dan jauh darinya, air matanya terus mengalir sambil melambaikan tangan. Hendra pun terus terpaku di tempatnya berdiri sampai mobil itu tak terlihat lagi. Namun Tika tidak sendiri, perwira yang berjabat tangan dengan Hendra pun terus memandangi Hendra, perwira dengan tanda setrip kecil oranye-hitam dibalik kerah seragamnya mengingat-ingat sesuatu dan dia lalu tersenyum mendapatkan ingatannya kembali akan kode itu.

Setelah mobil itu tak terlihat lagi Hendra pun kembali ke rumah kakaknya di komplek Angkatan Udara di pangkalan udara Iswahyudi. Di mobil yang membawanya bersama mas Dodi wajah Tika terus memenuhi pikirannya, beberapa kali mas Dodi harus mengulang pertanyaannya.

Hendra tinggal dua hari di rumah dinas suami Rini berkangen-kangenan dengan kakak-kakaknya karena Ayu dari Denpasar dan Agung dari Bandung juga datang dengan keluarga masing-masing. Mereka pelesir ke tempat-tempat wisata di sekitar Madiun dan Hendra sangat senang diantara kakak-kakak angkatnya juga keponakannya. Hari Sabtu mereka semua pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Bersambung

Lawu Aku Dia 5

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *