Lawu Aku Dia 6

Tika heran pengawal-pengawal itu tidak lagi berlari, hanya berjalan santai mebuntuti dia dari jauh. Tak mau ambil pusing Tika terus mengikuti orang dengan caping itu. Jarak mereka hanya sepuluh meter orang itu berjalan cepat sekali langkahnya pun panjang. Tanpa disadarinya  kalau jalan yang dia lalui itu adalah jalan yang dia lewati delapan tahun lalu. Ada titian bambu untuk menyeberang sungai. Betul.

“Gak jauh di depan adalah hutan cengkeh.” Benar saja,

“Siapa orang itu ?” Tika mempercepat langkahnya setengah berlari tapi orang itu makin cepat lagi. Mereka sudah keluar dari hutan cengkeh. Sekarang sudah di jalan menanjak.

“Sebentar lagi sampai di jalan aspal dan menyebrang terus nanjak,ada kebun tomat dan sayur.” Benar juga.

“Hah … sedang mimpikah aku.” Pikirnya tapi terus mengejar, jalan yang menanjak membuat nafas mulai memburu.

“Betul seperti dulu.” Tika sebetulnya ingin teriak minta orang itu berhenti, tapi tak mungkin karena masih banyak orang bekerja di ladang malah dia dikira stres. Dia terus berusaha membuntuti dan tidak kehilangan jejak. Tika hampir sampai di Pringgodani.

“Pesanggrahan, ya betul dan air pancuran di bawahnya.” Semua benar-benar seperti delapan tahun lalu. Orang itu berjalan makin cepat sementara Tika terus membututi dan makin penasaran. Lima belas menit kemudian orang itu sampai di dua warung dia menyelinap ke belakang mengambil sesuatu dan terus naik lagi. Tika mengingat-ingat.

“Singkong dan jagung.….mungkinkah dia ?” Dia berbisik lirih dia makin bertambah semangat berjalan untuk lebih cepat mendaki. Dia masih ingat gubuk tempat dia tidur tak jauh dari jurang. Orang itu sudah membuat perapian saat Tika sampai di gubuk, walaupun nafasnya tersengal-sengal dia tetap berusaha menajamkan penglihatannya pada wajah orang itu, tapi orang itu menunduk dan wajahnya tertutup caping. Akhirnya Tika istirahat duduk di bale-bale tempat dulu dia tidur sambil terus memperhatikan orang itu. Pandangannya tak pernah lepas dari orang itu.

“Singkong dan jagung bakar ini mungkin lebih enak dari yang dulu.” Orang itu menyodorkan singkong dan jagung bakar, sambil Tika menerima singkong dan jagung dia meneliti wajah orang itu, pada saat dia melihat bola matanya.

“Hendra…..!!!” Dia lepas singkong dan jagung lalu menubruk dan memeluk erat sambil menangis. Dia semakin yakin kalau dia benar Hendra saat mencium bau wangi badan yang tak mungkin dia lupakan. Tika menangis sejadi-jadinya, dia senang dan bahagia sekali, sebuah kejadian yang tidak pernah dia bayangkan. Hendra membelai rambut Tika yang sekarang panjang, dulu delapan tahun lalu rambut itu pendek sekali.

Lama Tika memeluk dan menangis di dada Hendra. Perlahan Tika melepas pelukannya dan membuka caping lalu menatap dalam-dalam mata Hendra, masih seperti dulu sejuk dalam sepi. Jari-jari Tika mengusap alis, pipi, kumis dan brewok lalu membenamkan wajahnya lagi di dada Hendra sepuasnya. Sepuluh menit Tika menangis senang di pelukan Hendra, dia tidak ingin melepaskannya lagi. Di kejauhan pengawal-pengawal itu duduk menunggu, mereka tahu kalau Tika aman bersama orang itu.

“Apa kabar mu?” Hendra memecah kegugupannya

“Sehat, kamu sehat kan ?” Hendra senyum dan mengangguk

“Kamu kok brewokan gini.”Protes Tika

“Belum pengen cukur.” Tangan Hendra menganangkat jari-jari Tika

“Kamu sudah tunangan ?” Hendra bertanya

Tika menangis makin keras, Hendra berusaha menghiburnya.

“Kenapa kamu gak khabari kalau kamu masih hidup.” Tika bingung harus bagaimana namun Hendra hanya tersenyum. Tika tahu kalau sekarang dia sudah berada jauh di dalam hati Hendra, dia sudah sama dengan kakak-kakak Hendra.

“Situasi dan keadaan tidak memungkinkan Tika, aku harus tetap dianggap mati.”

“Memangnya kamu kenapa sih ?” Tika mulai ingin masuk lebih dalam

“Ini resiko pekerjaan, keadaan masih berbahaya. Baru awal tahun ini aku bisa pulang ke Indonesia.”

“Kerjaan kamu kayak papiku waktu muda ?” Hendra mengangguk

“Papi tau ? jadi ?” Kembali dia mengangguk

“Iya Tika. Tapi itu gak penting kita bahas.”

“Bertahun-tahun aku nunggu kamu, sampai berita kecelakaan pesawat itu aku benar-benarterpukul dan kehilangan. Aku kangen kamu.” Tika menatap Hendra menunggu jawaban

“Aku datang ke rumahmu seminggu setelah kita pisah di Madiun, tapi kamu sudah berangkat ke London.” Tika menyesali dirinya yang terburu-buru membuat keputusan  dia makin merasa bersalah.

“Dua minggu setelah itu aku ditugaskan ke Afrika Selatan, terus ke Somalia tadimya hanya satu bulan tapi karena pertikaian makin sengit, enam bulan kemudian baru pulang.” Tika memandangi Hendra tanpa berkedip ingin cepat-cepat berenang di matanya yang sejuk

“Aku gak bisa nolak waktu harus berangkat ke London karena alasan keamanan begitu menurut papi, maafkan aku.”

“Papimu benar, itu memang pilihan terbaik.”

Tiba-tiba Hendra mengubah arah pembicaraan

“Tika kamu masih kuat naik ke puncak, kita ke jurang macan yuk.”

“Iya…kuat. Aku ikut kemana aja kamu ajak.” Tika senang sekali artinya rindu selama ini pada Hendra dan gunung ini akan sekaligus segera terbayar.

“Aku ijin dulu sama temen-temen itu.” Hendra menunjuk pada pengawal-pengawal Tika yang sedang duduk-duduk. Dia turun menghampiri dan berbincang-bincang dengan mereka, lalu saling berjabat tangan dan mereka semua berlalu sambil melambaikan tangan, Tika juga.

“Yuk, kita beli perlengkapan di warung.”

Sepanjang jalan menuju Pesanggrahan Tika tersenyum-senyum gembira, dia begitu bahagia. Hendra juga, beberapa kali mereka saling pandang atau kadang berhenti untuk berpelukan. Banyak yang ingin mereka tanyakan, tapi mereka menyimpannya untuk nanti di jurang macan.

 

Pukul dua lebih lima

Ketika mereka sampai di warung di Pesanggrahan Pringgodani pengunjung sedang ramai beberapa baru selesai makan dan masih merokok, Hendra menyapa dan menyalami beberapa tamu yang dikenalnya, Tika menyalami satu per satu. Pak No pemilik warung bertanya pada Hendra

“Mas Tirto ajeng minggah (mas Tirto mau naik) ?”

“Nggih pakde.” Hendra memesan nasi bungkus juga beras, mie instan, telur, kornet, beberapa sayur mayur, teh, kopi gula dan keperluan logistik pendakian lainnya juga kantong sampah, seorang anak muda membantu pak No dengan cekatan rupanya dia anak pak No.

“Mandap mriki malih nopo ngilen (Turun disini lagi atau ke barat) ?”

“Mboten, mandape ngetan De, namung mangke nggih wangsul mriki (Bukan turunnya ke timur De, tapi setelah itu ya ke sini).” Dalam hati pak No membatin mana bisa turun ke timur tapi dia tidak ambil peduli Hendra sudah terkenal pendaki papan atas di gunung itu.

“Sing atos-atos, sungkem kangge eyang Lawu (Hati-hati salam hormat untuk kakek Lawu).”

“Nggih De, maturnuwun.”

Setelah selesai memeriksa pesanan mereka berdua pamit dan berangkat. Tika berjalan di depan Hendra  di belakang memandu arah. Tika tersenyum-senyum gembira setiap kali menengok ke belakang selalu ada Hendra yang membuat hantinya aman dan temteram. Kejutan yang sama sekali tak pernah terlintas di pikiran Tika.

Langit masih secerah tadi pagi belum ada awan yang datang. Mereka sudah mendekati pos 1 Taman sari bawah, pos ini belum ada delapan tahun lalu baru dibangun dua tahun lalu. Di situ mereka istirahat sejenak, berbeda dengan delapan tahun lalu sekarang mereka bisa menikmati keindahan di sekitar pos tanpa tergesa-gesa.

“Hen. Kamu masih inget Metty?” Tiba-tiba Tika bertanya

“Sepupumu yang di Bandung itu.”

“Kamu juga tahu dia sepupuku.” Tika penasaran

“Dari awal kenal aku sudah menduga, kalian mirip sekali.”

“Kamu tau kalau dia suka kamu.” Hendra senyum

“Aku ingin berteman, dia mirip kamu sama-sama cantik hanya dia terlalu baik.” Tika memukul lengan Hendra, kesal.

“Dasar laki-laki.”

“Tuh, bedanya. Kamu barusan aja lakuin. Metty itu terlalu lembut.”

“Jadi kamu lebih suka siapa ?” Hendra terlihat serius memandangi Tika.

“Perasaan itu gak bisa pindah. Setidaknya sampai 6 November.”

Tika terdiam, hatinya terasa ngilu seperti diiris-iris, rupanya Hendra tahu tentang tanggal pertunangannya bahkan mungkin dia juga sudah tahu tentang Rudy tunangannya.

“Yuk… kita terusin.” Hendra berjalan mendahului.

Selama perjalanan Tika bingung sekali, wajah Rudy dan janji yang sudah dia buat masih hangat dalam ingatannya, tapi bagaimana bisa dia kehilangan Hendra dan janji yang dia ucapkan delapan tahun lalu. Dia menjadi semakin merasa bersalah karena Hendra terlihat tenang dan pasrah pada nasibnya, nasib yang sebetulnya ingin diperbaikinya bersama-sama. Semakin dalam dia berpikir, timbul kecurigaan kalau Hendra akan menutup hatinya rapat-rapat pada semua perempuan bahkan pada dia sekalipun, dia sudah terluka walaupun terlihat tetap tegar.

Menjelang matahari terbenam mereka sampai di pos 2 Tamansari. Hendra menuju ke pinggir jurang dan menarik beberapa batu-batu seukuran ember yang tersusun, disitu rupanya dia menyembunyikan carrier yang dia pakai delapan tahun lalu ada satu lagi yang ukurannya lebih kecil. Mereka lalu menuju pos, Hendra mulai sibuk membenahi perbekalan, mengeluarkan matras yang dulu mereka pakai, memeriksa survivor kit. Setelah semua beres dia memasang buff dan kupluk juga headlamp di kepala Tika, Hendra hampir tidak berubah memperlakukan Tika, seperti dulu. Dia mengangkat carrier yang dibawa Tika yang ternyata berat.

“Ini aku sudah siapkan, coba kamu periksa apa ada yang kurang.” Tika mengambil carrier warna kuning lalu membuka dan memeriksanya. Hendra begitu teliti mempersiapkan perlengkapan Tika, sweater, jaket, kaos kaki, baju dalam, kaos dan celana, pas ukuran dia, syal, pembalut, keperluan mandi dan lainnya.

“Kamu memang siapkan ini untuk aku ?” Tanya Tika menahan rasa haru Hendra mengangguk

“Kamu udah nduga aku bakal ke sini ?”

“Ya… yang aku gak duga bisa secepat ini. Gunung-gunung selalu membawa rindu bagi orang yang pernah meminum air dan menghirup udaranya. Entah kapan pasti akan kembali. Aku mau temenin kalau waktu itu datang.”Jawab Hendra datar

Tika merasa perang batin yang lebih parah, bahkan lebih dibanding peristiwa delapan tahun lalu. Pilihan yang berat yang harus dia putuskan dan dia sama sekali tidak siap untuk ini. Karir dan kehidupan di Manchester yang jauh berbeda dengan hidup di gunung yang sepi. Sepertinya dia ingin menyerah saja untuk tidak memilih saat ini. Biarlah kehidupan hiruk-pikuk di Manchester dilupakan untuk sementara dan tidak mengganggu kebahagiannya. Dia putuskan mengikuti arus nasib seperti delapan tahun lalu.

“Kamu pakai sweater dan jaket, sebentar lagi akan lebih dingin. Carrier mu biar aku yang bawa, yang ini lebih ringan”

“Tapi kamu harus bawa dua.” Terlambat karena Hendra sudah menggendong carrier itu di depan dadanya. Tika tak berkomentar lagi, dia sudah hafal kebiasaan Hendra.

“Kita nginep di bawah Penggik, di pos bayangan tempat aku tidur dan kamu gak mau bangunin aku.”

“Oh iya yang anginnya kenceng banget dan atap seng nya bunyi kayak mau terbang.”

“Ya…ya. Kita jalan santai aja, malam ini sepertinya cuaca cerah, tapi perkiraanku sekitar tengah malam bakal turun hujan lebat.”

Mereka sampai di pos bayangan pukul delapan. Langit cerah bulan terang dan bintang-bintang gemerlapan diatas langit biru, angin menderu-deru membawa dingin yang menggigit kulit. Gubuk yang menjadi pos masih seperti dulu hanya nampak diperkokoh sana-sini dan atap seng juga sudah diganti dengan yang lebih bagus dan dicat.

Hendra mendirikan tenda, menggelar matras dan memasukan carrier mereka ke dalam tenda, kemudian dia keluar mencari ranting-ranting dan dahan untuk membuat perapian. Di dalam pos hanya diterangi senter Hendra yang digantung, karena malam itu cerah sinar senter itu menambah penglihatan di dalam pos. Hendra sudah mulai membuat perapian dan mengeluarkan peralatan masaknya, tapi dia berhenti sejenak melihat Tika.

“Tika mau masak ?” Hendra menawarkan tapi Tika mendoyongkan pundaknya ke lengan atas Hendra, tanda dia minta dimasakan

“Aku rindu juga sama masakan kamu.” Tika melirik manja, Hendra hanya tersenyum lalu dia meneruskan memasak.

“Di carrierku ada tissue basah dan kering, kamu bisa nyeka muka dan badan biar segar.” Jelas Hendra pada Tika,

Tika beranjak menuju tenda untuk mengambilnya. Dia membuka sarung tangan, jaket, headlamp, kupluk dan buff. Dingin tapi segar, membersihkan badannya dan mengganti kaosnya yang basah, kemudian menggunakan parfum dan memakai kupluknya lagi.

Setelah membersihkan sampah dan mengumpulkannya pada kantung yang sudah disediakan Hendra, dia duduk di samping Hendra yang sedang sibuk.

“Waw, swedish omelette dengan kornet dan brokoli. Iiihhh. baunya harum sekali dari tadi udah gak tahan pengen cepet makan.”

“Sebentar ya aku mau lap dulu dan ganti kaos juga.” Hendra menuju ke tenda dan membersihkan badan dan berganti kaos lalu kembali ke matras dimana makan malam sudah disiapkannya dan Tika sedang mengambilkan nasi ditaruhnya di piring seng.

Saat Hendra mengambil piring dan sendok, tiba-tiba tangan Tika menahan tangan Hendra.

“Sebentar”

Hendra meletakkan piring dan melihat Tika yang serius menatapnya diterangi lampu senter.

“Terima kasih, membuatkan aku makan malam. Bertahun-tahun tiap malam sebelum tidur aku selalu teringat bau wangi kamu seperti ini dan wangi masakanmu.” Tika memeluk Hendra dibalas pelukan mesra Hendra.

“Yuk kita makan, kamu pasti udah lapar.” Tika melepaskan pelukannya dan mengambilkan piring untuk Hendra dan juga untuknya sendiri.

“Kamu belajar dimana masak seenak ini, ini resto di London kalah.”

“Seorang chef di café di pinggir kota Lyon mengajariku tiga tahun lalu, ada beberapa resep yang juga dia ajarkan.”

“Kamu belajar di sana ?”

“Gak, aku kerja jadi saus chef.”

“Hah. Chef ? Kamu di Perancis berapa lama ?”

“Hampir setahun”

“Selama itu kamu gak pernah ke Inggris ?” Hendra senyum menggoda Tika, sementara Tika memandang serius menunggu jawaban

“Beberapa kali.”

Hendra belum menjawab tuntas masih menyelesaikan suapan terakhirnya, kemudian menjerang air untuk membuat teh panas. Tika juga sudah selesai makan, dia mengambil piring dan sendok mereka membersihkannya dengan tissue basah dan kering lalu memasukan kedalam plastik tempat perlatan makan.

Ketika dia kembali ke depan perapian Hendra sudah menyodorkan cangkir seng belang berisi teh panas. Tika kembali duduk di sebelah Hendra.

“Jadi…beberapa kali?”Tanya Tika masih penasaran

“Ya.”

“Kamu tau aku ada di sana.”

“Ya”

“Terus kenapa kamu gak cari aku”

“Sudah”

“Sudah….? Maksudnya ?”

“Waktu aku pulang dari Afrika, aku mampir ke London, aku ingin memastikan kamu aman di sana, saat itu aku sudah tau dimana tempat kamu tinggal juga kampus mu.” Tika semakin penasaran dan jengkel.

“Kenapa kamu gak datang temui aku !!!”

“Memang pengen banget aku menemuimu, tapi kalau itu kulakukan, mungkin kamu gak bakal selesai sampai master.”

Tika semakin marah, diluar dugaannya kalau selama ini Hendra tahu hampir semua yang dilakukannya.

“Kamu sudah janji nemui aku kan.”

“Ya itu betul.”

“Trus kenapa kamu gak datang.” Hendra terdiam dia tersudut tapi dia bertahan.

“Hen…kenapa ?” Tika mengiba penjelasan Hendra yang masih diam, ada sesuatu yang sukar dia katakan. Tiba-tiba Tika ingat pesan mbak Rini, Hendra tidak bisa didesak-desak jadi harus sabar. Tika meraih tangan kanan Hendra menggenggamnya lalu meletakkannya di pipinya, seketika Hendra menarik Tika dalam pelukannya dan mencium kening Tika. Tika berbunga-bunga, dia senang sekali, dan memang benar nasehat mbak Rini dia harus sabar.

“Kalau kamu datang lebih awal dan khabar kecelakaan pesawat di Kolombia itu tidak pernah ada, tidak mungkin aku mau tunangan sama orang lain.” Tika menyesali keputusannya,

“Takdir Tika.” Hendra menghela nafas melepaskan beban dia mengalihkan arah pembicaraan.

“Kamu pasti capek kan, istirahat dulu. Besok pagi sekitar jam dua kita jalan lagi, kamu pasti pingin lihat kebun bunga edelweis kan.” Bujuk Hendra

“Iya…iya…aku pingin ke lapangan yang banyak edelweisnya itu, asyik !!!. Tapi aku sekarang gak mau tidur sendiri.” Tika merengek sambil memegangi tangan Hendra.

“Kamu masuk dulu aku beres-beres dan cari tambahan ranting, nanti nyusul.” Tika tersenyum dan melangkah masuk tenda, lalu duduk menunggu Hendra.

Langit mulai dipenuhi awan gelap dan suara guntur sudah mulai terdengar bersautan, cahaya kilat juga makin sering menerangi gelapnya malam. Hendra menambah kayu bakar dengan yang agak besar sehingga bisa bertahan hingga pagi hari, juga menambah jumlah batu untuk menghalangi bara berserakan karena angin, kemudian dia mengambil senter yang tergantung, mematikan dan membawanya menuju tenda. Tika masih duduk menunggu saat Hendra masuk dan menutup tenda.

“Kok masih duduk ?” Hendra merebahkan diri diatas kantung tidur, Tika ikut rebahkan badannya lalu Hendra melingkarkan tangannya di bahu Tika, segera Tika rebahkan kepalanya di dada Hendra sambil tangannya memeluk Hendra. Mereka cepat pulas karena sudah kelelahan walaupun di luar hujan sangat lebat disertai petir dan gemuruh angin menderu-deru mereka tak perduli asyik berpelukan penuh kehangatan.

Lewat tengah malam sekitar pukul satu Hendra terbangun, sementara Tika masih lelap memeluk Hendra dan pipinya menempel di pipi Hendra, dia mengecup pipi Tika untuk membangunkannya, tapi Tika malah mempererat pelukannya tak rela melepas. Hendra hanya bisa menengok lewat celah tenda, ternyata api masih menyala dan hujan sudah tak selebat tengah malam. Hendra memeluk Tika lebih erat diapun tak ingin kehilangan Tika. Tika sebenarnya sudah terbangun tapi dia masih ingin melampiaskan rindu yang bertahun-tahun tertahan, Hendra tidak sadar kalau Tika beberapa kali menciumi Hendra saat dia tidur. Berdua mereka melepas rindu tapi dalam batas-batas yang mereka selalu jaga, apalagi Hendra dia sangat mahir menguasai emosinya.

Sekitar pukul dua lebih mereka sudah bangun, mereka tak cepat bangkit hanya saling pandang memuaskan rasa rindu yang terbayar.

“Kita jalan lagi yuk, hujan sudah reda. Jadi kamu bisa lihat kebun eidwelweis pas matahari terbit.”

“Oh…ya, pasti bagus. Sunrise.” Tapi Tika masih belum mau melepaskan pelukannya, Hendra membelai rambut Tika yang sekarang panjang sebahu.

“Gak kalah sama di Mont Blanc.”

“Kamu udah ke sana ? Terus ke gunung mana lagi di Eropa ?” Hendra memandang Tika yang menunggu jawaban.

“Elbrus, Zumsteinspitze, Monte Rosa, Liskamm, Dom dan terakhir Signalkuppe di perbatasan Itali dengan Swiss.”

“Kamu curang naik gunung gak ngajak aku, kamu pergi sama siapa ?” Hendra memandang Tika penuh arti

“Sendiri ?” Hendra mengangguk sambil tersenyum.

“Bawa aku ke sana, Gak mau tau. Harus.” Tika mulai manja mengguncang-guncang tangan Hendra

“Yuk, kita siap-siap.” Tika melepaskan pelukannya kemudian bangun diikuti Hendra yang merapikan carrier untuk dibawa ke luar dan Tika membantu. Hendra melipat tenda dan memasukan semua perlengkapan ke carriernya, sementara Tika membersihkan sampah mereka yang terurai dimasukan ke lubang di pojok pos, yang lainnya dimasukan ke dalam kantong sampah yang sudah disiapkan Hendra dan mengikat di samping carrier Hendra. Sebelum pergi Hendra mematikan bara perapian.

Pukul dua lebih tiga puluh pagi, mereka melanjutkan perjalanan, dan perjalanan menuju pos 3 ini masih diingat betul oleh Tika, pasti dia akan disuruh Hendra berjalan di depan, tapi perkiraannya salah. Hendra di depan karena hari belum terang dan jalan licin akibat hujan semalam, dia berjalan perlahan karena trek yang berat dari mulai pos bayangan, pos tiga Penggik hingga pos empat Cokrosuryo.

“Sebenarnya apa masih ada jalan lain menuju ke puncak dari selatan ?”Tanya Tika

“Ada. Jalur sebelah itu jalur pendaki lewat Cemoro Sewu, kita ini di jalur Cemoro Kandang, ada lagi jalur Candi Cetho dan yang dulu kita mau lewati lewat utara turun di Jogorogo. Sama jalur spesial kita berdua dan gak ada yang tau.” Hendra menjelaskan

“Lain kali ajak aku lewat jalur Cemoro Sewu ya.” Hendra mengangguk.

 

Rabu, 17 November 1993

Mereka tidak berhenti di Penggik dan baru istirahat di pos 4 Cokrosuryo, hari sudah menjelang terang ketika mereka sampai Cokrosuryo. Setelah lima belas menit istirahat mereka melanjutkan perjalanan, dan seperti yang dijanjikan Hendra Tika bisa melihat matahari terbit di kebun edelweis yang indah.

“Hen. Keren banget.” Tika berbisik, Matahari sudah mulai sedikit terlihat di timur. Hendra mengambil kameranya dan minta Tika berpose di depan kebun edelweis di belakangnya matahari mengintip mereka, lalu mereka berpose berdua berpelukan. Setelah Tika puas di situ untuk lebih dari satu jam Hendra mengajak Tika berbelok ke kanan menuju Hargo Dumilah.

“Kita gak lurus.”

“Ke kanan kita menuju Hargo Dumilah di sana ada makam, juga ada pondok biasanya di pakai para pertapa.”

“Kita ke sana ?”

“Ya, di sana agak ramai, paling gak ada dua atau tiga orang setiap harinya.”

Sesampainya di Hargo Dumillah ternyata ada sekitar sepuluh orang sedang ngobrol dan minum kopi. Melihat mereka datang salah satu menyapa.

“Mas Tirto, pripun kabare.”

“Sae mas Pangat, weh niki jago-jago kumpul sedoyo.”

Yang lain juga menyalami Hendra juga Tika.

“Tika…” Dia memperkenalkan diri

“Mas Tirto pancen pinter, ganteng ambek ayu pas.”

“Nyuwun sewu sederek-sederek, aku tak sowan sik.”

“Monggo-monggo.”

Hendra mengajak Tika berjalan kearah setapak yang meninggi dan ada cungkup serta makam. Hendra melepas carrier, sepatu, kemudian menuju makam.

“Kamu ikuti aku, diam aja di sebelah kiriku ya.”

Tika mengikuti perintah Hendra dia melepas sepatunya dan berjalan menuju makam itu dan duduk di sebelah Hendra. Hendra hanya diam menunduk dan memejamkan mata, setelah sekitar sepuluh menit Hendra mengajak Tika turun dari makam. Mereka lalu menuju sendang Drajat untuk mengisi persediaan air. Pemandangan di puncak gunung itu indah sekali beberapa kali Tika minta diabadikan sendiri juga berdua.

Mereka meneruskan perjalanan menuju jurang tempat mereka menginap delapan tahun lalu. Melewati Jurang Mele Hendra berhenti, kita makan dulu di gua di balik jurang itu tempat kita menginap dulu. Tika mengikuti dari belakang mencoba mengingat-ingat tempat itu.

“Iya kita nginep di sini juga ya. Aku nunggu kamu gak masuk-masuk ke tenda. Waktu itu aku takut dan kedinginan juga pengen kamu peluk. Kamu malah di luar.” Tika mencubit perut Hendra, dibalas pelukan hangat.

“Kita masak di sini, nanti jam dua belas kita lanjut ke jurang macan” Hendra mengeluarkan matras dan alat masak serta mie instan dan telur

“Masak mie instan biar aku aja.” Tika menambil peralatan sementara Hendra menyiapkan perapian. Hendra menyiapkan perapian lain untuk masak air minum, dia memandangi Tika, terasa sekali belum semua rindunya terhapus, mungkin baru seperempat.

“Keluargamu apa khabar?”

“Baik. Mami dan papi sehat. Mas Arif sekarang anaknya tiga, mbak In sekarang tinggal di New York ikut Mas Andri, anaknya satu.”

“Mas Arif masih di Pondok Indah ?”

“Masih, kamu pernah ke rumah mas Arif ?”

“Ya delapan tahun lalu.”

“Ooh…Keluargamu apa khabar ?”

“Aku belum khabari mereka, belum waktunya. Sebetulnya kangen sekali, nanti aja sekalian ngabari rumah di Tawangmangu itu. Aku beli lagi rumah itu bulan lalu, rumah itu  punya banyak kenangan untuk kami.”

“Jadi kamu tinggal di sana ?”

“Hanya kalau aku datang untuk ke sini tiap tahun, juga buat kamu supaya gak usah cari villa kalau ke Tawangmangu. Ada yang ngurus rumah itu dan dia sudah kenal kamu.” Tika memeluk Hendra

“Makasih ya. Kamu masih tinggal di Jakarta ?”

“Hanya satu atau dua minggu dalam tiga bulan, selebihnya keliling tempat-tempat seperti ini rata-rata satu minggu.”

“Iihhh asyik banget. Habis dari sini kamu mau ke mana ?”

“Jayawijaya.”

“Aku ikut.” Hendra tersenyum

“Kamu harus balik ke Manchester, mereka pasti nunggu-nunggu kamu.” Tika termenung sesaat tersadarkan kalau dia harus kembali ke Manchester dan membuat keputusan, tapi biarlah nanti saja, dia tidak mau diganggu sekarang.

“Kalau kamu harus menetap kamu pilih dimana ?” Tika mencari tahu rencana Hendra

“Desa Braunwald di Swiss, La Thuile di Itali, Magetan, atau di Selokambang di lereng Semeru.”

“Aku cuma tau Magetan yang lain itu pasti semua juga dingin ya.”

“Kalau kamu ? Pilih dimana ?”

“Aku, di Malang, Denpasar atau di Lyon.” Hendra manggut-manggut

“Udah mateng nih, seperti dulu ya, makan satu piring berdua.” Tika menaruh piring kedua dan mereka mulai makan bergantian, kadang Tika menyuapi Hendra. Mereka masih asik ngobrol tentang pengalaman dan perasaan mereka delapan tahun lalu sesekali mereka saling tatap dan berpelukan. Mereka juga membersihkan badan yang berkeringat, juga Hendra mencukur rambut, kumis dan berowoknya dibantu Tika. Setelah selesai dan bersih, penampilan Hendra seperti delapan tahun lalu, masih tampan mempesona Tika.

“Hendraku…” Tika belum juga puas  memandangi wajah Hendra

Bersambung

 

Lawu Aku Dia 7

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *