Lawu Aku Dia 7

Mereka asik ngobrol pengalaman mereka, beberapa kali Tika terpingkal-pingkal mendengar cerita dan pengalaman lucu Hendra. Termasuk cerita tentang kecelakaan pesawat di Kolombia itu. Tika juga cerita tentang Metty yang batal nikah dengan mas Bram. Sampai akhirnya sudah waktunya mereka untuk turun menuju jurang macan, mereka pun berkemas-kemas untuk menuju ke sana.

Matahari siang sangat terik saat mereka berjalan turun menuju Bulak Akasia, Hendra berjalan perlahan sambil menggandeng Tika. Udara gunung yang dingin cepat menyapu keringat mereka. Setelah hampir satu jam sampailah mereka diatas jurang macan tempat mereka menginap delapan tahun lalu. Hendra mengitari bibir jurang lalu pada bagian yang agak menurun menyibak tanaman rimbun, di situ ada jalan menuju dasar jurang, itu jalan macan. Tika berjalan hati-hati di samping Hendra sampai mereka mencapai dasar jurang. Hendra mengamati keadaan sebelum mencapai dasar jurang, waspada kalau si pemilik tempat ternyata tidur di situ.

Saat sampai di dasar jurang, ternyata sepi, Hendra mencari tempat mereka menginap delapan tahun lalu, patokan pohon di depan gua kecil yang dahannya dia pakai untuk menggantung ayam hutan. Ketemu, dia lalu membersihkan tanah sekitar untuk mendirikan tenda dan perapian tepat dimana mereka dulu berada. Banyak rumput dan ilalang setelah delapan tahun lalu tapi bekas perapian yang dia buat masih ada, tapi batu yang dia pakai membuat perapian masih ada dan sama formasinya.

“Itu batu yang dulu kamu buat tatakan api ?” Tanya Tika

“Iya masih ada, tempatnya juga gak berubah.”

Hendra meratakan tanah supaya tenda dan matras di depannya bisa nyaman untuk duduk dan tidur. Mereka mempersiapkan tempat untuk mereka menginap dengan senyaman mungkin agar mereka bisa menikmati malam istimewa ini. Setelah selesai mendirikan tenda, membuat perapian, mereka mulai membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu mereka duduk di depan api.

“Dulu, aku sama sekali gak pernah nyangka bakal ketemu kamu, aku masih bingung kehilangan temen-temenku, juga masih gak percaya sama kejadian itu. Tiba-tiba ada kamu, orang yang aku sama sekali aku gak  kenal, juga waktu itu masih belum percaya sama kamu, jangan-jangan kamu salah satu dari mereka. Sampai akhirnya waktu sampai di sini aku baru bener-bener percaya kalau kamu memang dikirim sebagai penolongku, dan seumur hidupku belum pernah aku temui orang sebaik kamu.” Hendra menatap Tika mengenang saat-saat mereka bertemu dulu.

“Rahasia semesta.” Jawab Hendra membuat Tika tertegun.

“Dua teman ku yang lolos dari maut sampai sekarang pengen banget ketemu kamu. Waktu mereka mendengar kamu kecelakaan mereka telpon sambil nangis, mereka datang waktu selamatan dan tahlilan di rumah mbak Rini. Mereka tambah sedih waktu lihat photo kita berdua di ruang keluarga mbak Rini.” Hendra menambah ranting-ranting kering untuk menambah bahan bakar api.

“Mereka sekarang tinggal dimana ?”

“Elly tinggal di Paris ikut suaminya yang diplomat, Dea tinggal di Surabaya, jadi pengusaha sukses menikah tapi belum punya anak.”

“Alhamdulillah. Mereka pernah ke Tawangmangu lagi setelah kejadian itu ?”

“Pernah, mereka berdua dan suaminya datang ke villa itu untuk berdoa.”

“Kejadian itu sungguh mengenaskan, aku dulu terlambat.”

“Kalau pun kamu tolong juga,  malah kamu celaka, jumlah mereka banyak dan bersenjata.”

“Sebetulnya aku kaget dan capek, waktu itu aku baru turun dan dua hari dua malam gak tidur. Aku susah konsentrasi gak tau kenapa harusnya masih bisa. Biasanya di lapangan, kerja berhari-hari gak tidur tenagaku masih kuat dan konsentrasi juga penuh, entah kenapa ada sesuatu yang diluar akal sehat, kamu ingat waktu aku gak bisa bangun di pos bayangan, otot-ototku sakit semua.” Tika masih ingat ketika saat itu dia puaskan memandangi Hendra yang sedang lelap.

“Kamu dulu pas bekap aku di pos ronda itu kamu gak sadar kalau aku perempuan, mana tanganmu seenaknya gerayangin dadaku.”

“Mana aku tau, badan ku sudah lemas sebetulnya habis berkelahi dengan salah satu dari mereka, kaki kiriku kejang, hadeuh. Jadi supaya gak teriak dan gerak, harus dikunci. Itu benar-benar pengalaman spesial.”

“Maksudmu ?” Hendra tersenyum tidak menjawab

“Waktu itu kamu pikir aku itu siapa ?” Hendra mencari tahu

“Aku gak ngerti waktu itu, linglung harus kemana dan berbuat apa. Pertama ya curiga sampe kita di Pringgosepi aku baru mulai percaya kamu, tapi kamu tuh diem banget nakutin tau, kamu dulu itu dingin banget.”

“Emang sekarang gak ?” Tika memeluk Hendra, dan dia benar-benar bahagia. Hendra membelai pipi Tika dengan jari-jarinya dan entah dari mana datangnya keberanian itu, tiba-tiba dia mengecup bibir Tika, seperti tersengat listrik tegangan tinggi Tika menarik bibir Hendra lebih dalam. Mereka berciuman melepaskan energi cinta satu pada yang lain dengan sepenuh jiwa mereka.

“Hen…” Tika tersadar tiba-tiba wajah Rudy lewat di pikirannya

“Iya Tika aku ngerti…maaf ya.”

“Gak..gak…gak apa-pa, aku juga suka. Cuma aku takut.”Hendra sudah bisa menguasai lagi gejolak hatinya. Mereka menghabiskan malam mereka dengan bercerita tentang pengalaman mereka selama mereka terpisah.

 

Jumat, 18 November 1993

Hendra sudah menyiapkan tali dan harness untuk turun sehingga perjalanan turun melalui beberapa jurang juga lebih cepat karena bantuan peralatan yang lengkap. Tengah hari mereka sudah sampai di desa Sidomulyo tempat Hendra dulu menaruh carriernya. Seperti dulu Tika juga minta mandi di air terjun, kali ini ditemani Hendra, mereka bisa bebas tidak seperti dulu saat jadi buron.

Sekitar pukul dua mereka meneruskan perjalanan ke desa Widomulyo, dan di desa Kalang di jalan raya mereka mencari angkutan umum untuk disewa ke Gorang gareng. Perjalanan ke Gorang gareng juga lancar, sekitar pukul empat mereka sudah sampai penginapan yang dulu mereka tinggal. Banyak yang berubah dari penginapan itu, lebih bagus dan bersih. Hendra meminta dua kamar yang sama seperti dulu. Mereka lalu mandi dan bersiap-siap makan bakso.

Warung bakso yang mereka datangi dulu masih ada, hanya sekarang anaknya yang berjualan, bapaknya yang sudah tua istirahat di rumah.

“Nikmat banget. Bener-bener aku kangen banget sama bakso ini, di Manchester sempat aku mimpi makan bakso di sini.”

“Rupanya aku gak masuk dalam mimpimu, Cuma bakso ya.”

“Apa sih kamu cemburu ? makannya kan juga sama kamu.” Hendra senyum sambil menyuap baksonya.

Selesai makan bakso mereka berjalan-jalan menyusuri toko-toko yang sebagian sudah berubah. Ada beberapa toko baru dan juga toko lama yang direnovasi. Hendra berhenti di toko cuci dan cetak photo untuk mencetak klise dan meminta hasilnya segera selesai, ternyata malam itu juga bisa selesai dan akan diantar ke penginapan. Hendra menyerahkan uang ditambah bonusnya karena mereka bisa selesai lebih cepat.

“Mas…mbak…mas Hendra…mbak Tika…..” Seseorang memanggil-manggil, mereka berhenti mencari asal suara. Seorang kusir dokar menghampiri mereka. Hendra segera mengenali

“Pak Jo…loh…kados pundi khabare pak… sehat toh. Waduh sampun ganti dokar.” Hendra menyalami dan memeluk sais dokar itu

“Sae mas… sehat. Lah ini dari berkat bantuan mas dulu masak lupa.” Tika juga menyalaminya

“Apa kabar pak Jo ?” Tika menyapa karena Hendra sedikit menarik badannya memberi ruang pada Tika

“Baik mbak. Mas dan mbak sehat juga toh ?” Mereka berbarengan menjawab

“Sehat..sehat…pak.”

“Mau kemana ini, saya antar ya.” Hendra cepat-cepat menjawab.

“Pak Jo sampeyan enteni ning pos polisi yo, aku tak mlaku-mlaku disik.”

“Nggih mas Hendra.”

Mereka melanjutkan berjalan kaki bergandengan memikmati suasana malam di desa yang indah itu. Hawa sejuk masih seperti delapan tahun lalu juga bulan dan bintang terang bersinar menghiasi malam penuh kebahagian bagi mereka.

Pak Jo sudah memarkir dokarnya ketika mereka sampai. Seperti dulu mereka menuju warung nasi pecel yang kondang dan ramai itu. Ternyata warung itu makin besar jumlah meja dan kursi bertambah tiga kali lipat, tamunya juga makin banyak sehingga mereka juga harus antri seperti dulu.

“Kamu dulu nambah kan ya ?” Tanya Hendra sambil mengambil peyek kesukaannya

“Iya kalau gitu sekarang kita minta masing-masing dua aja sekalian biar gak ngantri nambah.”

“Kita mintanya musti deket si mbok biar gak kedengeran yang lain, malu.” Hendra lalu menghampiri mbok Las yang sedang sibuk meracik pecel. Mbok Las menghentikan racikannya dan memandangi Hendra lekat-lekat.

“Koyoke kok aku gak lali tapi pangling, koyoke bener njenengan ning pun suwi nggih.”

“Nggih leres, wolung taun kepengker mbok, niku lho kalih konco kulo.” Hendra menunjuk Tika, mbok Las berdiri dan tertawa girang.

“Ehh… cah ayu sopo…mbak Tika…yo…aku eling sak iki, mas Hendra. Aku ora bakalan lali sing lanang londo ngganteng sing wedok Jowo ayu putri keraton.” Hendra membisiki mbok Las dan dia manggut-manggut memberi jempol. Hendra kembali ke tempat duduknya

Tamu-tamu yang sedang makan memperhatikan pasangan itu dan ketika tahu kalau mereka sudah dikenal mbok Las mereka tambah kagum. Lebih lagi melihat perawakan dan wajah Hendra yang berwajah Eropa-Indo tapi sangat fasih berbahasa jawa mereka makin kagum. Disampingnya putri cantik jelita yang mengundang decak kagum akan kecantikannya.

“Kita jadi perhatian orang nih.” Tika memberitahu Hendra yang juga sadar akan hal itu

“Iya. Sudahlah nasib. Tadi si mbok bilang kita disuruh tunggu sampai malam nanti, dia pengen ngobrol.”

“Lho…kita gak bisa keliling alun-alun donk.”

“Nanti kita tinggal keliling dulu trus balik lagi ke sini, kasihan dia mau ketemu kita. Toh belum tentu kita bisa ketemu dia lagi.”

“Kok gitu, emangnya…” Terputus kata-kata Tika, dia sadar dia harus membuat keputusan setelah ini dan Hendra benar, maka Tika lalu diam.

Setelah mereka menghabiskan makan malam mereka yang oleh mbok Las ditambah nasi dan lauknya supaya tidak perlu tambah lagi, pemikiran yang cerdas, mereka pamit untuk pergi dulu berkeliling alun-laun dan akan kembali lagi. Diantar pak Jo dengan dokarnya, mereka menuju alun-alun, Hendra mewanti-wanti pak Jo untuk pelan-pelan karena mereka baru selesai makan, begitu juga pak Jo dan kudanya.

Jalan-jalan belum banyak yang berubah hanya sekarang suasana lebih terang dengan lampu-lampu jalan yang sudah banyak dipasang di sepanjang tepi jalan. Di alun-alun juga terang benderang banyak muda mudi dengan motornya sedang berkumpul atau juga pasangan-pasangan yang sedang kencan. Suasana keramaian desa. Suasana yang susah dilupakan untuk orang seperti Tika yang terbiasa tinggal di kota besar di Eropa.

“Kapan rencana kamu pulang ke Manchester ?” Tanya Hendra saat berjalan di alun-alun

“Seharusnya Senin minggu depan aku sudah harus presentasi hasil survey ku, mungkin aku harus khabari mereka untuk mundurkan schedulenya.”

“Kamu suka tinggal dan kerja di sana ?” Tika berhati-hati untuk menjawab karena dia belum tahu arah pertanyaan Hendra

“Gak usah curiga aku cuma tanya kok.”Hendra memeluk Tika.

“Suka.”

“Hmm”

“Kalau kamu gimana masih harus tugas ke luar lagi.”

“Yah…kalau memang tugas ya harus siap.”

“Jadi kamu gak pernah bisa tau kamu akan kemana ?” Hendra menggeleng dia bisa mengira arah pertanyaan Tika, tapi justru ini yang diingginkan Hendra, dia ingin Tika tahu apa adanya.

“Kita balik ke mbok Las lagi yuk.” Tika bisa paham kalau Hendra mengalihkan pembicaraan mereka.
Ketika mereka sampai di warung pecel mbok Las sudah lewat tengah malam tapi masih ada juga tamu yang makan.

“Waktu kesini dulu juga pas musim hujan ya ?” Tanya mbok Las

“Iya, bulan yang sama delapan tahun lalu.” Tika menjelaskan

“Saya ikuti berita di koran, dan saya ora bakal lupa wajah mbak Tika.”

“Memang sejak kejadian itu saya gak tinggal lagi di Indonesia.”

“Iya saya juga baca di koran. Trus kapan berdua ini nikah ?” Tika merasa ada ribuan semut merayapi kepalannya

“Mbok Las ojo …..” Hendra berusaha menyela

“Loh… saya akan ikut bahagia, dulu waktu kalian berdua ke sini, saya yakin kalian sebenarnya saling cinta, cuma gak berani ngomong toh. Kalian itu pasangan yang cocok.”
Mereka berdua saling pandang, rupanya walaupun mereka berdua berusaha menyembunyikan perasaan, sementara orang lain justru dengan mudah membacanya.

“Mas Hendra terima kasih banyak, gak ngerti gimana mas kok bisa tau, waktu itu mbok memang sedang menanggung masalah yang berat sekali hutang mbok menumpuk sejak ditinggal bapaknya anak-anak.”

“Lho..ngendiko nopo toh mbok Las, jangan mengada-ada.”

“Saya sudah tau, waktu itu saya penasaran, akhirnya saya pergi ke gunung tanya sama orang pinter, mencari tau siapa orang yang menolong kami. Isi amplop coklat itu bisa untuk membayar hutang dan menambah modal sampai bisa seperti ini.” Mbok Las mulai menangis terharu dan bahagia, Hendra memilih diam dari pada nanti malah melebar, begitu pikirnya.

“Hen… kamu nolong gimana sih.” Tika berbisik pelan, Hendra mengedipkan matanya memberi tanda pada Tika.

Setelah berpamitan dan berterimakasih mereka diantar pak Jo kembali ke penginapan. Tika minta pintu penghubung kamar mereka tidak ditutup karena dia masih mau ngobrol. Sesampai di penginapan Tika segera menuju kamar, baru sadar kalau Hendra tidak ada di kamar sebelah, dia lalu balik ke depan penginapan.

Rupanya Hendra masih berbincang dengan pak Jo lalu menyerahkan bungkusan coklat. Dia bisa melihat bagaimana mimik pak Jo yang memeluk Hendra, rupanya memang Hendra selalu berbuat sesuatu pada orang di sekelilingnya. Pantas begitu banyak yang mendoakan dia waktu dia dikabarkan tewas.

“Ini photo-photo kamu sudah diantar, bagus-bagus.” Tika penasaran, cepat-cepat mengambilnya dari tangan Hendra.

“Kamu cantik sekali dngan latar belakang edelweis.”

“Kamu juga ganteng banget, ih keren.” Tika memeluk Hendra

“Mbok Las tadi kenapa, sampai meluk sambil nangis, memangnya kamu bantu apa ?” Tanya Tika setelah mereka berada di kamar.

“Gak ada apa-apa, dia berlebihan.”

“Gimana cara kamu tau dia perlu ditolong ?” Dia tahu Tika juga curiga maka dia tidak berniat memperpanjang masalah

“Sama seperti aku ketemu kamu.”

“Oh jadi kamu samain aku sama mbok Las ?” Hendra senyum, tapi Tika jadi gemas lalu ditubruknya Hendra yang sedang duduk di atas tempat tidur.

“Hayo…kamu kasih apa ? Tika mencubiti perut Hendra

“Kamu tuh nolong orang terus, kamu sendiri gak kamu pikirin ?”

“Jangan pernah berhitung, dan ada saatnya aku juga akan ditolong.”

“Kamu tuh baik banget sih.” Kata Tika lirih, benar-benar bingung akan keputusan yang dibuatnya beberapa minggu lalu. Tika memeluk Hendra kepalanya dibenamkan di dada Hendra. Besok mereka akan berpisah, karena besok pagi Hendra akan mengantar dia pada pengawal-pengawalnya itu. Malam ini adalah saat terakhir dia bisa berbagi kasih dengan Hendra, malam yang memberikan obat pada rindunya yang tak kunjung padam.

Hendra mengangkat kepala Tika dan dia juga merasakan rindu yang tak juga pernah punah. Mereka saling pandang dan Tika menurunkan kepalanya dan bibir mereka saling mencurahkan rasa yang mereka pendam, tidak seperti di jurang macan, kali ini mereka benar-benar merasakan sentuhan sang dewi cinta. Hendra membelai dan menarik lembut bibirnya untuk memberi tanda pada Tika yang mulai membara.

“Kamu tidur dulu, pasti kamu capek khan.”

“Aku tidur di sini ya. Kamu peluk.” Hendra tersenyum dan memeluk Tika.

 

Sabtu. 19 November 1993

Bandara Adi Soemarmo berawan tipis, pesawat Garuda Indonesia dan Sempati Air terparkir berjajar sedang menurunkan penumpang. Kesibukan di bandara mulai meningkat menjelang siang dengan makin banyaknya penerbangan yang datang dan pergi.

Di ruang tunggu eksekutif bandara masih hanya ada tiga orang yang sedang duduk disana. Dua diantaranya adalah Tika dan Hendra. Saling pandang dan terlihat mesra namun wajah mereka menunjukan kesedihan. Sudah lebih dari lima belas menit keduanya masih terdiam, kadang-kadang saling genggam tangan.

“Tika.”

“Ya.”

“Terima kasih telah menemani aku.” Hendra begitu serius dan tegang

“Aku juga, makasih Hen. Kamu udah bikin aku bahagia sekali. Kita masih bisa ketemu lagi kan ?” Hendra diam tidak menjawab. Mata Tika berkaca-kaca, Hendra tersenyum menghibur.

“Kalau kamu butuh aku, cukup tinggalkan pesan di nomor ini. Aku pasti datang.” Hendra menyodorkan kertas kecil berisi nomor telepon, Tika tahu itu bukan nomor telepon di Indonesia.

Melalui pengeras suara bandara, petugas mengumumkan panggilan boarding pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta. Hendra berdiri dan mengajak Tika yang rupanya malas untuk berdiri, matanya masih basah, tapi akhirnya dia berdiri dan berjalan, pengawal-pengawalnya sudah siaga dekat pintu menuju landasan. Sebelum sampai ke pintu boarding, Hendra berhenti dan menahan Tika.

“Apapun keputusan kamu, aku akan terima dan hormati Tika. Gak usah ragu aku sudah cukup dengan tiga hari kemarin, bahkan lebih. Terimakasih sekali lagi.” Tika benar-benar bobol pertahanan hatinya, dia peluk erat Hendra sambil menangis. Dia sudah melukai seorang yang telah menyerahkan jiwa untuknya, tapi terlebih lagi dia juga begitu tulus mencintainya. Dia sadar bahwa orang seperti Hendra ini mungkin hanya satu dari jutaan.

“Semua sudah boarding, kamu harus berangkat.” Hendra lalu mencium Tika, untuk terakhir kali, namun tiba-tiba dia merasa ada magnet berkekuatan ribuan tesla menariknya ke badan Tika, cepat-cepat dia kuasai kembali.

“Hen…apa….?”

“Aku cinta kamu.” Hendra berbisik lalu mendorong lembut bahu Tika. Sekejap Tika melihat perubahan di raut wajah dan pandangan mata Hendra, kembali seperti saat pertama kali bertemu pandang di kebun cengkeh delapan tahun lalu. Pandang yang kosong, dingin seperti es, tanpa senyum tegak seperti angkuhnya gunung Lawu, bukan Hendra yang barusan lembut menciumnya.

Tika tak lagi bisa menolak ketika Hendra memberi kode anggukan pada pengawal-pengawal itu, dia pasrah dan menangis malah hampir pingsan menahan tekanan ini. Dia sudah kehilangan Hendra, benar-benar kehilangan karena dia sudah berada di luar hati Hendra, yang tinggal di dalam hanya semua kenangan mereka. Sekarang hanya menunggu keputusan Tika. Berat sekali, seperti ada berton-ton bandul yang menggatung di dadanya.

Sampai pesawat tinggal landas Hendra masih berdiri terpaku memandangi burung besi itu terbang membumbung tinggi. Demikian juga Tika dari jendela pesawat memandangi Hendra yang berdiri mematung. Entah apa yang akan terjadi dengan Hendra dan hubungan mereka, Tika bingung. Hendra kembali dalam sepi.

 

Minggu, 20 November 1993

Tika sedang merapikan hasil kerjanya dan membuat bahan laporan dan presentasi, besok dia harus berangkat ke Manchester, walaupun hatinya bimbang tapi dia harus profesional, harus diselesaikan sampai tuntas. Tadi pagi dia sudah bicara dengan Stanley McGregor CEO dari perusahaan tempat dia bekerja tentang jadwal dia kembali ke Inggris.

Semalam Rudy juga telepon karena berkali-kali dia mencari Tika tapi belum pulang dan dikabari kalau Tika pergi mendaki gunung, tentu dia sangat khawatir akan keselamatan tunangannya. Saat bicara di telepon itu Tika ingin mejelaskan tentang Hendra, tapi tidak mungkin, tidak ada orang yang percaya. Tika benar-benar dihadapkan pada masalah yang pelik, karena ini menyangkut dua keluarga yang sudah saling sepakat. Bahkan papinya juga sudah mencari hari dan tanggal untuk pernikahan mereka, lalu gimana dengan Hendra. Apakah dia seumur hidupnya benar-benar akan sendiri, dia hanya bisa memberi tapi tidak akan pernah bisa menerima.

“Papi tau kalau Hendra masih hidup ?” Tiba-tiba Tika minta penjelasan saat mereka bertiga duduk di taman belakang.

“Apa ? Hendra masih hidup ?” Maminya sangat terkejut, papinya terlihat serius dan belum menjawab

“Kamu tau dari mana, dia menghubungi kamu ?”

“Tika ketemu dia Pi, di Lawu dan kami sama-sama naik.”

“Apa ?” Ibunya makin Heran.

“Papi sudah disumpah dan ini adalah rahasia, seharusnya dia gak perlu ketemu kamu.”

“Kenapa Pi ? Hendra kan juga manusia, dia yatim piatu dari kecil hidup susah, gak pernah rasain kasih sayang orang tua. Dia cinta banget sama aku Pi dan aku juga. Kenapa papi tega misahin aku sama dia. Kalau aku tau Hendra masih hidup aku gak bakal mau tunangan sama Rudy.” Tika menangis, maminya memeluk menenangkan dan ikut sedih.

“Pertunanganmu dengan Rudy tidak ada sangkut pautnya, toh kamu yang meminta restu. Keluarga kita sudah terikat janji dengan keluarga Rudy, jadi gak mungkin bisa dibatalkan.” Papi Tika sudah mencium gelagat perubahan pilihan hati Tika. Tika terdiam karena dia tahu kalau papinya sudah memutuskan tidak akan pernah berubah, persis Hendra. Tika kembali ke kamarnya, kalau Hendra ada di situ tentu dia bisa mencurahkan kekesalan ini, dia masih belum bisa melepas wajah Hendra dari pikirannya.

Pintu kamarnya diketuk.

“Masuk.” Tika membalas, dan pintu terbuka. Metty.

“Hai Tika.” Mereka saling peluk dan cium

“Tumben…”

“Lu besok balik ke Inggris kan, makanya sekarang gue ke sini.”

“Gimana New York ?”

“Masih dingin…Tika lu percaya gak kalau Hendra masih hidup ?”

Petir menyambar di siang bolong,

“Waduh bisa kacau ini, kalau dia benar-benar sudah ketemu Hendra, Metty pasti merasa diatas angin karena aku sudah tunangan dan segera kawin.” Pikir Tika

“Maksud lu apa sih ?” Tika pura-pura bodo

“Dua bulan lalu gue ke Vegas sama temen-temen, waktu di hotel tempat kita nginap gue lihat Hendra, gue yakin banget bentuk badannya, warna rambutnya. Cuma dia brewokan, tapi gue yakin itu Hendra. Gue panggil-panggil tapi dia gak denger.”

“Ah elo berhalusinasi aja kali, lagian di sana khan banyak bule keturunan Vietnam atau Thailand yang mirip Hendra.”

“Gak…Tik, gue yakin banget.”

“Trus kalau bener itu Hendra, lu mau apa.”

“Ya gua tembak aja lah, kan dia jomblo gue juga, lu udah tunangan and married soon, jadi…dia pasti terima donk, trus gue minta langsung dilamar aja, beres kan.”

“Aduh !!!”

“Kenapa Tik..?”

“Gak…gak…apa-apa, tadi gue janji telpon Rudy.”

“Oh okay…gue ketemu pakde dan bude dulu ya.” Tika mengangguk

“Waduh kalau bener Metty bisa ketemu Hendra dan aku belum mutusin, bisa gawat nih. Hendra bisa diambil Metty, dia pernah bilang Metty itu mirip sekali sama aku. Gimana nih, aku gak mau kehilangan Hendra.”

Tika benar-benar dibakar api cemburu. Cepat-cepat dia cari kertas kecil berisi nomor telepon yang pernah diberikan Hendra padanya. Waktu dia akan memutar nomor itu, wajah Rudy melintas, sehingga dia ragu. Bagaimanapun tidak bisa dia pungkiri kalau masih mencintai Rudy yang baik dan setia, yang selama dua tahun ini menjadi tumpahan cintanya dan banyak kebahagian yang telah mereka lalui bersama, walaupun tidak sedalam hubungannya dengan Hendra dalam segala hal.

Ikatan janji pertunangan yang sudah diucapkan mana bisa begitu saja dibatalkan. Atau kalau memang sudah takdir Hendra harus menikah dengan Metty dan Hendra bahagia, tentu lebih baik untuk semua pihak. Mungkin saatnya memikirkan semuanya dengan jernih tanpa emosi. Tika mecoba memposisikan dirinya jadi Hendra. Bagaimana pemikiran sederhana Hendra saat dibelit masalah yang begitu rumit, adalah sang waktu yang bisa membuat perubahan. Tika pasrah. Kini dia begitu berat untuk membuat keputusan maka dia serahkan sang waktu. Sebaliknya apakah terjadi juga pada Hendra yang hatinya kokoh dingin membeku ?

Keesokan harinya Tika bertolak ke Manchester dengan perasaan sedih, berat meninggalkan orang tua dan kakak-kakak yang disayanginya. Mereka semua mengantar Tika ke bandara, namun Tika berharap ada satu orang lagi yang mengantarnya, tapi hanya angan-angan. Ketika pesawat yang membawanya tinggal landas dia merasa ada bagian dari jiwanya yang tertinggal, lalu dua wajah bergantian muncul, wajah Rudy dan Hendra. Tika berusaha keras untuk menghapus Hendra dari ingatannya, sesaat hilang tapi muncul lagi. Senyum bahagia Hendra terekam jelas, namun sekejap berubah dingin membeku.

Tika tahu, Hendra berusaha merelakannya untuk menyongsong masa depan. Hendra yang sudah terbiasa menerima takdir dengan ikhlas, dan harus kembali ke alam bebas untuk meraih kebahagiaannya. Sendiri.

Makin Tika berusaha melupakan Hendra makin kuat kenangan bersamanya muncul satu demi satu. Ada satu lagi, permintaannya pada Hendra untuk mendaki gunung-gunung di Eropa, dia yakin tak akan pernah terwujud, karena dia siap berpaling dari Hendra, pada akhirnya Hendra akan pergi seorang diri menikmati keindahan gunung-gunung itu. Dia akan kembali dalam kesibukan urusan karir, bisnis dan kehidupan sosial bersama teman-teman juga hubungan cintanya dengan Rudy, dia akan berada dalam kesibukannya dengan waktu yang cepat berlalu. Sementara Hendra akan sendiri, dan apakah dia akan menemui Metty, Tika tidak yakin Hendra akan mengambil keputusan itu. Kalaupun terjadi maka itu adalah pilihan terbaik, akhirnya Tika memutuskan untuk melepas Hendra dan meneruskan rencana pernikahannya dengan Rudy, hanya waktunya dia minta mundur satu tahun lagi.

Kehidupan Tika kembali teratur berputar mengikuti putaran waktu. Kesibukan yang makin meningkat karena rencana perluasan usaha ke Asia Timur dan Tenggara menyita waktu dan pikirannya. Di waktu luang dan weekend dinikmati bersama Rudy, mereka kadang pergi keluar Inggris sekedar untuk mencari suasana baru. Walaupun dia sibuk dan bahagia, diantara waktu-waktu luang dia selalu teringat Hendra. Dia tahu kalau dia rindu tapi tak bisa membuat keputusan untuk melawan arus perjalanan hidupnya. Kalaupun dia meminta pendapat keluarganya, mungkin hanya mas Arif yang mendukungnya, dia terlalu sayang padanya dan mas Arif sudah kenal Hendra.

Bersambung

Lawu Aku Dia 8

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *