Lawu Aku Dia 8

Kamis, 16 Juni 1994

Weekend kali ini Tika bersama Rudy berlibur ke Swiss, mereka mengambil cuti hari Kamis dan Jumat supaya bisa lebih lama di sana. Kota tujuan mereka adalah Zurich dan kota-kota sekitarnya. Hari kamis dan Jumat mereka habiskan waktu di Zurich, Altstetten dan Oerlikon. Mereka belum membuat rencana untuk Sabtu dan Minggu.

Jumat malam, mereka pergi untuk makan di sebuah restoran kecil dekat hotel. Ketika mereka masuk restoran itu sedang ramai pengunjung, sehingga harus mengantri dalam daftar tunggu. Sambil menunggu giliran Tika melihat-lihat brosur tujuan wisata, dari banyak brosur ada satu nama tempat yang membawa ingatannya pada seseorang, desa Braunwald. Salah satu dari empat tempat yang disebut Hendra dimana dia ingin menetap. Seperti apa tempat itu Tika benar-benar penasaran.

“Rud besok kita ke sini yuk.” Tika menunjukan brosur itu pada Rudy.

“Bukannya itu di kaki Alpen ya, pasti dingin sekali.”

“Aku pengen banget ke situ.”

“Ok…Besok kita sewa mobil dan kita nginep aja di sana.”

“Ya…kita bisa pesen dulu hotel nya. Ini ada nomor teleponnya.”

Besoknya mereka menuju Braunwald, sebuah desa yang sebagian besar dihuni orang-orang yang punya hobby mendaki gunung. Desa yang tenteram, udaranya sangat dingin namun pemandangannya indah luar biasa, beruntung saat itu summer tidak sedingin winter. Mereka masih nyaman untuk berkeliling dan menikmati suasana alam, pergi ke danau, bermain sky dan melihat air terjun. Tempat yang menyenangkan untuk menetap, Tika bisa mengerti mengapa pilihan Hendra jatuh di desa ini dia pun setuju kalau diajak Hendra tinggal di sini. Apakabar Hendra, Tika menjadi makin merasa bersalah.

Malamnya mereka pergi ke café yang menampilkan live music, saat mereka tiba sedang mengalun sebuah nyanyian indah. Sambil makan malam mereka menikmati lagu syahdu dalam bahasa setempat diiringi petikan gitar penyanyinya. Tika dan Rudy duduk di meja pojok belakang berjarak kira-kira lima deretan meja ke panggung. Petikan gitar dan suara laki-laki penyanyinya begitu serasi dan indah sekali, hampir semua pengunjung menunda sejenak makan mereka untuk menyaksikan dan mendengarkan penyanyi di panggung dengan penuh perasaan, suasana benar-benar hanyut dalam petikan gitar dan suara merdu sang penyanyi. Lagu Sierra Madre,

 

Wenn der Morgen kommt Und die letzten Schatten vergeh’n,

Schau’n die Menschen der Sierra hinauf zu den sonnigen Höh’n.

Schau’n hinauf,

Wo der weiße Kondor so einsam zieht,

Wie ein Gruß an die Sonne

Erklingt ihr altes Lied:

Sierra, Sierra Madre del Sur,

Sierra, Sierra Madre, oh, oh,

Sierra, Sierra Madre del Sur,

Sierra, Sierra Madre.

Wenn die Arbeit getan

Und der Abendfrieden beginnt,

Schau’n die Menschen hinauf,

Wo die Sierra im Abendrot

brennt.

Und sie denken daran,

Wie schnell ein Glück oft

vergeht,

Und aus tausend Herzen

Erklingt es wie ein Gebet.

Sierra, Sierra Madre del Sur,

Sierra, Sierra Madre, oh, oh,

Sierra, Sierra Madre del Sur,

Sierra, Sierra Madre

 

Pengunjung bertepuk tangan, sebagian lagi meneriakan kekaguman mereka, suasana di café itu benar-benar hidup dan mengasikan, rupanya penyanyi itu adalah salah satu pengunjung juga. Dia turun dari panggung duduk bergabung dengan teman-temannya di salah satu meja. Beberapa orang mendatanginya  minta dia menyanyi lagi, mereka terlihat akrab sekali. Tika memandangi wajah orang itu, seketika terasa dingin di atas ulu hatinya.

“Suaranya bagus dan petikan gitarnya juga hebat, pantas kalau semua terhibur.” Kata Rudy sambil memperhatikan orang itu kembali ke panggung lalu berbincang dengan anggota band yang mengiringi. Seorang yang tinggi atletis dengan kumis dan brewok khas orang desa di Swiss.

“Kamu kenapa Tik ?” Rudy bertanya karena tidak ada tanggapan dari Tika yang sedang linglung seperti baru bangun tidur. Tika sendiri tidak mengerti tiba-tiba detak jantungnya tidak menentu dan ada angin dingin berhembus di belakang lehernya, seperti ada bagian hatinya yang diketuk-ketuk. Dia terus memperhatikan orang yang tadi menyanyi itu, tinggi dan bentuk tubuhnya, rambutnya, cara dia berjalan tidak asing bagi Tika, dan ada kekuatan magnet yang menariknya ke tempat orang itu diatas panggung.

Cahaya café itu remang-remang, tidak terang benderang, seperti umumnya café di Eropa rata-rata lampu hanya diatas meja makan sehingga tidak banyak memberikan sinar pada orang-orang yang duduk mengelilinginya. Begitu juga cahaya di panggung tidak terlalu terang. Ketika ditanya Rudy Tika kaget, dia gelagapan.

“Gak…gak apa-apa, mungkin kebawa lagu tadi.”

Mulai terdengar petikan gitar, orang itu akan segera menyanyi. Kali ini dia membawakan lagu dalam bahasa Inggris “Mountain Cry” dari Blues Traveller.

 

I met my girl on a mountain side

Looking for warmth and a place to hide

She took me in as the day grew long

As we lay by the fire our love grew strong

I left the city for its dirt and grime

The factory walls to make mountain time

I found love, but she slipped away

Now I’m alone, but here I’ll stay

I keep on looking till this very day

For my baby…my baby…(so far)…who’s gone away

I’ll search… search this land till my dyin’ day

A sweet loving woman, make a mountain

Make a mountain

Cry

Cry

Make a mountain

Cry

Mountain cry

Make a mountain (mountain cry)

Come on baby

Mountain cry

Mountain cry

Mountain…mountain…

Make a mountain cry.

 

Merdu dan lembut sekali, kualitas penyanyi pro dengan pitch control yang hebat. Dia menutup lagu itu dengan berujar,

“Vermisse dich, Lawu”

Tika tercekik lehernya. Hendra !!! Dia berlari menuju panggung tapi terhalang oleh orang-orang yang berdiri bertepuk tangan, dengan usaha keras dia bisa mendekati panggung tapi orang itu sudah pergi Tika menuju meja tempat orang itu semula duduk, masih ada beberapa orang duduk di sana.

“Sorry, do you know the guy sit here ?” Tika bertanya pada ketiga orang di sana

“Ooh…sure, ach…you are from Indonesia as well.”

“Yes…right.”

“Do you know his name ?”

“Of course, Tirta.”

Duummm, gempa berkekuatan delapan skala richter mengguncang tanah tempatnya berpijak. Tika merasa lututnya gemetar tak kuat lagi menyangga berat tubuhnya.

“Hendra, kamu !?” Tanya Tika dalam hati

Tika mencari Hendra ke semua sudut café bahkan ke belakang juga ke luar, Hendra menghilang entah kemana. Rudy bingung siapa yang dicari tunangannya, orang yang menyanyi tadi kah, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tika sadar kalau ini kebetulan semata, Hendra pasti akan menghindar darinya karena dia bersama Rudy. Dia bisa membayangkan bagaimana dia sendiri cemburu ketika tahu Metty mencintai Hendra. Untuk kondisi yang sama, Hendra harus melihat mereka berdua. Kasihan Hendra. Runtuh semua pertahanan yang selama ini dia bangun untuk melupakan Hendra. Rupanya Hendra benar-benar mewujudkan keinginannya untuk tinggal di sini.

Akhirnya karena tidak bisa menemukan Hendra, Tika berusaha menemui pemilik café untuk mencari tahu tentang Hendra.

“Tika kamu kenapa ? Siapa sih yang kamu cari ?” Tanya Rudy

“Aku pernah cerita seseorang yang nyelamatin aku sembilan tahun lalu, dia yang tadi nyanyi,” Tika berhenti beberapa jenak mengatur nafasnya yang memburu kecepatan berpikirnya.

“Kamu balik aja ke hotel biar aku tanya sama owner tempat ini mungkin dia kenal.” Rudy merasa ada kejanggalan tapi dia tak ingin memperumit keadaan.

“Take care, aku tunggu di hotel.”

“Ok…”

Agak lama Tika menunggu, karena pemilik cafe itu sedang ada tamu di kantornya, beberapa saat kemudian pintu dibuka. Seseorang keluar dan Tika masuk menyalami pemilik kantor.

“Hi…I am Tika, do you speak English.”

“Dieter, Few words.” Jawab pemilik café, badannya tinggi besar, tinggi kira-kira 195 cm dan berat sekitar 120 kg dengan rambut panjang dikuncir dan kumis dan brewok panjang.

“Do you know the guy just sang Mountain Cry ?” Wajah Dieter tiba-tiba berubah curiga

“Why do you want to know ? aus Indonesien ? But wait, where did I see you, you look so familiar.”

“Yes Right I am Indonesian same with him, He is Tirta Hendrayana, right ? I am his girl friend,” Tika tak lagi bisa berpikir jernih sehingga dia katakan apa yang dia rasakan. Dieter pun kaget rupanya ada sesuatu yang mengingatkannya.

“Ach…now I remember where I saw your picture.”

“Do you know where I can find him ?” Dieter terdiam

“Actually he own this place , I am his partner.”

“Sorry, come again.” Tika tambah kaget, tapi kemudian dia sadar kalau dia sedang berhadapan dengan Hendra yang penuh misteri dan kejutan.

“It’s true, sein Cafe, aber ich weiß nicht dass er eine Freundin hat. Du weißt wie er ist.”

“Yes I know, that is why I only ask to the one that has special relationship with him.”

“Ja. Six years ago he bought this piece of land and build this place, I was being asked to manage the café. I moved my family from Tuttlingen and stay here, and a year later he bought some others, including that hotel in the corner. He is very young at that time, but he is very humble and sincere, the only things is no body knows who he is and what he does. I just knew that he is Indonesian when I have to take care his documents for this café. He is very quite, icy. He usually stays here for two weeks, go climbs and takes rest for one or two days then he goes. In this village we all love him.” Tika masih belum bisa mencerna begitu banyak kejutan tentang Hendra, tentang apa yang sudah dia buat pada begitu banyak orang dan di tempat yang jauh sekali dan tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan hotel tempatnya menginap juga milik Hendra, jangan-jangan masih ada lagi di La Thuile Italia, Magetan dan tempat lain yang belum dia sebut.

“Where is he now ? I need to see him, please.”

“Warten.” Dia memutar nomor telepon dan berbicara dengan seseorang menanyakan Hendra.

“He already gone, but you have his number for him to find you right?”

“Yes…”

“Emergency only. If you still have time, stay at least three days, he might be back.”

“Danke vielmals Dieter. Tschau!” Tika menyalami dan berlalu

“Tschau !”

Sambil berjalan ke hotel, Tika masih belum percaya kalau di tempat yang jauh ini dia akan bertemu Hendra, dan yang lebih menggoyahkan pendiriannya adalah suara dan petikan gitar Hendra yang begitu merdu namun penuh kesedihan, mengiris-iris hati, ngilu. Semua pesan dalam lagu itu tersampaikan dengan baik pada orang yang mendengarnya. Bahkan sampai saat itu Tika masih bisa merasakan ngilu di hatinya.

“Ah…Hen aku harus gimana ? Tolong aku Hen… beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Di gunung Lawu dengan mudah kamu putuskan semua untukku, hidup begitu indah dan mudah di sampingmu. Aku sudah tak sanggup lagi menghilangkan kamu dari hidupku. Kamu begitu penuh kejutan dan misteri, tapi juga penuh pesona dan keindahan. Uuhh…bertambah lagi satu rinduku, suara merdumu.”

Sesampai di hotel Tika tidak langsung ke kamar tapi dia berkeliling lobby hotel, dia jadi sangat tertarik dengan hotel itu, hotel milik Hendra. Sama sekali tidak pernah terbayangkan, apa yang Hendra sampaikan tujuh bulan lalu tentang pilihan tempat untuk tinggal dan ternyata tempat itu sebetulnya sudah dia miliki.

Tika memperhatikan lukisan-lukisan di dinding lobby hotel, hampir semua bertema gunung tapi kalau benar-benar diamati maka yang muncul adalah wajah yang terkamuflase. Lama dia perhatikan antara lukisan yang satu dan lainnya. Hah…..itu semua dirinya. Photonya di latar belakang kebun edelweis di Hargo Tiling saat sunrise, indah sekali. Dia mendekati lukisan-lukisan itu dibagian bawah ada tulisan yang tersamar dalam tarikan kuas warna hijau.

“LAD ?” Apa itu. Lama dia berpikir apa arti LAD. Hendra benar-benar mencintainya itu yang disampaikan oleh lukisan-lukisan itu, lalu Tika harus bagaimana. Baginya lebih baik Hendra datang dan menyuruhnya membatalkan perkawinannya dan pergi menghadapi papinya, Tika akan setuju apapun yang Hendra putuskan untuk dirinya.

Sampai pukul sebelas Tika masih belum masuk kamarnya, Rudy turun menemuinya ketika dia masih duduk di lobby merenung. Ada banyak hal yang mungkin dia bisa putuskan di tempat yang tenang itu, sambil menunggu kemungkinan Hendra kembali.

“Kamu belum balik ke kamar ?”

“Belum, masih betah di sini. Kamu tidur duluan aja.” Tapi Rudy masih menunggu Tika sampai sekitar pukul sebelas tiga puluh mereka masuk ke kamar masing-masing.

Tika tidak bisa memejamkan matanya sama sekali perasaan bersalah dan cinta yang bergulat bersama-sama membuat otaknya bekerja mencari-cari cara untuk menyesuaikan setiap perbedaan. Sampai pagi tiba dia cepat-cepat mandi dan pergi ke resepsionis menanyakan Hendra, namun jawabannya Hendra belum kembali. Tika lalu duduk di lobby memandangi lukisan-lukisan yang indah itu. Beberapa orang yang sadar photo di lukisan itu memandangi Tika lalu memberikan selamat dan menyatakan kekaguman mereka. Beberapa menanyakan tempat photo itu diambil dan Tika menjawab

“Mount Lawu. in the border of East and Central Java. Indonesia.”

Rudy juga turun dan mengajak Tika untuk sarapan bersama, sebenarnya Tika sedang malas untuk makan tapi demi menghargai Rudy dia tetap menemani.

“Rud, aku masih mau tinggal di sini beberapa hari. Kamu pulang duluan aja ya.”

“Ngapain kamu di sini. Kamu masih mau ketemu orang itu.” Tika diam sulit sekali menjawab pertanyaan itu.

“Sebenarnya ada apa diantara kalian  ?” Tika masih diam, lalu

“Ketika nyawa kita terancam dan gak ada tempat buat sembunyi dari maut, tiba-tiba ada orang datang nolong dengan taruhan nyawanya. Bisa kita lupain gitu aja ? Aku berhutang nyawa padanya Rud, walaupun dia tidak pernah sama sekali minta imbalan apapun.”

“Ah…itu, cuma alasan kamu aja. Ada sesuatu diantara kalian yang kamu rahasiakan. Siapa nama orang itu ?” Rudy sudah tidak tahan lagi.

“Hendra. Kalaupun gak ketemu, aku butuh sendiri dulu di sini.”

“Terserah kamu.” Rudy kesal

“Mungkin aku perlu ruang untuk sendiri dan suasana yang tenang.”

“Ok. Terserah kamu. Kalau aku tunggu sampai hari Selasa kamu gak muncul di Manchester, kita harus tinjau ulang rencana perkawinan kita. Aku gak mau diselingkuhi.”

Blaaarrrr, Tika merasa terjengkang ditimpa bandul penghancur gedung. Dituduh selingkuh !, tapi faktanya Rudy betul, dan Tika pun sadar kalau dia salah, dia selingkuh, jadi percuma juga menjelaskan semuanya pada Rudy. Hanya akan membuatnya semakin marah. Beruntung Rudy tidak pernah tahu kalau hotel itu milik Hendra, bisa dibayangkan bagaimana api cemburu akan membakar apa saja yang ada di sekelilingnya.

Rudy kembali ke kamar dan mengemasi barang-barangnya dan memasukan ke travelling backpacknya lalu menuju mobil sewa, dia masih menahan marah karena cemburu. Dia tancap gas menuju bandara di Zurich untuk kembali ke London. Sebenarnya dia sangat menyukai suara orang itu kemarin, tapi dia sama sekali tidak tahu kalau orang itu yang menolong Tika dan nampaknya mereka punya hubungan istimewa. Perlahan-lahan ia coba menempatkan diri pada situasi yang sama, kalau kejadian mengerikan itu menimpa dirinya. Bulu kuduknya berdiri, kalau dia yang ditolong maka seumur hidup dia tak akan bisa jauh dari orang itu.

Sepeninggalan Rudy, Tika menuju front office untuk mengurus check out untuk Rudy, dan membayar kamar Rudy.

“Your bills is already been taking care, it’s a pleasure to have you here with us,” Pasti Hendra, Tika sudah bisa menebak

“I need to extend my stay until Thursday.”

“Sure, we will upgrade you to suites room. Can we help you with your luggage ?.”

“No, thanks. I am good.”

“This is your key to the fifth floor.”

“Thank you.”

Tika kembali ke kamarnya untuk mengemasi backpacknya, lalu menuju lantai lima, seperti dijelaskan oleh petugas di front office. Saat pintu lift terbuka Tika terkejut, di lantai itu hanya ada satu pintu, Tika menempelkan kuncinya dan membuka pintu. Rupanya satu lantai itu adalah ruangan besar dengan dinding kaca sehingga dapat langsung melihat pemandangan di luar dari situ.

Tika perlahan masuk, di bagian tengah dinding penuh dengan lukisan dan photo. Semua photo Tika delapan tahun lalu, saat masih sekolah di London, saat wisuda bachelor dan master, dia di depan kantornya di Manchester, dan paling banyak dia di gunung Lawu tujuh bulan lalu. Indah sekali, tapi tidak ada satu pun photo Hendra di sana. Tika tertegun sambil meneteskan air mata.

“Hen…kamu ke sini, aku rindu.” Bisiknya perlahan. Dia menuju lemari-lemari yang berjajar rapih, dibukanya pintu lemari pertama yang merupakan lemari pakaian sebagian besar tergantung T-shirt dan perlengkapan pendakian. Lalu dia membuka pintu kedua, baju perempuan yang tergantung rapi didominasi warna kesukaannya “orange” dia ambil satu ukurannya pas. Lemari ketiga masih berisi pakaian wanita sebagian besar T-shirt dan kaos serta perlengkapan pendakian. Lemari keempat adalah peralatan pendakian gunung salju, lengkap sekali. Hendra sudah menyiapkan ini semua, tentu waktu dia cerita tentang rumah di Tawangmangu kemungkinan besar akan seperti ini juga. Tika benar-benar merasa salah mengambil keputusan melepas Hendra dari hidupnya, tapi kalau mengambil keputusan berbeda dia harus berhadapan dengan orang tuanya yang sudah mempersiapkan rencana pernikahannya dengan Rudy.

Di sudut ruangan sebelah barat dihiasi dengan patung-patung perunggu khas Bali juga ada beberapa kursi yang bisa diduga berbahan jati dengan ukiran Jepara. Sebuah meja kerja besar ada di sisi barat agak dekat dengan sudut ruangan, meja kerja khas Eropa Timur diatasnya ada patung wayang pandawa lima dan punakawan serta patung Asmat di sisi lainnya. Tika duduk di kursi depan meja itu, ada notes putih diatas meja. Diatas meja itu barulah dia temukan photonya bersama Hendra di depan kantor Polisi di Madiun, dibingkai dengan unik.

Tika berjalan ke sudut lainnya, rupanya itu tempat shalat. Sajadah ukuran besar di gelar di situ disampingnya ada kitab suci Al Quran dan beberapa buku lain, ada satu yang menarik perhatian Tika, dia mengangkat satu buku yang kusam tapi cukup tebal, dia membukanya dan ternyata berisi tulisan arab gundul, Tika tidak tau apa itu, sebenarnya itulah kitab kuning, pegangan para santri Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi islam terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Di dinding di atas rak buku-buku itu tergantung photo KH Hasyim Ashari. Bukan main tak habis-habisnya hal baru tentang Hendra datang begitu cepatnya dalam dua hari terakhir ini.

Ada gitar akustik dan sebuah piano elektrik di bagian yang menghadap utara. Di depanya ada sofa yang nyaman tentunya dipakai Hendra untuk memetik gitar sambil duduk menghadap ke pegunungan Alpen yang megah. Satu set video dan audio lengkap dengan televisi plasma ditata apik dekat dengan sofa itu. Tentu akan romantis duduk bersama Hendra sambil mendengarkan dia memetik gitar dan bernyanyi dengan pemandangan indah pegunungan Alpen.

Dapur kecil dengan peralatannya lengkap di bagian menghadap utara, persediaan bahan-bahan untuk memasak lengkap tersedia. Mengingatkan Tika kalau Hendra adalah juga seorang chef, kembali muncul cita rasa ayam bakar kecap dan omelette dari ingatannya. Rindu.

Tika menuju tempat tidur, bagian paling privat, sebuah tempat tidur yang nyaman berukuran besar namun sederhana. Tika duduk di tepian kasur, nyaman sekali membuatnya tergoda untuk mencoba tiduran di atasnya, dia peluk bantal itu. Bau wangi Hendra yang dia rindukan memenuhi rongga kepalanya. Di sebelah tempat tidur itu ada nakas di kanan dan kiri dan di meja kanan dia temukan buku diary, Tika mengambil buku itu dan mulai membukanya.

Halaman pertama buku tertulis “TH” di tengah halaman, halaman berikutnya semua bahasa sandi beberapa bahasa Rusia yang juga disandikan. Tika teringat waktu kecil membuka buku papinya dan menemukan bahasa yang hampir sama, dulu dia pernah mencoba memecahkan bahasa sandi itu tapi sukar sekali dan akhirnya dia menyerah. Mungkin ini sebabnya, papinya tidak mendukung dia memilih Hendra untuk menjadi kekasihnya. Mereka pasti saling terkait dalam pekerjaan baik langsung maupun tidak. Di akhir halaman baru Tika bisa membaca karena ditulis campuran bahasa Indonesia, Jawa, Madura, Sunda dan Betawi. Rupanya daftar kegiatan sehari-hari kalau Hendra berada di situ, jadwal dari mulai pukul lima pagi sampai pukul tujuh malam.

Pukul tiga empat puluh pagi setelah shalat subuh lari di luar selama satu jam dilanjutkan latihan di fitness center hotel selama empat puluh lima menit. Pukul tujuh mandi kemudian sarapan pagi sampai pukul delapan, delapan lima belas menit berangkat ke peternakan sapi membantu Ellise memerah sapi dan memproses susunya sampai pukul satu. Setelah shalat dzuhur ke bengkel Peter hingga pukul lima shalat ashar di bengkel, lalu ke café Dieter membantu menyiapkan acara dan masakan serta minuman untuk malam hari. Pukul tujuh kembali ke hotel untuk mandi dan shalat maghrib pukul delapan, membaca dan memahami dua juz alquran atau dua paragraf hadist. Pukul sembilan kembali ke café Dieter sampai tutup pukul dua belas. Setelah itu kembali ke hotel, shalat Isya, memetik gitar atau main piano, menulis resep masakan baru kalau ada. Istirahat.

Tika teringat ketika Hendra mencoret-coret dan menulis rute perjalan, waktu tempuh, dan semuanya secara detail. Inikah hidupnya sehari-hari, jangan-jangan di Magetan, di desa Selokambang di lereng timur gunung Semeru dan La Thuile juga ada tempat seperti ini. Tika mulai berpikir kalau dia pun ingin membuat kegiatan seperti yang ada di dalam diari Hendra, tinggal dia sesuaikan dengan keinginannya, kalau Hendra tidak datang kembali ke situ.

Seharian Tika berada di kamar tidak berminat untuk keluar. Dia menonton berita TV, memutar DVD membaca buku, makan pun dia minta diantar ke kamar. Dia menunggu Hendra karena tidak ingin kehilangan kesempatan bertemu Hendra. Sambil membaca buku dia buka jendela di depan sofa menghadap ke pegunungan, Dia bisa merasakan semilir angin menerpa wajahnya, nyaman sekali. Dia sekarang mengerti alasan Hendra memilih tempat ini untuk menetap. Dia pun mau kalau diajak Hendra tinggal di situ.

Pukul sepuluh Tika sudah tertidur besok harus bangun subuh dan dilanjutkan dengan melakukan aktifitas seperti yang dikerjakan Hendra. Dia tidur pulas sampai-sampai tak terdengar saat pintu kamar dibuka. Menjelang subuh dia bangun mandi dan shalat lalu dia kembali ke tempat tidur kantuknya masih tersisa.

Tika bangkit dari tempat tidur lalu mengganti bajunya dengan T-shirt dan jeans yang ada di lemari yang sudah disiapkan Hendra, dia juga mengambil dan memakai sweater abu-abu yang lembut. Dari lemari yang merupakan rak sepatu ada sepatu training, running, trekking dan climbing, Tika mengambil sepatu training berwarna putih bergaris orange, pas ukuran kakinya. Sekarang dia merasa ada di rumahnya sendiri, hampir semua yang dia butuhkan ada di situ. Terima kasih Hendra.

Bersambung

Lawu Aku Dia 9

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *