Lawu Aku Dia 9

Tika turun ke lobby di sana sudah ramai, beberapa penghuni hotel sedang sarapan tapi masih ada beberapa orang di depan reception sedang mencari kamar. Setelah reception sepi Tika mendekati meja reception dan bertanya.

“Tirta, Did he come ?” Gadis reception yang kemarin bertugas itu tersenyum

“Yes late last night. This is from him.” Gadis reception itu memberi Tika karangan bunga warna-warni yang indah. Tika menerima bunga itu sambil tersenyum lalu mencium bunga itu, wanginya benar-benar menyegarkan. Ada catatan kecil disematkan di bunga.

“Di sini gak ada edelweis. Semoga kamu suka. TH.” Tika tersenyum bahagia, masih besar perhatian Hendra padanya.

“Thanks. Where is he now ?“

“He left early morning.” Tika kecewa dan sedih,

“Pasti Hendra semalam ke kamar dan saat dia masuk aku sedang tidur nyenyak, Hendra kamu curang, aku gak bisa lihat kamu.” Tika kesal ngomel dalam hati

Tika lalu bertanya alamat juga petunjuk menuju peternakan dan bengkel yang selalu di datangi Hendra seperti tulisan Hendra dalam diarynya. Gadis reception itu pun memberikan peta dan memberi arah yang cukup jelas menuju peternakan Allice juga bengkel Peter.

Di peta yang diberikan gadis reception peternakan itu berada di sebelah selatan, berjalan kaki ke sana sekitar satu jam, itu yang selalu dilakukan Hendra begitu juga yang akan dilakukan Tika. Dia menyimpan peta dan catatan yang dibuat gadis itu siap untuk berangkat menjalani rutinitas Hendra pertama.

Keluar dari hotel dia berbelok ke kanan menyusuri jalan aspal yang mulus, sampai di perempatan jalan dia belok lagi ke kanan. Setelah berjalan setengah jam jalan mulai menanjak terjal kemudian turun lalu menanjak dan melingkar dari situ sudah tampak dari kejauhan peternakan sapi Allice.

Luas peternakan itu sekitar lima puluh hektar dikelilingi pagar kayu yang kokoh dan rapi sebagai pembatas. Di bagian paling depan adalah kantor peternakan, di belakangnya laboratorium, di belakangnya lagi adalah bangunan produksi daging beku. Satu bangunan lagi di belakangnya adalah ruang pengolahan dan produksi susu.

Berjarak kira-kira dua ratus meter ke arah timur adalah kandang pertama untuk sapi potong berupa tiga bangunan tinggi besar dengan model double stall tail to tail masing-masing menampung dua puluh ribu sapi, kandang ini merupakan kandang penggemukan. Diatasnya ada kandang perawatan dan pembesaran untuk sapi yang baru disapih oleh induknya sapi-sapi muda dibiarkan berkeliaran tanpa stall, sebagian lagi tampak berkeliaran bebas di luar untuk makan rumput dan menguatkan kaki mereka. Diatasnya berjarak seratus meter adalah kandang beranak untuk sapi yang sedang bunting dan akan melahirkan, bangunannya lebih tertutup dengan suhu udara yang diatur dengan baik.

Lebih ke atas lagi adalah kandang pembenihan bangunannya agak berbeda dan steril, semua jelas ada name tag besar di setiap bangunan. Paling atas adalah tiga kandang untuk sapi perah modelnya masih sama double stall tail to tail dengan kapasitasmasing-masing lima puluh ribu ekor sapi. Masih ada bangunan lain diatasnya untuk sapi perah menjelang melahirkan dan sapi perah yang sakit dibangunan terpisah.

Kendaraan-kendaraan transportasi produksi lalu-lalang teratur dan juga pegawai-pegawai begitu sibuk, pegawai dari berbagai suku bangsa ada di situ. Sangat jelas mereka bekerja dengan gembira dan semangat menandakan perusahaan ini ditata dengan baik.

Selama Tika berjalan-jalan di situ banyak pegawai yang menyapanya dan bersalaman dengan ramah, Tika agak bingung walaupun ini di desa tapi bukan di Tawangmangu, ini Eropa, bagaimana kultur di Indonesia begitu kental di sini.

Ketika Tika sedang menuruni tangga keluar dari bangunan pembenihan tampak seorang perempuan berumur enam puluh tahunan menghampirinya, wajahnya khas Turki. Tingginya hampir sama dengan Tika hanya sedikit lebih gemuk, dia tersenyum pada Tika.

“You must be Tika, I am Allice” Sapanya ramah

“Ooh…Hi Alice. Nice to meet you.”

“I am so happy you are here.”

“Thank you.”

“I walk you to see our facility.”

Allice mengantar Tika menunjukan satu per satu kandang dan sapi-sapi mereka juga proses produksi susu. Ternyata di bagian barat ada bangunan untuk rumah potong dengan fasilitas modern dan bersertifikasi halal. Kira-kira lima puluh meter dari tempat itu ada bangunan yang merupakan karantina untuk sapi yang sakit. Ketika mereka berjalan menuju kantor, ada beberapa pegawai datang menyalami dengan cium tangan, hah ?

“Sugeng rawuh mbak Tika, apa kabar ?” Seorang dari mereka menyapanya

“Baik…alhamdulillah. Loh… kalian dari Indonesia ?”

“Mbak lupa sama saya ya ?” Tika mengamati lebih dekat, tapi dia memang pernah melihatnya tapi entah dimana.

“Tahun lalu mbak sama mas makan di warung bapak di Pringgodani. Saya Sunar.”

“Hah…iya…iya. Kamu anaknya pak de ya. Aduh seneng sekali ketemu kamu.”

“Kalau sama saya ingat gak mbak Tika.” Anak muda di samping Sunar menyalami Tika

“Sek…kamu juga yang di Pringgodani ?”

“Bukan mbak saya Pitoyo, yang melayani mbak makan pecel di Gorang gareng anaknya mbok Las.”

“Ini kita reuni di sini ya, trus yang dua lagi ini siapa ?”

“Ini Andreas anak Wamena Papua dan yang ini Darwis dari Sigli Aceh.”

“Alhamdulillah…senang ya kita ketemu di sini.” Mereka berdua lalu menyalami Tika.

“Mbak kami meneruskan tugas kami dulu.” Sunar pamit juga yang lainnya

“Iya nanti siang, jam istirahat kita makan bareng ya. Saya masih mau nyambung obrolan kita.”

“Inggih…mbak” Jawab Sunar

“Baik ibu, sampai nanti.” Jawab Andreas

“They are very nice and hard worker and discipline it is the opposite image from what I heard about Indonesian.” Jelas Alice

“I can feel they are very professional.” Tika menimpali. Mereka berjalan memasuki kantor utama perusahaan.

“Let’s go inside I will introduce you to our team.” Tika sebenarnya bingung karena dia ke situ untuk melihat-lihat dan membantu seperti apa yang Hendra lakukan. Tika dikenalkan dengan anggota board of director dan semua lini management dan mereka semua begitu hormat padanya, dia tambah bingung. Ada apa sebenarnya. Lalu mereka menuju ruang rapat di lantai dua, di ruang rapat itu ada sebuah meja jati besar dan kursi-kursi dari kayu jati, membuat Tika begitu bangga akan Indonesia.

“Two days ago Hendra came to me and ask me to hear from you if you are interested to joint us. He need someone on his behalf, and he told me it is you.” Tika masih susah untuk mengatur nafas dan kecepatan jantungnya.

“Hendra, kamu kasih aku kejutan apalagi.” Tika berusaha menenangkan diri dan tersenyum. Mereka kemudian masuk ruang rapat tujuh orang sudah duduk  di ruang itu. Tika merasa kikuk karena penampilannya tidak siap untuk rapat resmi.

Allice membuka rapat, yang menurut dia rapat ini sudah lama ditunggu untuk dihadiri oleh pemilik saham mayoritas. Tika termenung sejenak dia benar-benar tidak siap untuk ini, ini bukan urusan kecil walaupun ini bisnis di desa Braunwald di Swiss tapi dengan fasilitas ini paling tidak ada jutaan swiss franc diinvestasikan di sini.

Setelah pembukaan maka direktur keuangan memberikan laporannya. Asset mereka sekarang mencapai enam puluh juta swiss franc yang sebagian besar adalah dana kas yang diinvestasikan lagi dalam saham, deposito dan beberapa perusahaan peternakan di Inggris dan Perancis,

Sedangkan pinjaman kepada pemegang saham telah dikonversikan ke dalam equity berupa paid in capital, sehingga posisi modal saham sekarang adalah delapan puluh persen milik Tirta Hendrayana yang dalam hal ini diwakili Tikadenia Amanda sisanya lima belas persen adalah milik Allice Kunyai, dua setengah persen milik Johan Andersen, dua setengah persen terakhir adalah milik koperasi karyawan AT Farm.
Posisi hutang bank adalah dua juta swiss franc berupa fasilitas letter of credit dalam bentuk standby LC di Swiss Bank Corporation. Hutang dagang sejumlah lima ratus tiga puluh ribu swiss franc merupakan hutang lancar atas transaksi pembelian kebutuhan rutin.

Selama enam bulan terakhir kinerja perusahaan untuk penjualan susu dan daging beku melebihi dari business plan sampai bulan berjalan rata-rata terhadap bulan yang sama adalah dua belas persen dan secara keseluruhan adalah tiga belas koma tiga persen, dari forecast bulanan sampai akhir bulan maka pencapaikan diperkirakan enam belas persen melebihi business plan. Keuntungan perusahaan juga menunjukan peningkatan dari keuntungan bersih 19 % menjadi 21% untuk perbandingan bulan yang sama dengan tahun sebelumnya.

Laporan terakhir kepada pemegang saham pihak board of director dan board of commissioner membagikan dividend namun saat ini hanya Tirta Hendrayana belum mengambil hak devidennya sehingga masih dicatat sebagai hutang deviden namun dananya telah dicadangkan di deposito yang tidak bisa ditarik kecuali oleh pemegang saham tersebut dan Titra Hendrayana telah memberikan kuasa kepada Tikadenia Amanda.

Tika tersenyum berusaha menutupi kejutan lain dari Hendra untuknya, sebenarnya dia bingung tapi dia harus menjaga kepentingan Hendra karena dia yakin Hendra pasti punya rencana untuk mereka.

“I will soon settle the outstanding matters.” Tika memberi tanggapan jelas

“Thank you.” Direktur keuangan seorang anak muda Perancis itu menutup laporannya.

Selanjutnya direktur business development melaporkan bahwa ada permintaan pasar baru di Swiss bagian selatan atas produk susu mereka untuk bahan pembuatan mentega dan keju. Permintaan lain datang dari Italia untuk produk keju mereka yang cocok untuk pasar mereka tuju. Kalau pasar ini diambil maka kenaikan penjualan bukan lagi 18% tetapi menjadi 56%, artinya harus ada peningkatan kapasitas produksi untuk mendukung komitmen penjualan. Selain susu peningkatan kebutuhan akan daging di Perancis tidak bisa dipenuhi oleh pemasok lokal, sehingga permintaan akan daging sapi juga ikut meningkat mulai bulan Agustus.

Beberapa importir daging dari Paris dan Lyon sudah menghubungi dan akan datang untuk membicarakan perjanjian pasokan daging sapi, minggu depan mereka akan datang dan perusahaan harus memutuskan kesanggupan pasokan itu.

“To response new demand we have to invest more on cows, cattles and all supporting fasilities.” Allice menanggapi laporan Kurt Stevensen anak muda asal Swedia yang enerjik.

“Do you have any comment Tika ?” Allice menyambung

“It is good to have additional market, but make sure you concentrate in one segment before you go for others.” Tika memberikan arahan. Mereka lalu membicarakan arahan itu untuk menjadi acuan kebijakan mereka. Rapat itu baru selesai lewat tengah hari, Tika ingat kalau dia sudah berjanji untuk bertemu dengan teman-temannya dari Indonesia, maka dia minta diri untuk istirahat mencari mereka di kantin perusahaan tempat mereka semua makan.

“Selamat siang ibu kita orang senang bisa ketemu lagi dengan ibu.” Sapa Andreas asal Papua

“Ya saya juga senang ketemu kamu semua.”

“Mbak Tika sampun dahar ?” Tanya Sunar

“Nanti aja, saya mau ngobrol dulu.”

“Wis, tak ambilkan apel aja ya.”

“Iya boleh terima kasih.”

“Andreas kamu kapan mulai kerja di sini ?” Tanya Tika

“Saya baru satu tahun ibu”

“Kalau kamu Pitoyo, Darwis ?”

“Saya lima bulanan mbak.” Jawab Pitoyo

“Saya sama dengan Andreas kami pergi dari Jakarta sama-sama.” Jelas Darwis

“Sunar bareng sama kamu Pit ?”

“Nggih mbak.”

“Trus kalian komunikasi sama mereka di sini gimana ?”

“Sebelum berangkat kami semua kursus bahasa Jerman dan Inggris dulu mbak satu bulan setiap hari dua belas jam, yang ngajar orang Jerman yang bisa bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.”

“Mas Hendra yang ngajar ?”

“Bukan mbak temannya mas Hendra yang ngajar di Jakarta. Dia itu juga kerja sama mas Hendra di Bali dan Yogya namanya Hans.” Kata Sunar

“Kok kamu tahu.”

“Hans yang cerita sama saya, dia sudah lima belas tahun berteman dengan mas Hendra.”

“Oo bagus kalian semua gak ada masalah dengan komunikasi. Gimana dengan gaji kalian ?”

“Kalau soal gaji, mereka menggaji kami sesuai standar perusahaan dan tidak dibedakan dengan orang-orang lokal. Kalau kami masih di Indonesia gak mungkin kami bisa dapat sebesar ini. Gaji manager bank di Indonesia mungkin cuma separuh yang kami terima.”

“Syukurlah dan kalian semua senang di sini ?”

“Kami ini semua masih lajang jadi ya senang sekali, week end kami bisa ke Zurich atau ke kota-kota besar lainnya kadang kami juga ke Italia. Kami gak pernah mimpi bisa dapat anugerah ini.”

Sebenarnya Tika dari tadi sudah menahan air matanya untuk tidak jatuh, dia bahagia sekali mendengar cerita mereka yang menggembirakan, itu semua karena Hendra, dia menabur banyak sekali kebahagiaan bagi orang lain termasuk untuk Tika.

“Mbak jam istirahat hampir habis kami mau siap-siap ke tempat kerja kami.”

“Ya. Lain kali kita sambung lagi.”

Gembira sekali Tika bahwa bangsanya dapat bekerja setara dengan bangsa lain, dengan profesional dan disiplin yang tinggi. Tika kembali ke kantor menemui Allice untuk membicarakan beberapa hal yang dia perlu tahu.

“When I met Tirta he was a very young almost every year he comes here for his hobby , he is unique and taciturn, almost no smile but humble. One day he came to my ranch asked me for a job, he said he need money to go back to Jakarta. Everything started from that point, he worked very hard and details with excellent business sense. I tell you the story of this ranch, my grandfather build this ranch business started with three cattle and grew to about fifty, after he passed away it went to my father then to me. The business failed down in my hand, I loss almost every thing, a lot of reason, to summarized I was not good to run the business. When Tirta worked for me for two weeks, I do not how the business getting better and better every day, my order keep on increasing from day to day. However I have to refuse some offer since I did not have enough money anymore,” Allice meneteskan air mata menunjukkan saat itu dia sedang dilanda masalah.

“Tirta came up with proposal to borrow money from banks, and I said it is impossible. He insisted and said just try if fail still nothing to loose, but then no bank had the appetite to lend money to us. He did not give up, he will find away he said. One month after, he came back and asked me to make loan agreement with him, the fresh fund coming and the business running very fast. Six month after that our sales is growing 150 % and we bought cattle from New Zealand for breading and insemination. Two years after all our loan had been returned, and he pumped with capital investment. He then commenced this AT Farm, I ask him what is T, he only smiled like always. Now I know T must be your name, I just figured out you must be someone he loves. He is amazing person, you must be proud of him.”

“Indeed. I really do.”

“By the way this is the share documents you have to keep it.” Tika melihat kertas saham itu sambil termangu, dia bingung apa yang harus dia kerjakan tapi yang pasti dia tidak mungkin menolak karena itu akan menjatuhkan kredibilitas Hendra.

“Tomorrow I will come again but I don’t want to work in the office, let me do like what he does. He milks the cows right and also works in production line, teach me how to do.” Tika bersungguh-sungguh meyakinkan Allice

“Ooh…you… My goodness thank you.” Allice tentu saja terkejut karena mendapati dua orang yang punya karakter sama.

“Alice now I need to go to Peter’s, see you tomorrow.” Tika harus pamit karena dia harus ke bengkel.

Allice masih bengong tidak bisa percaya, mereka berdua punya kesamaan dalam cara berpikir dan bekerja. Hanya Tika masih bisa lebih banyak bicara dibanding Hendra yang hanya sepatah dua patah kata atau tersenyum.

Sampai di bengkel Tika bingung harus ketemu siapa, Hendra hanya menyebut nama Peter. Di bengkel itu ramai sekali oleh pekerja, rupanya bengkel itu adalah bengkel reparasi motor elektrik berukuran besar seperti dinamo motor kapal, dinamo motor pompa, juga motor pesawat dan lainnya. Dia bertanya pada seseorang pekerja yang kemudian menyuruhnya ke kantor di lantai atas.

Ternyata bagian atas adalah kantor yang besar dan ada laboratorium yang alat-alatnya cukup lengkap dan canggih. Tika menuju meja resepsionis dan mengatakan ingin bertemu Peter, Tika dipersilahkan duduk sementara dia masuk mungkin menemui Peter. Tak lama kemudian seseorang laki-laki pendek dan gemuk tergopoh-gopoh keluar.

“Hi…Tika, I am sorry to make you wait. Come in.” Dia mengajak Tika masuk ke dalam kantor dimana banyak orang sedang bekerja, menggambar dan menghitung di papan tulis. Ketika Tika masuk mereka semua berdiri dan menyalami Tika yang berjalan menuju ruang Peter.

“How do you know my name ?” Tanya Tika pada Peter

“Hey…common you are our chairman.” Tika bingung, ini engineering, elektrikal pula, bagaimana Tika bisa mengerti.

Peter melaporkan banyak hal tentang perusahaan itu, bisnis utamanya adalah banyak memproduksi trafo untuk pembangkit listrik dan motor listrik juga maintenance untuk alat-alat tersebut. Di situ Tika agak bingung karena dia tidak mengerti pekerjaan electrical engineering, dia bertanya pada Pieter apa yang dikerjakan Hendra selama di situ. Ternyata Hendra lebih sering membantu di workshop menangani repair maupun pembuatan motor baru produksi mereka.

Hendra kadang mengambil motor yang belum disentuh teknisi dan memperbaikinya sampai selesai dan berfungsi dengan baik, sebagian waktunya juga di bagian design. Tika diberi Pieter beberapa design motor yang berukuran lebih dari 500 HP yang merupakan design Hendra, Tika masih termangu-mangu dijejali begitu banyak hal baru tentang kemampuan Hendra yang luar biasa. Pusing karena tidak mengerti, Tika akhirnya meninggalkan bengkel itu pukul empat, lalu langsung menuju café Dieter.

Rupanya Dieter sudah menunggu, karena mereka sudah saling kenal maka Dieter hanya menjelaskan apa saja yang dilakukan Hendra selama ada di café. Sudah diduga Tika, Hendra pasti membantu memasak untuk tamu-tamu juga mengisi hiburan dengan menyanyi, urusan lainnya dia serahkan pada Dieter. Dieter adalah teman Hendra mendaki sejak sepuluh tahun lalu, mereka sering bertemu di beberapa gunung di dunia, dan sama seperti Hendra diapun lebih sering mendaki sendiri.

Menjelang sore Tika pamit untuk kembali ke hotel, dia berjalan kaki sambil tersenyum. Di sini banyak yang bisa dikerjakannya, bahkan semua begitu menarik. Banyak hal yang mengubah rencana hidupnya, tapi dia rindu sekali bertemu Hendra. Apakah harus menunggu sampai November, tapi dia sudah menetapkan walaupun belum sepenuhnya memutuskan. Besok pagi dia akan mengabari kantornya, bulan depan dia akan mengundurkan diri. Dia sudah bulat karena di sini banyak yang harus dia kerjakan, dan mungkin juga di La Thuile dan di Magetan dan entah dimana lagi Hendra akan membawanya, dia sudah pasrah mengikuti arus sungai mengalir dalam sampan yang dikemudikan Hendra.

Akhir bulan dia akan mengabari papi dan mami serta kakak-kakaknya atas keputusannya. Untuk masalah perkawinan dengan Rudy dia tidak yakin bagaimana ujungnya, biarlah nanti bulan November Hendra yang memutuskan untuknya dan berbicara dengan papinya.

Setelah mandi Tika shalat maghrib dan diteruskan membaca Al Quran dua ayat, membaca terjemahan dalam bahasa inggris dan perlahan-lahan memaknainya. Kalau ada Hendra tentu dia yang akan membimbing dan menjadi imam untuknya. Beberapa buku dia baca dan mencoba memahami, sulit, dia memperhatikan koleksi buku-buku Hendra, mungkin Hendra pernah tinggal di pesantren, koleksinya banyak sekali dan termasuk bacaan yang berat, di beberapa buku bahkan ada tulisan nama dia dan tahunnya dalam aksara arab gundul. Tika makin rindu, sebuah kesalahan yang dia lakukan selama ini, untuk melupakan Hendra. Tika menutup dengan doa untuk orang tua, kakak-kakaknya, Rudy, Hendra dan dia sendiri.

 

Sabtu, 25 Juni 1994

Hari itu adalah hari terakhir Tika di Braunwald desa kecil yang punya kesan mendalam dan berjanji akan kembali lagi ke sana. Selama hampir seminggu dia beraktifitas meng”copy” jadwal Hendra. Dia merasa senang sekali, bekerja dengan orang-orang baik dan penuh semangat, dia juga sudah berjanji  tinggal lebih lama. Sekarang harus kembali ke Manchester untuk menyelesaikan urusan dengan kantornya.

Pegawai hotel mengantar Tika ke bandara Zurich dengan mobil, saat akan berangkat sempat terasa sesuatu yang tertinggal ketika meninggalkan Braunwald, perasaan yang mirip saat akan meninggalkan jurang macan di timur laut gunung Lawu. Tempat baru yang seperti rumah dan nyaman untuk tinggal karena banyak teman-teman baik di sana. Perjalanan dari Zurich Tika ke Manchester berjalan lancar malamnya dia sudah ada di apartemennya di Manchester.

Kotak Handphone Motorola 7200 tergeletak di atas meja, disampingnya ada amplop kecil. Tika membuka amplop berisi kartu GSM untuk phonecellnya yang baru, dia tersenyum-senyum gembira. Dia bisa menduga pasti itu dari Hendra, karena hanya dia yang punya kemampuan itu, masuk ke apartemennya tanpa punya kunci sekalipun. Padahal towernya ini sangat ketat keamanannya.

Cepat-cepat dia buka kotak itu dan melihat isinya, wow…model terakhir Motorola dengan flip. Tika membaca petunjuk cara pemasangannya dan bagaimana mengaktifkan. Lama dia kutak-katik kemudian mulai mengisi baterai yang masih kosong dan memasukan kartu GSMnya, dan handphone itu sudah aktif tinggal dia harus registrasi di gerai provider GSM setempat, dia catat alamatnya malam nanti dia akan ke sana.

Tika memberi nomornya pada semua keluarga dan temannya supaya mudah berkomunikasi. Sudah dua kali Dieter menghubungi dia, butuh bantuan untuk mencarikan chef karena yang sekarang bekerja harus kembali ke Perancis karena ibunya sakit. Hari itu Tika sibuk menghubungi semua teman-temannya yang berbisnis kuliner, juga beberapa chef yang dia kenal.

Handphone nya berdering dan di seberang sana terdengar suara laki-laki.

“Kenalkan saya Hans Janssen dari Bali, apa kabar Tika.”

“Hans kamu dapat nomor saya dari siapa ?”

“Saya teman Hendra yang urus hotel dan property di Bali dan Yogya.”

“Oohh… ya… salam kenal.”

“Saya dapat berita dari Dieter kalau Eric mengundurkan diri, kebetulan teman saya chef di Belgium sedang cari kerja.”

“Wah…bagus kita sedang cari pengganti Eric. Kamu sudah hubungi Hendra.” Hans tertawa-tawa membuat Tika heran.

“Kamu sedang memancing saya…he…he…he…”

“Kenapa ?”

“Kamu selanjutnya akan tanya dimana Hendra.”

“Iya…kamu tau ?”

“Gak, saya gak tau dan kamu juga pasti sudah tau kalau dia itu misterius.”

“Kalau dia hubungi kamu lagi, kasih tau dia, saya mau ketemu,” Tika sedikit kecewa

“Siapa nama teman kamu yang di Belgia ?”

“Jonas Kristanssen.”

“Ok. Minta dia hubungi saya secepatnya.”

“Sure, bye.”

“Bye.”

Mungkin belum saatnya bertemu Hendra dia harus bersabar dulu, dia juga sadar kalau Hendra selalu mengawasinya entah bagaimana caranya, dia punya keyakinan itu. Buktinya semua yang dia butuhkan sudah disiapkan, Hendra masih menunggu. Padahal justru Tika ingin ketemu dengannya supaya dia bisa putuskan untuk Tika. Biarlah, besok dia selesaikan dulu urusan dengan kantornya sekaligus menyelesaikan semua yang dia kerjakan untuk bisa dilanjutkankan oleh teman kerjanya. Terutama mengenai investasi baru di Asia Timur dan Selatan.

Satu masalah besar yang masih belum jelas penyelesaiannya adalah bagaimana hubungannya dengan Rudy juga rencana perkawinannya. Walaupun Tika sudah menetapkan hati untuk mundur dari ikatan itu, tapi ini menyangkut dua keluarga, tentu tidak akan semudah itu. Tika tahu Hendra pasti sudah punya jalan keluarnya hanya dia belum mau bertemu Tika.

Hari Minggu itu Tika membereskan barang-barang yang akan dikirim ke Braunwald dan menyiapkan tiket hari Sabtu ke La Thuile di Italia, membuat rencana kerja dan membuat surat untuk Hendra.

 

Senin, 27 Juni 1994

Stanley McGragor, menyatukan sepuluh jari tangannya, dia sedang bingung, di depannya Tika masih menjelaskan pekerjaan-pekerjaan yang sedang dia tangani dan bagaimana cara melimpahkan pada penggantinya. CEO perusahaan tempat Tika bekerja itu sebenarnya tidak rela harus melepas Tika, dia punya rencana lain untuk menyiapkan Tika menggantikannya, dia ingin pensiun, baginya tidak penting penjelasan tentang pekerjaan. Dia lebih tertarik alasan mengapa Tika berhenti mendadak setelah liburannya.

“Tik, frankly I am not ready to let you go, anything you can tell me the reason. I need this as a friend.” Tika bisa menerka rupanya Stanley benar-benar perhatian seperti selama ini, dan umurnya yang sudah tujuh puluh lima wajar dia selalu mengandalkan pegawainya yang masih muda, dia memang CEO sekaligus pemilk mayoritas saham.

“I do not know where to start actualy. It started nine years ago,” Stanley merubah duduknya menjadi lebih serius

“It was a tragedy…….” Tika menceritakan kejadian di gunung Lawu dan pertemuannya dengan Hendra orang yang menolongnya dan mereka saling jatuh cinta, sampai kejadian di Kolombia, dan pertemuannya dengan Hendra kembali tahun lalu setelah dia pikir Hendra sudah meninggal, dan terakhir ketika dia berlibur ke Swiss saat mengunjungi desa Braunwald.

“This friend of yours, what is his name ?”

“Tirta Hendrayana.”

“What…Tirta ???!!!” Stanley sampai berdiri karena kaget sementara Tika juga tak kalah kagetnya dan benar-benar tidak siap kejutan baru lagi tentang Hendra.

“What a small world, my goodness. He is my son.”

“Really ? Your son Stan how come we never know ?”

“I mean I take him as my son and do not want to be  exposed.”

“How did you meet him.”

“1984, Morning jogging. I met him running in front of me almost every day, and we were getting closer and closer.”

“Stan, I still can not believe that you guys are connected. This is more than what I got at Braunwald.”

“1988, this company was very close to collapse. I made mistake, I told Tirta just between friend, three days after  somebody called me, it was the Emir of Qatar, he is Tirta’s good friend. You met him last year.”

“Right…last August.” Jawab Tika

“He wanted to help me solving my cash flow problem and retaining business. I was very surprised when I saw the legal documents of guarantee were born to Tirta personal. His goodness made this company survived and two years after, 1990, we could return the loan. It was because of him as well.”

“Indeed. He is really special human being.”

“He is like my son to me. He always comes whenever I am in trouble, never know how he did that.”

Tika tak bisa menahan air matanya, kejutan ini benar-benar menghujam tepat di jantungnya, Selama ini dia bekerja dari hasil bantuan Hendra, dia tidak bisa lari dari Hendra, katakanlah ini sebuah kebetulan semata tapi terlalu nyata.

“Since I know you run business which all related to Tirta I really relieved on you, just one request from me please stay as our commissioner.”

“Sure, I do. I even think to have shares in this company.”

“Thank you God. I am very happy.” Sangking gembiranya Stan Memeluk Tika lalu menari-nari seperti anak kecil.

Tika menunjuk satu konsultan bisnis di Swiss dan satu konsultan hukum di Inggris untuk menyiapkan penambahan saham di perusahaan Stanley diambil dari devidend perusahaan di Braunwald. Ternyata semua berjalan begitu cepat dan kejutan-kejutan dari Hendra belum juga selesai, membuatnya makin rindu pada orang yang sangat dicintainya. Seorang pendiam yang dingin, penyendiri, canggung, kaku, tapi begitu banyak berbuat untuk orang-orang  di sekitarnya. Terlebih lagi dia sangat tampan.

Rudy datang ke apartemen Tika sore menjelang malam, wajahnya serius tapi sekaligus kuyu. Lama dia diam memainkan sepasang sepatunya, sementara Tika membuatkan kopi.

“Kapan kamu pulang dari Braunwald ?”

“Hari Sabtu.”

“Hmm…kamu ketemu dia ?”

“Gak.”

“Trus ngapain di sana ?” Rudy menyeruput kopinya

“Kan aku udah bilang mau sendiri dulu, tempat itu enak untuk merenung.”

“Sebenarnya ada apa diantara kalian ? Mungkin kamu harus jujur sekarang.”

“Aku gak bisa Rud, tolong jangan paksa aku.”

“Kamu cinta dia ?” Rudi berkata lirih takut menyinggung perasaan Tika. Tika diam tidak menjawab.

“Maaf kalau aku lancang, kemarin aku telepon Dewi. Aku tanya tentang Hendra, dia ceritakan semua dan menurut dia Hendra tewas dalam kecelakaan pesawat di Amerika Selatan.” Tika masih diam dia bingung harus bagaimana tapi keyakinannya sudah mantap.

“Aku tegaskan lagi kita harus memikirkan ulang rencana perkawinan kita.” Tika sedih harus menghadapi keadaan yang canggung ini ada rasa bersalah yang besar pada Rudy, dan Rudy memang tidak salah yang dia lakukan sekarang pun wajar.

“Maksud kamu gimana ?” Tika memecah sepi

“Kamu berubah sejak melihat Hendra, mungkin kamu bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya.”

“Maaf Rud, aku gak bisa.”

“Kamu harus memilih aku atau dia.” Tika sudah bulat keputusannya saat itu

“Aku juga gak bisa milih Rud. Biar waktu yang memilihkan untuk aku. Aku mau sendiri dulu.”

“Oh. Begitu. Jadi kita done ?”

“Iya aku pikir juga sebaiknya begitu maafkan aku.” Sambil melepas cincin pertunangannya dan memberikan pada Rudy.

“Ok, lebih baik begitu,” Rudy berdiri dan berlalu  mukanya memerah kopinya pun belum sempat disentuh.

Tika diam menahan kesedihannya, Rudy memang tulus mencintainya, dia banyak sekali membahagiakan Tika. Dia tak ingin menambah kesedihan Rudy mungkin justru dia harus memberikan dukungan sehingga hubungan mereka masih bisa terus berlanjut sebagai teman. Beruntung Hendra tidak pernah muncul sehingga Rudy tidak cemburu buta, Tika masih selalu sendiri, waktu masih bisa berperan untuk mengobati sakit hati Rudy.

Hendra memang sengaja tidak mau menemui Tika sampai semua masalah selesai dengan keputusan yang jelas, apapun keputusannya dia sudah menerima sejak delapan bulan lalu. Dia sudah siap untuk hidup sendiri.

Handphone Tika berdering di layar tertera kode negara Perancis, Tika mengangkatnya.

“Tika Speaking”

“Iya udah tau elo ! apa kabar Zurich ?”

“Wiiiiii…….baik, asik. Katanya lu mau ke sini. Kapan ?”

“Lah lu kan lagi asik jalan-jalan sama calon. Bukannya elo yang sibuk terus.”

“Sorry. Jaques sehat kan, Jef udah gede ya.”

“Iya sehat semua Jef makin bandel aja. Kit Rudy telepon gue kemarin malem dia tanya-tanya tentang Hendra, yang aneh dia bilang kalian lihat Hendra nyanyi di cafe. Gue jadi kesel gak sopan sama almarhum yang gue banggain. Gimana sih sebenernya ? Lu ketemu Hendra ?”

“Aduh satu-satu kali nanyanya. Iya kita ngelihat Hendra.”

“Kit lu jangan bercanda, gue marah nih.”

“Bener Wi dia Hendra.”

“Puji Tuhan doa gue terkabul.”

“Eh lu doa apa buat Hendra.”

“Rahasia, doa buat si ganteng.”

“Cuma gue belum bisa ketemu.”

“Dari kapan lu taunya ?”

“Sorry ya. Delapan bulan lalu.”

“Keterlaluan luya, kenapa gak kasih tau. Dian udah lu kasih tau ?”

“Belum.”

“Elu ya, emang kita gak boleh ketemu dia ya. Mau lu kekepin sendiri ?”

“Iya lah, dia kan punya gue.”

“Waduh berani lu, trus Rudy mau dikemanain ?”

“We are done.”

“Fou…bokap gimana ?”

“Gak tau nih gue musti gimana.”

“Kit, Hendra masih ganteng ?”

“Ih elu tuh, makin ganteng makin baik makin cinta makin sayang.”

“Ceritain dong.”

“Panjang Wi ceritanya, minggu depan gue mampir ke rumah lu sehabis dari Italy.”

“Liburan lagi ke Italy ?”

“Gak, ke tempat Hendra.”

“Ikut !”

“Udah dulu gue mau packing, sampe minggu depan ya, salam buat semua. Bye.”

“Bye.”

 

Minggu, 26 Juni 1994

Suhu empat puluh satu derajat siang hari yang terik, adzan dzuhur berkumandang kencang. Beberapa pedagang mengemasi barang-barang mereka untuk menunaikan shalat. Sebagian lagi masih sibuk menjajakan dagangannya. Jalan-jalan sedikit lengang dan masjid-masjid dipenuhi jamaah shalat dzuhur. Pemandangan yang khas di kota-kota di timur tengah saat memasuki waktu menunaikan ibadah. Beberapa turis masih asik duduk-duduk di kedai kopi yang ditinggal pemiliknya pergi ke masjid, semua aman dan saling percaya.

Di salah satu masjid diantara jamaah ada seorang bule yang juga menunaikan ibadahnya, beberapa orang meliriknya tapi orang itu terlihat khusuk pada tiap rakaat shalatnya. Sampai shalat selesai dia masih melanjutkan dengan shalat sunnah, beberapa jamaah lain masih memandanginya karena sangat langka orang bule yang memeluk islam. Setelah selesai dengan salam menutup shalatnya orang itu menyalami jamaah di sekelilingnya sesuatu yang juga langka dilakukan dalam budaya timur tengah.

“من اي بلد انت (Kamu berasal dari mana )?” Tanya seorang di sebelah kanannya

“أندونيسيا (Indonesia) “ Jawab orang itu

“ما شاء الله ، أنت أقاربك المقربين (Masya Allah, kamu saudara kami)” Orang itu memeluknya

“اسمي هندرا (Nama saya Hendra).”

“أنا وليد (Saya Walid).”

“أنا أعاملك لأشرب القهوة (Walid saya traktir kamu minum kopi) ?”

“نعم ، لا يزال لدي نصف ساعة قبل بدء العمل مرة أخرى (Ya, saya masih punya waktu setengah jam sebelum mulai bekerja lagi.” Mereka berdua lalu pergi ke kedai kopi dua ratus meter dari masjid itu.

Kedai kopi yang mereka tuju penuh tapi masih ada tersisa dua kursi di salah satu meja dan mereka minta ijin untuk bergabung. Sambil menunggu kopi mereka datang mereka ngobrol warung kopi dan dua orang lainnya ikut bergabung dalam obrolan mereka. Hendra lebih sering menceritakan cerita dan kejadian lucu membuat ketiga orang itu terbahak-bahak, dan mereka kelihatan akrab sekali walaupun baru ketemu. Ketika kopi mereka datang mereka berhenti sebentar dan mulai menyalakan rokok masing-masing. Tak lama Hendra mulai lagi membuka obrolan yang tak jelas arahnya hanya sekedar untuk menikmati kebersamaan. Akhirnya setelah waktu Walid habis dia pamit begitu juga kedua orang lainnya, tapi mereka berempat berjanji untuk ketemu lagi besok selepas shalat dzuhur di tempat yang sama.

Hendra sedang dalam tugas di sebuah kota sebelah selatan Damaskus Suriah, kota kecil Al Kiswah yang sering kali dijadikan invasi Israel untuk mencari musuh mereka yang bersembunyi. Hendra sudah seminggu di sana dan mulai mengumpulkan data perburuan seorang yang diduga bersembunyi di Suriah, pelarian dari Indonesia yang punya jaringan di Indonesia dan timur tengah. Hendra sudah berkeliling lebih dari lima belas kota di Suriah, informasi terakhir buron itu berada di Al Kiswah dan akan bertemu dengan kontaknya dari Israel.

Hendra melihat jam tangannya masih ada waktu sekitar empat jam menjelang pertemuannya dengan sumber yang akan mengantarkan pada pertemuan itu. Dia kembali ke tempat dia menginap di salah satu rumah dengan menyewa kamar, dia lebih memilih tinggal di rumah penduduk dari pada di hotel. Dia harus istirahat karena sudah dua hari dia belum tidur.

Ketika sampai di depan pintu rumah tempat dia menginap, ada seorang gadis berdiri di situ sehingga dia tidak bisa masuk menunggu gadis itu berpindah tempat. Gadis itu mengetuk-ngetuk pintu dan belum ada yang membuka pintu, maka Hendra juga menunggu. Merasa ada yang berdiri di belakangnya gadis itu pun menoleh dan melihat dengan pandangan curiga, tapi Hendra hanya tersenyum, wajar bila gadis itu berusaha berhati-hati. Dia mengetuk pintu lebih keras kali ini dia mulai berteriak.

“لحظة (Sebentar).” Suara dari balik pintu, suara perempuan tentunya janda tua pemilik rumah itu. Pintu pun segera dibuka dan gadis itu buru-buru masuk dan menutup pintu, Hendra hanya tersenyum karena tadi saat membuka pintu pemilik rumah itu sudah melihatnya.

“لا تغلق انه ضيفنا (Jangan ditutup. Dia tamu kita).”

“ضيوفنا (tamu kita) ?”

“نعم استأجر غرفة (Ya dia menyewa kamar).” Jelas perempuan pemilik rumah itu. Gadis itu pun pergi masuk Hendra kemudian masuk memberi salam

“Assalamulaikum.”

“Waalaikumussalam من فضلك. (Silahkan)” Ibu itu mempersilahkan Hendra masuk.

“شكرا لك ، لقد ذهبت مباشرة إلى الغرفة وسوف تذهب ناتي بعد الظهر ربما غدا للعودة ، لا تضطر إلى الانتظار لأقفال الباب (Terima kasih.Saya langsung ke kamar dan nanti sore saya akan pergi mungkin besok baru kembali, tidak usah ditunggu kunci saja pintu).” Hendra memberi penjelasan lalu dia pergi ke kamarnya.

Ketika dia akan menuju kamarnya di atas dia berpapasan dengan gadis itu, Hendra senyum ramah padanya. Gadis yang  cantik.

“Why do you smile at me ?” Hendra tertegun bingung salah menempatkan diri.

“So sorry, don’t have any bad intention. It is our culture.”

“Culture ? Where are you from ?”

“Indonesia.”

“Indonesia, Bali ?” Gadis itu menyeringai aneh

“No. Java.”

“But you do not look like other Indonesian.” Hendra tersenyum

“I borned in Indonesia and grew there as well.” Gadis itu menjadi tertarik.

“Sorry, are you moslem ?”

“Yes.” Gadis itu makin tertarik, tapi Hendra justru berusaha untuk menyudahi.

“I got to take a rest. Very nice meeting you.”

“Sure.” Gadis itu masih belum puas dan terus memandangi Hendra sampai menghilang di ujung tangga.
Rupanya dia benar-benar tertarik, dia memang ingin sekali ke Indonesia terutama Bali, ketika dia tahu Hendra dari Indonesia dia jadi makin penasaran. Apalagi setelah dia ngobrol sebentar timbul rasa suka, terlebih melihat dari dekat wajah Hendra yang tampan dan ramah, dia tidak bisa membohongi dirinya lagi kalau suka, cepat-cepat dia menemui ibunya.

“الأم. الصبي كان اسمه. الى متى سيبقى هنا؟ (Ibu. Pemuda itu siapa namanya. Sampai kapan dia akan tinggal di sini) ?” Ibunya tersenyum karena dia yakin anaknya pasti tertarik pada Hendra yang tampan dan sopan.

“لماذا تتساءل بدلاً من ذلك أنك لم ترغب في ذلك من قبل (Kenapa kamu tanya-tanya bukannya tadi kamu gak suka).”

“ناهيك. لا مزحة. من هو؟ (Sudahlah. Jangan bercanda. Siapa dia).” Gadis itu makin penasaran

“اسمه هيندرا. الشعب الاندونيسي. حجز غرفة لمدة شهر (Namanya Hendra. Orang Indonesia. Dia memesan kamar untuk satu bulan).”

“Hendra.” Dia tersenyum-senyum berlalu ke ruang tengah, ibunya geleng-geleng dia tahu kalau anaknya sedang jatuh hati.

Bersambung

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *