Lawu Aku Dia 5

Sabtu, 23 November 1985

Keluarga Agung dan Ayu sudah pulang, tinggal Hendra pagi itu juga bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta, dia memilih naik Bus dari depan komplek perumahan Angkatan Udara Iswahyudi, sebelum pamit mbak Rini  mengajaknya ngobrol.

“Skripsimu sudah selesai ?”

“Sudah mbak, sudah sidang dan alhamdulillah lulus, tinggal wisuda bulan depan”

“Alhamdulillah, kami akan datang wisudamu. Kamu sudah khabari pakde Mus ”

“Sampun mbak tapi gak usah repot, aku juga belum tentu bisa datang. Awal Desember ada tugas ke Afrika Selatan.”

“Nyapo to adoh-adoh, ninggalno wisuda pisan”

“Tugas mbak.”

“Tika iku ayu yo, awakmu piye ?”

“Opo to mbak, mbok ojo aneh-aneh.”

“Lho opo ne sing aneh, ayu toh ?”

“Iyo mbak. Ayu.”

“Cocok dadi adik iparku…wis ayu, sopan. Mas Dodi cerita kamu pelukan di kantor polisi waktu Tika mau pulang.”

“Iya dia mau bilang terimakasih mbak gak ada yang lain kok.”

“Gak ada yang lain gimana sih. Kamu sendiri gimana suka gak sama dia. Eh sayang gak sama dia ?”

Hendra pasang senyum khasnya.

“Akhirnya adikku bisa jatuh cinta, alhamdulillah”

“Mbak ojo  mbok ceritakno mbak Ayu, mas Agung yo, aku isin.”

“Isin…? kasep!  Wis podo ngerti, tapi gak opo-opo toh. Podo seneng kabeh.”

“Iyo gak opo-opo mbak.” Hendra memang selalu tidak bisa menolak apapun yang kakak-kakanya inginkan.

“Mbak aku pamit ya pulang ke Jakarta, nek mas Dodi tugas ke Jakarta aku dikabari yo. Nginep gonaku. Pamitno mas Dodi mbak.” Hendra mencium kedua pipi kakaknya.

Dari depan kompleks Hendra naik bus “Mira” menuju solo. Di sepanjang jalan wajah Tika tak pernah bisa hilang, memandangi gunung Lawu lewat kaca jendela bus, seakan mengundangnya kembali ke sana. Ingatannya satu persatu muncul, mulai dari kejadian mengerikan di villa di Tawangmangu, perkelahiannya dengan salah satu dari komplotan bersenjata itu, pertemuannya dengan Tika, perjalanan naik gunung Lawu bersama Tika, saat dia sakit, saat Tika jatuh ke jurang dan dia cemas setengah mati, tinggal di jurang tempat tinggal macan dan Tika ketakutan, Perjalanan rute sulit lewat sisi timur, lalu menginap sekamar di Gorang gareng  dengan Tika. Hendra ingin bisa memutar balik waktu dan tetap bersama Tika. Dia bingung karena ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya mendapatkan perasaan aneh, sekaligus membuat hatinya sejuk dan nyaman, dia berusaha keras untuk menekan perasaan itu. Sial, kali ini antara logika di otaknya dan perasaan bertempur hebat, akhirnya Hendra pasrah dia biarkan perasaan itu dibawa ingatannya pada Tika, begitu dia lebih tenang.

Di tempat yang jauh di belahan dunia yang lain, Tika merasakan kehilangan dan rindu yang lebih hebat, karena saat Hendra dalam perjalanan menuju Jakarta Tika sudah berada di apartemennya di London. Tika tidak bisa lagi berdebat dengan papinya untuk akhirnya harus pindah kuliah di Inggris, hanya satu hari setelah dia sampai di rumah dia harus berkemas untuk berangkat esok harinya ke London. Dia ingin bertemu sekali saja dengan Hendra sebelum dia berangkat tapi tidak boleh keluar sama sekali. Bahkan untuk pergi ke makam sahabat-sahabatnya pun dia tidak bisa. Akhirnya dia hanya bisa menangis juga saat mbok Nah membawa amplop terbuka tanpa pengirim dan sudah disortir petugas jaga, tangisnya menghebat. Dua lembar photo, Hendra sedang sendiri di depan kantor polisi di Madiun dan satu lagi saat mereka berpelukan, lama dia pandangi photo-photo itu tanpa sadar Tika mencium photo Hendra.

Memang semua sudah menjadi takdir manusia, kejadian yang hampir sama saat Hendra tengah mengeluarkan barang-barang dari dari dalam carriernya, dan dia menemukan amplop putih berisi photo Tika sendiri di rumah mbak Rini dan photo mereka sedang berpelukan, mungkin mbak Rini yang menaruh photo-photo itu. Rindu, itu perasaan yang muncul. Baginya tidak sukar untuk mencari dan menemui Tika dia punya cara cepat untuk melakukannya, tapi dia harus menyelesaikan dulu urusan dengan polisi untuk menuntaskan berita acara kesaksiannya. Terpaksa dia harus menekan semua keinginannya untuk bertemu Tika atau setidaknya hanya melihat Tika, sekedar untuk membunuh rasa rindunya. Lama dia pandangi photo itu, gadis cantik yang bisa menembus benteng jiwanya yang selama ini terjaga kokoh.

 

Tahun berganti, namun adalah kehendak sang Pencipta alam semesta dan isinya. Dua anak manusia yang bertemu, jatuh cinta dan saling berjanji untuk bertemu kembali. Tapi kenyataan berkata lain dan masing-masing masih memendam rindu itu bertahun-tahun.

 

Jumat, 18 Maret 1988

Jakarta panas sekali, terlebih di tengah hari seperti ini. Matahari kerahkan semua energi panasnya, membuat keringat terus mengucur di sekujur tubuh untuk menjaga kelembaban kulit. Untunglah masih ada angin yang membantu mengantarkan udara meniupi kulit yang panas berkeringat.

Tika membolak-balik koran yang sudah dua kali dia baca, tapi daya tariknya belum juga habis. Dia punya kebiasaan membaca koran setiap pagi dan sudah tiga tahun tidak membaca koran itu. Hari ini adalah hari pertama dia berada di rumah orang tuanya di Jakarta. Sebetulnya dia bisa mendapatkan koran Indonesia di London tapi tak akan senyaman membaca di rumah dimana dia dilahirkan, sambil duduk minum teh di halaman belakang, bersama Kiko anjing yang selalu setia menemaninya.

Rumah sepi, Papinya pagi-pagi sudah pergi ke kantor dan tak lama mami nya pun berangkat untuk rapat bisnis. Tika sudah terbiasa dengan kondisi ini. Sore nanti kedua kakaknya dan keluarganya akan datang menjemput untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka di Bandung, sedangkan mami dan papi mereka akan menyusul besok pagi dengan pesawat.

Keluarga Tika tiga bersaudara, kakak Tika yang paling tua, laki-laki Arif Utama yang menjemput Tika di Madiun tiga tahun lalu, yang kedua perempuan Inna Ayuningtyas, Tika bungsu dari tiga bersaudara. Mereka sangat rukun satu sama lain dan Tika selalu mendapat perhatian lebih dari anggota keluarga.

Sore itu dengan dua mobil mereka berangkat ke Bandung, selama perjalanan melalui jalan raya puncak mereka berhenti beberapa kali menikmati udara sejuk dan memberi waktu anak-anak bermain atau makan, akibatnya perjalanan jadi lebih lambat. Sekitar pukul delapan mereka baru sampai di rumah keluarga Purnomo. Ada yang aneh tidak seperti biasanya kalau orang akan mantu, tidak terlihat kerabat ramai mempersiapkan acara tradisi jawa yang panjang menjelang akad nikah.

Rumah keluarga Purnomo juga berubah karena pohon jambu di depan rumah sudah tak ada lagi, mungkin disiapkan untuk pasang tenda. Kursi-kursi masih menumpuk di depan garasi. Beberapa kebutuhan persiapan manten adat jawa memang sudah terlihat, tapi belum ada yang dipasang.

Mereka langsung masuk tanpa permisi lagi, rumah ini sudah seperti rumah kedua buat mereka. Ruang tamu sepi juga ruang tengah. Ternyata mereka sedang berkumpul di ruang keluarga dan sedang dalam pembicaraan serius. Tante Ade, istri om Purnomo masih sembab matanya ketika mereka datang memeluknya. Arif yang tertua dari keluarga setelah orang tuanya langsung bertanya.

“Ada masalah apa tan?”

“Aduh… tante bingung Rif, Metty tiba-tiba mogok gak mau nikah. Acara akad nikahnya besok , terus gimana ini ?”

Mereka semua kaget dan juga belum mengerti duduk masalahnya.

“Om kemana ?”

“Om mu sedang ke rumah sahabat Metty buat mbujuk biar mau nikah.” Tante Ade benar-benar kebingungan.

“Metty dimana sekarang Tan?” Tika bertanya

“Di kamarnya, coba kamu bujuk dia, kamu kan yang paling deket.”

“Iya Tan.” Tika lalu menuju tangga dan naik ke kamar Metty diikuti Arif dan Inna. Pintu diketuk beberapa kali tapi tak ada jawaban akhirnya Tika memanggil

“Met. ini gue Tika.” Seketika pintu dibuka dan Tika langsung ditarik masuk sementara yang lain ikut masuk juga.

“Dimana lu kenal Hendra ?”

Bammm. Seperti palu lima ton dipukulkan ke kepala Tika ditambah lagi Metty menunjukan photo dirinya dan photo Hendra dan dia berpelukan mesra. Angin dingin gunung Lawu sekonyong-konyong lewat di belakang leher Tika.

Rupanya suara keras itupun terdengar oleh semua yang ada di ruang keluarga sehingga mereka semua ikut naik dan masuk ke kamar.

“Masih tentang Hendra lagi ? Udah donk Metty kamu kan sudah mau nikah.” Tante Ade mengiba

“Mama jahat. Hendra itu baik sekali,  aku sayang dia.”

Tika sudah hampir tak bisa menahan lagi perasaannya, mungkinkah Hendra melakukan itu pada tunangan orang ? Dia yakin Hendra tak mungkin melakukan itu, dia bukan orang yang seperti itu.

“Betul Met, gua memang kenal dan deket” Tika harus berkata jujur dan ia siap berjibaku untuk membela Hendra dan tak akan rela Hendra difitnah, Hendra yang dia rindukan. Dibenaknya masih belum menerima kenapa dunia sesempit ini. Lalu diambilnya dua photo itu memang betul photo di depan kantor polisi dan photo dia di rumah dinas mas Dodi di Madiun, mengikuti nalurinya, dia balik photo itu.

“Cinta ku Tika….Lawu.”

Tika mendekap photo itu dan menangis, bertahun-tahun rindu itu ditahan. Arif yang sudah pernah bertemu Hendra tentu sudah tahu yang dialami adiknya, cepat-cepat dipeluknya.

“Dek…sabar ya.” Tika sedikit tenang.

Lalu kembali Metty bertanya

“Dia pacar lu Tik ?”

“Ya. Met, lu inget kejadian tiga tahun lalu. Gue diselamatin seorang pendaki. Hendra orang nya.”

“Oohhh. Kenapa dia gak pernah cerita ya.”

Dalam hati Tika membatin, Metty belum bisa menembus tameng itu, seperti nasihat mbak Rini, sekarang Hendra sudah menulis “cinta” untuk Tika artinya dia sudah di dalam hati Hendra. Tika enggan menjawab pertanyaan itu dia ingin Hendra menjadi miliknya seorang dan semua rahasia Hendra dijaga rapat-rapat.

“Gue sayang banget sama dia Tika, mungkin lebih dari mas Bram.”

”Hendra udah tau belum, sebenernya mas Bram itu siapa lu ?” Tanya Tika

“Justru itu awalnya jadi kacau semua”

“Maksud lu ?” Tapi Metty justru bertanya

“Seberapa dekat lu dengan dia ?”

“Ya deket banget lah. Selama tiga hari empat malam gue hidup sama dia, cuma berdua di gunung.”

Metty cemburu sekali, terlihat jelas dan rupanya Tika pun tidak mau mengalah karena dia memang berkata apa adanya.

“Cuma tiga hari.”

“Loh memang hubungan lu sama Hendra itu gimana sih ?” Lama-lama Tika panas dan cemburu juga.

Sejenak Metty terdiam menghapus air matanya.

“Gue kenal dia dua tahun lalu, dia teman kakak Ika, sahabat gue. Awalnya cuma dikenalin, kebetulan dia nganter kakak Ika dan gue lagi belajar bersama. Sekali lihat gue langsung jatuh cinta. Gue juga bisa lihat dia juga lama perhatiin gue.” Tika sekarang sadar wajah mereka memang mirip sekali hanya Metty sedikit lebih pendek darinya tapi penampilannya lebih menarik, karena lebih suka berdandan.

“Dia kira gue tuh Ika karena memang dia belum pernah bertemu, selama dua minggu dia tetap memanggil gue Ika, sampai akhirnya dia tau tapi dia cuma senyum aja. Waktu itu mas Bram baru tiga bulan di Ohio dan hubungan kita kritis, temen mas Baram kasih khabar yang kurang nyenengin. Gue kesal banget. Sementara gue juga lagi suka banget sama Hendra dan gue selalu cari kesempatan kalau dia nganter kakak Ika pasti gue hadang dan ngajak ngobrol, biar cuma dijawab “ya” atau “gak”, gue puas bisa deket. Bola matanya yang coklat sama pandangannya yang teduh dan sejuk itu loh. Tipe cowok yang cuma ada satu dari jutaan.” Tika cemburu sekali walaupun belum tau bagaimana Hendra menanggapi.

“Tapi dia memang gak gampang buat cerita pribadinya, berkali-kali gue tanya jawabnya senyum atau nggeleng.”

Semua yang ada di situ jadi penasaran bagaimana Hendra itu, kecuali Arif. Mereka secara bergiliran melihat photo Hendra sedang berpelukan dengan Tika.

“Wow ganteng banget… ih cool, Tika ini bener kamu…..” Ekspresi kekaguman kakak perempuan Metty juga mbak Inna, Tika hanya tersenyum.

“Gue selalu cari alasan minta diantar ke sana-sini dan kalau dia memang gak sibuk dia selalu mau nganterin. Pernah dia jemput ke kampus, semua mata cewek-cewek kampus fokus ke dia, tapi dia biasa banget sambil senyum ramah. Gue jadi ditanya-tanya soal Hendra, ya gue  bilang aja dia pacar gue, Hendra denger tapi dia diem aja tu. Ada juga yang nyoba jadi rival, dia langsung ngajak Hendra kencan dia bingung sendiri ngadepin Hendra yang cuma senyum-senyum. Dia itu benar-benar polos gak ada sama sekali di pikirannya untuk bohong, nyakitin atau semacamnya, lurus.”

Metty berhenti sebentar melihat photo di meja nya ada photo Hendra bersama Metty disebelahnya.

“Gue jadi semakin penasaran ingin taklukin cowok ini yang kata kakak Ika dingin sama kaum hawa, sempat kepikir dia itu gay, tapi nyatanya dia normal. Usaha gue habis-habisan buat dapetin dia. Suatu saat ada peristiwa dia nganterin oleh-oleh buat keluarga Ika, dia cuma berhenti sebentar di luar di pager, gak turun dari motor. Ika yang nyamperin dan Ika sempet tanya kemana aja gak pernah kelihatan. Dia cuma senyum. Ternyata kata Ika mata kiri Hendra biru dagunya juga lecet-lecet kaya habis berantem. Hendra cepet-cepet ngeloyor kabur. Habis itu hampir dua minggu dia gak pernah kelihatan lagi. Dua minggu waktu yang lama buat orang yang rindu, rasanya setahun. Waktu ketemu hampir gue gak bisa ngumpetin rindu, berkali-kali gue kepergok lagi mandangin dia.”

Tika teringat hal sama yang dialaminya, saat kedinginan di jurang itu. Tiba-tiba ada rasa ingin ke jurang di gunung Lawu itu.

“Ahh Hendra..Lawu… aku kangen.” Bisik Tika dalam hati

“Lebih dari setahun Hendra masih seperti itu, yang paling lama enam bulan hilang gak ada yang tau kemana. Mas Johny kakak Ika sering gue tanya dan jawabnya pasti sama.”

“Kenapa ? kangen sama dia ?”

“Gue cuma bisa manggut-manggut”

“Yang kaya kamu banyak tau, gue sampe bosen jawabnya.”

“Tapi lama-lama kita makin deket, nonton berdua, cari buku, kadang juga nonton bola di senayan, pergi ke pantai, gue seneng banget. Kalau dia udah nyatain cintanya, gue bakal putusin hubungan sama mas Bram.”
Tika benar-benar cemburu, kesempatannya hilang karena dia tidak bisa dekat dengan Hendra, sementara Metty yang mirip sekali dengan dia ada di depan mata Hendra. Lagi pula Metty memang punya kepribadian yang baik dan menyenangkan, maka kalau Hendra jatuh cinta juga wajar, bukan salah dia.

“Hari nyebelin itu datang gak dikira. Waktu Hendra datang jemput, gue lagi ke supermarket, dia datang lebih awal. Mama ceritain tuh tentang mas Bram dan hubungan tunangan gue. Ancur deh.” Metty menangis sesenggukan, tapi masih melanjutkan.

“Sehabis itu, dia ngilang, gak bisa dihubungi lagi, bahkan sahabat dia, mas Jhony gak tau dia dimana. Dia kayak nguap gak berbekas, menurut mas Jhony dia sudah pindah dari paviliun yang dia tempatin sepuluh tahun.” Metty menyeka air matanya

“Sampai berita tiga hari lalu yang ngagetin kita semua, datang dari mas Jhony. Kecelakaan pesawat national airline of Colombia Flight 410 terbang dari Cúcuta-Camilo Daza International Airport ke Cartagena de Indias-Rafael Núñez International Airport. Pesawat itu nabrak gunung El Espartillo setelah takeoff. Nama Hendra ada di manifes. Beritanya gak ada satupun yang selamat, mereka nemuin carrier Hendra dan dikirim ke mas Jhony, ada nomor telepon dan alamat dia di buku Hendra. Sama photo-photo itu.”

Tika berdiri terpaku, linglung, tidak percaya. Badannya terasa melayang dan tangannya kesemutan.

“Gak mungkin, gak ! Aku gak mau kehilangan Hendra.” bisiknya dalam hati. Arif yang sudah tahu keadaan adiknya segera memeluk dan mengajaknya keluar dari kamar sambil berbisik.

“Hendra tuh orang yang kuat dan pantang nyerah, kita selidiki dulu.”

“Aku mau pulang aja mas” Tika sudah gak bisa menahan lagi kesedihannya. Dia seperti hilang arah dan harapan, karena rencananya setelah selesai acara ini dia akan mencari Hendra.

“Kamu punya nomor telepon kakak Hendra yang di Iswahyudi itu.”

“Mas Dodi Karyadi dan mbak Rini istrinya, adalagi Mas Agung di Bandung sini dan mbak Ayu di Bali tapi nomor teleponnya aku gak punya.”

Bergegas Arif menghubungi ajudan papinya juga teman-temannya, dia sibuk menelpon dan menerima telpon balik.

“Mas Dodi ada di Halim, dia komandan pangkalan di sana sekarang “ Arif menjelaskan pada Tika sambil memutar digit telepon dan rupanya dia sudah bisa menghubungi mas Dodi, tak lama kemudian.

“Tika mbak Rini mau bicara” Tika lari mengambil gagang telpon

“Mbak…. Hendra…Hendra”

“Ya sayang, mbak juga sedih banget. Sabar ya Tika, kami sekeluarga sedang berusaha mencari kebenarannya. Mas Agung dan tim juga sudah di sana. Kita berdoa ya.” Hibur Rini di seberang sana walaupun dia sendiri juga sedang menangis.

“Ya mbak, kabari aku ya mbak. Mbak masih simpan nomor rumahku kan, salam buat mas Dodi.” Gagang telepon diletakkan

“Mas, aku boleh ke sana, ke Kolombia ?”Pinta Tika

“Nanti aku tanya papi dulu ya, kalau papi setuju mas antar kamu ke sana”

“Makasih ya mas.” Tika memeluk kakaknya.

 

Kamis, 24 Maret 1988

Pemerintah Kolombia menutup izin untuk mendatangi tempat kecelakaan karena evakuasi sudah selesai dan semua korban sudah ditemukan, kecuali satu orang, Mr. Tirta Hendrayana. Indonesian; begitu berita resmi dari media Kolombia. Agung dan tim dari Angkatan Udara sudah pulang dan melaporkan semua usahanya. Hendra dinyatakan wafat dan jenazahnya tidak dapat ditemukan.

Di rumah Dodi Sukardi di Rawamangun diadakan tahlilan untuk almarhum Hendra dan tanpa diduga banyak sekali yang datang mulai dari perwira-perwira dari berbagai angkatan, beberapa tamtama yang semua mengaku mengenal dekat almarhum, teman-teman kuliahnya, pendaki gunung dari berbagai perkumpulan, penjaga hutan dan gunung, nelayan-nelayan dari Pandeglang. Beberapa kyai sepuh dan teman santri Hendra banyak yang hadir. Kalau dihitung mungkin lebih dari lima ratus orang.

Tika heran Hendra yang penyendiri itu ternyata temannya banyak sekali, dan yang tidak kalah anehnya ada beberapa artis papan atas yang juga datang. Tika benar-benar tak habis pikir bagaimana Hendra bisa bergaul dengan begitu banyak orang tanpa yang satu dan lainnya tahu. Hendra dia misterius, unik, harusnya dia di sini, di samping Tika menyalami satu per satu temannya. Acara itu berjalan lancar, dipimpin oleh kyai muda mereka membaca yasin, tahlil dan doa, walaupun sedih mereka semua mendoakan Hendra, doa yang tulus.

Keesokan harinya Tika kembali ke London untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Sebelum dia berangkat dia berpamitan pada mbak Rini dan mas Dodi yang selalu memberi perhatian padanya. Mas Dodi bahkan berjanji akan datang ke London kalau Tika diwisuda sekaligus berwisata bersama keluarga mereka, juga keluarga Agung dan Ayu. Berat sekali Tika untuk berangkat ingin sekali dia ke gunung dimana dia punya kenangan indah bersama seseorang yang dia cintai untuk pertama kalinya, cinta pertamanya.

 

Kamis, 4 November 1993

Tika telah menyelesaikan gelar Masternya dan bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Manchester Inggris. Kesibukannya juga sangat padat dan harus sering bertugas ke luar negeri ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Asia Timur dan Selatan, karena sebagian besar unit usaha dan pasarnya berada di sana.

Tika juga sudah punya kekasih sejak dua tahun lalu. Pemuda Indonesia lulusan Jerman yang bekerja di Inggris. Dia tampan, pintar dan pandai bergaul, dan mereka merencanakan pertunangan mereka di Inggris setelah minta restu kedua orang tua mereka. Nama pacarnya Rudy. Seperti kebanyakan orang yang tinggal di rantau sedikit banyak budaya aslinya mulai luntur. Untunglah tidak berlaku untuk Tika, dia begitu teguh memegang adat dan budaya yang diajarkan orang tuanya.

Pagi itu di kantor Tika rapat mengenai rencana ekspansi bisnis ke Asia Tenggara, beberapa pilihan tempat untuk dijadikan basis bisnis mereka.

“We have to decide between Singapore, Ho Ci Min, Bangkok or Jakarta.”CEO mereka memberi penjelasan

“We should convey a preliminary survey.” COO melanjutkan

“Tika, you are from Indonesia, right. You better prepare to go next week and ask Mark to assist  what ever you need.” CEO telah memutuskan mengirim Tika

“Ok Stan.” Balas Tika

“You will go back to your hometown Tika, you should ask Rudy to go with you”

“Right but he has his own schedule.”

Akhir minggu itu Rudy resmi melamar Tika, direstui kedua pihak keluarga, awal tahun depan mereka merencanakan untuk menikah. Mereka mengadakan pesta kecil pertunangan dihadiri teman-teman kuliah, teman kerja dan tetangga di apartemen di sebuah restoran di pinggiran kota London menghadap ke sungai Thames.

Sepulang dari acara pertunangan itu Tika berkemas-kemas menyiapkan pakaian, sepatu dan beberapa buku yang harus dibawa, juga diarynya. Pada saat dia menarik diary dari tumpukan bukunya tanpa sengaja beberapa buku jatuh dan photo Hendra ikut jatuh juga. Dia mengambil photo itu, memandangi tiap lekuk wajah Hendra lalu membelai photo itu dan menciumnya. Ingatannya melayang kembali ke peristiwa delapan tahun lalu, di bulan ini, November tanggal enam belas.

“Ah aku harus ke sana, ya aku rindu sekali.”

Diselipkannya photo itu di diary yang akan dibawa, dan malam itu menjadi malam yang paling panjang karena dia terus mengumpulkan ingatannya selama dia bersama Hendra di gunung Lawu.

 

Jumat, 12 November 1993

Tika telah menyelesaikan survey di beberapa kota di negara berbeda, dan yang terakhir adalah Jakarta yang juga telah selesai siang tadi. Setelah membereskan semua urusannya, dia langsung pulang ke rumah orang tuanya.

Ketika dia sampai di rumah, papinya sudah menunggu sementara maminya di dalam sedang menyiapkan makan siang, memasak makanan kesukaan anaknya. Senang sekali mereka melihat anak bungsunya pulang, saling peluk dan cium diantara mereka.

“Papi kok gemukan sih.” Tika protes dan papinya senyum-senyum

“Iya tuh papimu kurang olah raga semenjak pensiun.” Maminya menambahi

“Tapi papi mami sehat semua kan ?”

“Alhamdulilah… berkat doa mu nduk” Jawab papinya

“Aku ke kamar dulu ya, sebentar nanti aku nyusul ke ruang makan.”

Memasuki kamar yang lama ditinggalkan menimbulkan rasa nyaman kembali datang. Semua masih tersusun rapi seperti saat dia tinggalkan. Di tengah kamar masih tergantung photo besar Hendra dan dia sedang berpelukan, dipandanginya lekat-lekat. Dia berpikir mungkin sudah waktunya dia “move on” dan photo itu harus diturunkan untuk disimpan. Setelah membersihkan tangan dan kaki serta berganti baju rumah yang diambilnya dari lemari pakaian yang masih tersusun rapi, dia menuju ruang makan, mami dan papinya sudah menunggu. Mereka pun mulai makan siang yang sudah terlambat. Arif datang  menyusul bersama istrinya dan keluarga itu makan bersama sambil bercerita tentang kejadian-kejadian di keluarga besar mereka.

“Aku minta ijin mau ke gunung Lawu Pi.” Papinya tersenyum

“Memang susah lupain orang sebaik Hendra.” Arif mendukung adiknya karena dia tahu papinya tidak suka pada Hendra, namun Arif sendiri berpendapat berbeda dia mendengar cerita teman-teman Hendra tentang bagaimana budi baiknya yang sering membantu tanpa pamrih, dan kebetulan dia tampan sekali.

“Iya mas, rasanya kalau ada di sana Hendra juga ada.”

“Rudy gak cemburu ?” Maminya mengingatkan, Tika hanya tersenyum.

 

Selasa, 16 November 1993

Siang hari Tika sampai di Tawangmangu, suasananya masih seperti delapan tahun lalu, dingin, bau dan kesegarannya hanya warung makan di pojok sudah tidak ada lagi. Tika menuju villa tempat kejadian mengerikan itu, mendekati villa itu empat orang pengawalnya siap di depan, belakang, kanan dan kiri. Tika memeriksa jalan di samping villa yang dulu menjadi tempat pelariannya, di punggungnya sudah tergantung “daypack” carrier berisi perlengkapan untuk mendaki, dia menyusuri gang samping villa yang ditumbuhi ilalang dan tanah agak becek. Sampai di ujung dia belok ke kanan kemudian melalui pohon besar belok ke kiri terus berjalan sampai ketemu desa,

“Ini mungkin rumah mbak Rini dimana keluarga mereka tinggal juga Hendra saat kecil.” Tika terus berjalan menuju musala lalu duduk di pos ronda samping musala tempat pertama kali bertemu Hendra. Tika masih melamun  membayangkan bekapan tangan Hendra. Para pengawalnya mengawasi dari kejauhan ada juga yang sekalian shalat. Sekitar empat puluh lima menit Tika di situ.

“Ajeng ketemu sinten mbak ?” Suara laki-laki duduk di ujung lain di belakang Tika, sehingga dia harus menengok.

“Ah…anu…saya cuma duduk-duduk.”

“Pernah ke sini ya.”

“Iya delapan tahun lalu.” Tiba-tiba Tika curiga dengan suara itu, dan bau badannya, tapi…..

“Bapak dari dusun ini ?”

“Nggih mbak.” Tika memperhatikan badan dan wajahnya yang ditutupi caping. Wajahnya berkumis dan brewok lebat tercukur rapi namun agak kecoklatan tidak hitam seperti umumnya orang desa. Seketika Tika berdiri untuk menghampiri dan memperjelas pandangannya, orang itu pun berdiri.

“Saya tinggal dulu mbak.” Dia berusaha kabur, Tika mengejarnya, dan kontan membuat pengawalnya pontang panting

“Pak…pak…tunggu dulu….” Tika mengejar dan orang itu berjalan cepat menuju kebun kol, Tika terus membuntuti. Di belakang, pengawal-pengawal itu berlarian tapi mendadak mereka berhenti, ada sebuah kain strip oranye dan hitam diatas kertas kecil tertancap di pohon yang mudah dilihat. Salah satu dari mereka mengambilnya dan mereka saling pandang dan melempar senyum.

Bersambung

Lawu Aku Dia 6

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *