Lawu Aku Dia 1

Lawu Aku Dia adalah cerita bersambung tentang petualangan, pendakian dan cinta. Cerita ini merupakan fiksi, nama, tempat serta kejadian fiktif belaka kalaupun ada kesamaan merupakan kebetulan semata, Selamat menikmati.

Sabtu, 16 November 1985

Gerimis membasahi kawasan gunung Lawu. Awan hitam bergayutan berarak, perlahan-lahan tumpahkan kelebihan kelembabannya. Selimut kabut terusir jauh bersama cahaya sang Indra yang sembunyi dibalik awan hitam pekat. Silih berganti sinar kilat terangi langit, disusul gelegar guntur memekakkan telinga. Suasana malam, sepi, gelap bak jelaga, membuat hati terasa kecil di tengah alam penuh misteri. Pemandangan yang memamerkan keindahan nan ramah sirna seketika terbawa desir angin menderu-deru.

Di kegelapan malam di bawah kaki hujan, suara langkah sepasang kaki menyusuri jalan setapak menurun, telah jauh meninggalkan puncak Hargo Dumilah, langkahnya cepat sehingga menimbulkan suara keras di tanah becek. Pemilik kaki bersepatu hitam tak peduli akan suasana mencekam di sekelilingnya seolah sedang berada di pekarangan rumahnya sendiri, tidak juga pada hujan yang turun begitu lebatnya, dia terus berjalan cepat dengan langkah yang pasti. Sesekali sinar bulat terang menyala dari tangan kirinya, memastikan pijakan pada jalan setapak di depannya. Dia berhenti di jalan yang melebar, mengamati lamat-lamat cahaya lampu-lampu di kejauhan ratusan meter di bawahnya.

Jam di pergelangan tangan Hendra menunjukan angka sepuluh lewat tiga puluh dua menit, sudah lebih dari empat jam berjalan tanpa berhenti, jalan aspal semakin dekat. Di tepi jalan setapak ada gubuk tempat berteduh dan biasa dipakai juga untuk beristirahat pendaki, sejenak dia ingin beristirahat, tapi dia batalkan, dan terus berjalan turun menyusuri jalan aspal menuju Tawangmangu, pikirnya di sana mungkin masih ada warung yang buka, perutnya sudah tidak tahan minta diisi, rokok pun tinggal setengah batang.

Menjelang tengah malam, dia sudah sampai terminal Tawangmangu, sepi. Tidak terlihat sama sekali orang-orang yang biasanya duduk-duduk wedangan di warung. Hujan kian lebat, malam makin dingin. Tak ada pilihan lain, Hendra harus menunggu pagi untuk mendapatkan kendaraan menuju Solo. Dia lalu menuju gubuk di sebelah warung yang kosong, ada bangku panjang, lumayan untuk beristirahat menunggu pagi. Dia melepas poncho dan menurunkan carrier, mengganti kaos dan celana yang basah, lalu merebahkan punggungnya di bangku panjang. Sambil berbaring dia menghisap rokok yang tinggal setengah batang.
Udara dingin dan suasana sepi membuatnya peka pada keadaan sekitar. Saat hisapan ke lima, terdengar suara keras……….

“Taaarrr…….!”

“Daaarrr…….!”

“Daaarrr…….!”

Terkesiap, dia bangkit mencari arah suara letusan itu berasal. Suara yang keras sekali, sumbernya tak mungkin lebih dari seratus meter dan dia yakin itu adalah suara letusan senjata api genggam. Suara letusan kedua dan ketiga lebih keras dan lebih nyaring. Bisa jadi terjadi baku tembak antara polisi dan perampok, kawasan villa-villa di Tawangmangu sering kali rawan perampokan atau dijadikan tempat persembunyian para pesakitan.

Saat sedang mencari-cari asal suara itu, terdengar jeritan histeris perempuan dari salah satu villa di seberang jalan. Tak jelas villa yang mana, ada deretan villa yang letaknya berdekatan. Kedua villa tepat di seberang gubuk tempat Hendra istirahat tampak sepi tak berpenghuni, hanya kedua lampu tamannya yang menyala sementara bagian lainnya gelap.

Mungkin villa ketiga, lampu pagarnya menyala, bangunannya lebih tinggi dari bibir jalan. Dia mengambil carrier dan poncho lalu berjalan mengendap mendekati villa itu. Sekali lagi terdengar suara jeritan yang sama, kali ini lebih meyakinkan kalau suara itu berasal dari villa yang ia curigai. Dia lalu menuju sebatang pohon akasia besar yang tumbuh di tepi jalan di seberang villa. Sekitar pohon itu gelap, sinar lampu pagar villa tak mampu menjangkau untuk meneranginya, dari balik pohon itu dia mengintip ke halaman villa.

Di jalan masuk menuju villa terlihat dua mobil terparkir dengan posisi yang aneh. Mobil paling luar di parkir melintang menghalangi jalan keluar, jenis mobil jeep kanvas buatan tahun 1969/70-an. Sedang lainnya adalah Toyota Kijang hitam dengan plat nomor “AB 999 TX”. Cahaya lampu di beranda villa tak banyak membantu Hendra mengamati gerakan orang-orang di pelataran, ditambah hujan lebat mengaburkan pandangannya.

Tiga orang berdiri di dekat pintu Toyota, dua orang di sebelah kanan dan satu lagi di kiri sedang membuka pintu depan dan memeriksa ke dalam. Masing-masing memegang pistol namun tak jelas jenisnya, sehingga yang semula ia kira mereka adalah polisi rupanya salah. Dari cara mereka bekerja dan bertindak ia yakin mereka bukan petugas kepolisian, hanya karena mereka berperawakan tinggi dan tegap hal ini yang membuat ia mengira mereka adalah petugas.

Untuk ketiga kalinya jeritan itu terdengar lagi, kali ini dari dalam mobil Toyota. Tidak hanya jeritan dia juga meneriakan sesuatu yang tak jelas didengar Hendra. Perempuan dalam Toyota masih berteriak-teriak ketika orang yang memeriksa ke dalam mobil Toyota itu menarik pelatuk pistol, kembali suara keras terdengar. Perempuan itu masih berteriak namun lambat laun melemah sampai tak terdengar, hanya terdengar suara pintu mobil yang ditutup.

“Leng…!!!” seseorang keluar dari pintu villa

“Dua orang lari ke samping.” Lanjutnya tenang sambil menunjuk ke sisi kiri halaman villa. Dia berdiri di beranda di bawah lampu. Wajahnya jelas terlihat, garis muka yang sangar dengan brewok makin seram dilihat. Si brewok bergegas ke tempat yang ditunjuknya diikuti dua orang dekat Toyota, entah yang mana yang bernama Leng, satu orang lagi nampak menuju jeep kemudian menghidupkan mesin. Dua kali mencoba menghidupkan mesin dan suara keras mesin tua terdengar memecah kesunyian. Tak lama kemudian lampu jeep sudah menerangi bagian kiri halaman villa yang gelap karena rimbunnya tanaman. Sinar putih lampu kabut diarahkan untuk mencari dua orang yang lari lepas dari mereka.

Dua orang muncul dari balik rimbun tanaman, berlari mendekati pagar tembok, lalu satu orang mengangkat pinggang temannya membantu memanjat tembok. Mereka berusaha kabur lewat pagar tembok. Pagar tembok itu tingginya dua setengah meter, tak mudah untuk melompatinya tanpa dipanjat. Si brewok dan teman-temannya tentu saja sangat mudah untuk mengetahui tiap gerakan dua orang tadi dengan terang lampu. Mereka berjalan ke arah orang yang berada di atas tembok, tapi terlambat orang itu sudah terlebih dahulu melompat ke balik tembok. Orang yang membantu temannya kabur berusaha beberapa kali memanjat tapi gagal,  gerakannya melemah, putus asa akhirnya dia berteriak,

“Lari….lari…!!!”

Perlahan orang itu menegakkan tubuhnya bersandar pada tembok, kedua telapak tangannya menggaru-garuk dinding menahan rasa takut yang hebat, sadar maut akan segera menjemputnya. Ketiga algojo itu semakin dekat hingga tak lebih dari sepuluh langkah. Si brewok telah menghunus pisaunya, sementara kedua temannya masih menggenggam pistol.

Perasaan ngeri, kesal, tak berdaya berkecamuk di kepala Hendra, tak ada yang bisa dilakukannya, keadaan tidak memungkinkan untuk bertindak. Sementara orang itu kelihatan sudah pasrah ketika si brewok menghujamkan pisaunya, tak sempat terdengar suara orang itu merintih, hanya tubuhnya sempat menggeliat beberapa kali kemudian diam tak bergerak.

Hendra menarik nafas panjang, mengisi penuh paru-parunya menahan gejolak hatinya yang tak menentu. Sambil mengalihkan pandangan dari villa di seberang jalan, dia lalu menyandarkan punggungnya pada batang pohon, berusaha keras mengusir perasaan giris dan ngeri yang mencekam. Namun sebelum ia selesai, suara orang-orang di pelataran villa kembali menarik perhatiannya.

“Dia gak mungkin jauh, apa susahnya nguber ayam……cepat lah kau, cari sana” Dalam logat daerah Sumatra yang kental. Mereka sudah bersiap-siap meninggalkan villa itu.

Baru sadar maksud “ayam” yang disebut tadi, tentunya orang yang berhasil lolos tadi. Harus ditolong, itu yang ada dalam benak Hendra. Dia mulai menanggalkan poncho dan melipatnya, melepas jaket dan memasukkannya ke dalam carrier. Kini hanya selembar kaos biru tua tanpa lengan yang dipakainya, sehingga lengan nya yang putih berotot terlihat mencolok, dari kantong samping carrier diambilnya pisau berburu “Oritor” 30 cm, lalu diselipkan di pinggang belakang. Dia teguhkan niat untuk memulai petualangan baru yang ia tidak tahu akan berujung kemana, dia harus menolong orang yang tadi lolos.

Sejenak Hendra mengamati keadaan sekeliling. Tak tampak orang desa sama sekali, mungkin semua sudah lelap tidur sehingga tak lagi mendengar suara letusan senjata diantara gemuruh guntur yang susul menyusul. Terdengar suara deru jeep di pelataran villa, sedang parkir maju mundur untuk keluar gerbang dan sepasang lampu depannya menyorot terang ke bagian kiri villa. Hendra menunggu kesempatan untuk menuju samping kiri villa. Lalu saat aman dan tepat ia lari menyeberang menuju samping villa.

Dia menyusuri samping tembok yang ditumbuhi ilalang dan perdu yang rupanya merupakan pembuangan air dari villa, tanahnya sedikit digali untuk jalan air. Diraihnya senter kecilnya lalu meneliti dimana kira-kira tempat orang tadi melompat, mungkin dia masih bersembunyi di situ. Waktu Hendra tak terlalu banyak untuk memeriksa, suara jeep sudah terdengar lebih keras dan bergerak ke arah nya, secepatnya ia berlari setelah tak menemukan tanda-tanda orang yang lolos berada di situ.

Diluar dugaannya villa itu panjang sekali hampir seratus lima puluh meter, ia terus berlari tapi ujung tembok belum juga terlihat. Hendra mulai tegang karena suara si brewok dan teman-temannya makin jelas terdengar, mereka akan menggunakan jeep, terdengar jelas suara mesin dan cahaya lampu jeep juga mulai menerangi samping villa. Hendra masih berlari ketika si brewok berteriak.

“Jo….Jo…. siapa tuh !”

“Kejar…..”

Jeep bergerak lebih cepat, kadang terdengar suara roda selip namun terus maju. Sekali lagi terdengar bunyi roda selip dan akhirnya mesinnya mati, namun sinar lampunya masih menerangi sampai jauh ke ujung pagar tembok.

“Hasan…. yang itu bagian lu.” Orang yang dipanggil Jo berteriak. Tanpa jawaban, hanya terdengar suara langkah cepat di tanah becek. Saat itu Hendra sudah hampir sampai di ujung tembok.

Hendra tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di ujung pagar tembok belakang, tapi sial kaki kirinya kejang dan dia jatuh terduduk diatas gerumbul ilalang. Dia mencoba untuk bangun berdiri tapi gagal, ototnya makin keras menggigit dan tak bisa digerakkan sedikitpun. Sementara orang bernama Hasan itu berlari kian cepat dan jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal sekitar tiga puluh meter. Untung saja tanah becek yang licin membuatnya menurunkan kecepatan larinya dan sibuk mencari pijakan agar tidak terpeleset. Cuma itu yang menolong Hendra yang lalu menyeret kaki kirinya merangkak dan menyelinap berbelok ke kanan di ujung tembok.

Sisi-sisi tembok hampir lurus bentuknya empat persegi panjang dan makin kebelakang temboknya makin tinggi. Sedang tembok villa di sebelah villa itu masih lebih panjang sekitar lima meter lagi. Di belakang villa itu adalah ilalang dan beberapa pohon besar yang tingginya melebihi pagar tembok belakang villa, dan tak jauh dari ujung villa dimana Hendra berada, ada sebatang pohon besar. Hendra bersandar di tembok sambil menarik ujung sepatu kiri untuk meredakan kejang sambil menata nafas memperbaiki peredaran darahnya. Dia berusaha berdiri dan berjalan walaupun terpincang-pincang, sadar tak mungkin terus berjalan apalagi berlari, akhirnya diputuskannya untuk melakukan perlawanan, dia tak mau mati konyol.

Hendra menuju pohon besar yang berada dua meter dari ujung tembok villa, menurunkan carriernya, lalu meraih pisau berburu, melolos dari sarungnya, meneguhkan semangatnya dan mengingat pelatihan yang dijalaninya bertahun-tahun. Dari balik pohon itu dia mengamati kedatangan Hasan, orang yang mengejarnya, terdengar suara langkah kaki makin dekat. Dia bersiap melawan lebih dari satu orang tapi dari langkah yang mendekat sepertinya hanya satu orang. Bayangan orang itu sudah semakin jelas, aliran darah Hendra makin deras, dia berusaha menenangkannya dan berkonsentrasi menghimpun tenaga. Serangan dadakan hanya bisa sekali dilakukan dan harus cepat dan tepat tidak boleh salah sedikitpun. Jari-jari tangannya meremas gagang pisau tak sabar menunggu lawan muncul. Doa pendek dipanjatkannya juga, mohon ampun dan perlindungan bila harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dielakkan lagi.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi orang yang bernama Hasan itu mencapai ujung tembok dengan pistol di genggaman, bayangannya makin mengecil dan jelas dalam sorot lampu jeep. Sekarang tidak hanya bayangan, bunyi suara air yang diinjaknya dapat jelas terdengar.

Hendra sudah siap dengan pisau digenggam. Pemburunya kian mendekat ke tempat dia bersembunyi, hanya tinggal satu-dua langkah jaraknya, berjalan perlahan seraya mengambil senternya. Dalam hitungan satu tarikan nafas saat senter akan menyala, kaki petir menyambar dan cahaya terang muncrat, mendadak Hendra menyerang dengan pisaunya tepat mengenai pergelangan tangan Hasan.

“Bssst……” Seketika Hendra mengayunkan pisaunya melukai tangan kanan Hasan, kontan pistolnya jatuh. Hendra bergerak cepat tanpa menghiraukan teriak kesakitan pemburunya, dia lalu menyarangkan tendangan keras kaki kanan tepat mengenai dada lawannya, sebuah tendangan lurus yang dalam latihan biasa dilakukan dengan mata tertutup. Hasan terhuyung menahan sesak, mual dan nyeri, dia mengerang kesakitan, Hendra tidak memberi kesempatan lawannya, sebuah pukulan ke rahang membuat Hasan roboh dengan genangan darah dari pergelangan tangannya. Hendra pun terjatuh saat selesai melakukan pukulan tadi kakinya pun kembali kejang mungkin karena gerakan yang terlalu dipaksakan. Dibantu cahaya petir Hendra memungut pistol yang tadi jatuh, menyarungkan pisau, mengambil carrier lalu berjalan menuju semak-semak di sebelah pohon besar tadi. Perlahan terdengar dia berbisik,

“Terima kasih ya Allah.”

Lima belas menit yang terasa lima jam, Hendra dicekam cemas dan ngeri. Sekarang sudah sedikit agak tenang ia melangkah walaupun masih tersisa tanda tanya besar akan resiko yang mungkin lebih besar lagi siap menyambutnya. Dia terus berjalan melalui semak dan ilalang. Cahaya Lampu-lampu yang berasal dari desa di depan mulai terlihat mungkin orang yang dicarinya menuju ke sana, dia masih terus berpikir dan menerka arah perginya orang yang lolos tadi.

Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit huj`an mulai reda. Hendra sampai di gapura desa dengan senternya dia teliti bentuk gapura dan nama desa itu dan sepertinya tidak asing dalam ingatannya. Dia yakin desa itu adalah desa yang sangat dikenalnya, dua belas tahun lalu dia pernah tinggal di situ. Betul, diamatinya jalan-jalan desa yang tidak banyak berubah walaupun gelap.

Rumah keluarga almarhum pak Kasmin di dekat pohon bambu, dulu ada pohon roboh tersambar petir di pelataran rumah dan saat ini sisa batang dan akarnya masih ada. Entah sekarang siapa yang tinggal di rumah itu. Tiba-tiba dia teringat masa kecilnya bekerja membantu pak Kasmin menjadi kenek gerobak sapi, pekerjaannya membantu dan memanggul muatan gerobak sapi pak Kasmin. Tugasnya sehari-hari adalah membawa sayuran, buah-buahan, bahan bangunan, memandikan sapi, dan mencuci gerobak. Waktu itu umurnya baru sembilan tahun.
Masih dia ingat betul pohon tumbang itu menjadi sumber bencana baginya, saat mengangkat sayuran dia tabrak pohon tumbang itu dan dia jatuh, lupa kalau ada pohon tumbang. Sayurannya rusak semua tidak bisa dijual. Pak Kasmin marah sekali karena dia harus mengganti harga sayuran itu. Hendra dihukum, usai tugas utamanya membantu pak Kasmin selesai, dia harus bekerja di tukang pembuat batu bata, upah kerjanya menjadi pengganti kerugian pak Kasmin.

Hendra menurut apapun perintah pak Kasmin karena dia ingin membalas budi, dia tidak bisa membayangkan nasibnya kalau dia tidak ditolong pak Kasmin, mungkin hidupnya masih tak menentu. Kadang bisa makan satu kali sehari, tapi lebih sering harus menahan lapar, untuk mengemis dia tidak mampu melakukannya. Apalagi dia tidak punya tempat untuk berteduh, maka Hendra begitu hormat dan sayang pada pak Kasmin.

Mereka tinggal serumah berenam termasuk Hendra, anak pak Kasmin ada tiga, . Anak pak Kasmin yang paling besar laki-laki, Agung, kelas satu SMA dan bersekolah di Solo, yang kedua perempuan Rini, kelas dua SMP dan yang terakhir perempuan Ayu, kelas enam SD. Mereka semua sayang pada Hendra yang rajin dan selalu sigap membantu mereka, karena Hendra tidak bersekolah maka anak-anak pak Kasim yang mengajari Hendra membaca, menulis dan berhitung. Begitu juga bu Kasmin, dia sangat menyayangi Hendra yang selalu membantu membersihkan rumah, mencari kayu bakar, memasak dan membawa dagangan ke warung-warung.

Bagi warga dusun Tawangmangu Hendra anak yang sangat disukai, selain sopan, juga suka membantu. Postur tubuhnya yang jangkung lebih tinggi dari anak sebaya maupun yang lebih tua. Penampilannya memang kurus dan sederhana, tapi semua orang mengakui di dusun itu tidak ada yang lebih tampan dibandingkan dia. Memang wajahnya bukan seperti kebanyakan orang dusun, tapi wajah campuran “indo”. Muka yang lonjong dengan alis lebat dan bola mata berwarna coklat, hidung tinggi dan mancung, sementara bibirnya tidak tebal, rambutnya ikal, kulitnya pun putih walau tidak bule. Tidak heran banyak anak-anak perempuan suka padanya, ditambah dia selalu ramah walaupun sangat pendiam. Teman-teman laki-laki juga sangat senang bermain dengannya, di waktu senggang setelah pekerjaannya selesai, mereka pergi ke sawah mencari belut dan kodok. Tubuhnya kurus berotot terlihat jelas saat dia bertelanjang dada kalau sedang bekerja memanggul muatan gerobak. Di dusun itu Hendra benar-benar betah dan nyaman.

Sampai tiga tahun kemudian pak Kasmin sakit lalu meninggal, semua berubah. Walaupun hubungan dengan keluarga pak Kasmin tetap sama, namun karena tidak bisa lagi menjalankan usaha angkutan, gerobak dan sapi akhirnya dijual. Beberapa bulan kemudian karena beban kian berat, bu Kasmin memanggil Hendra.

“Tirto….” Hendra dipanggil dengan nama itu oleh keluarga pak Kasmin. Bu Kasmin berusaha menahan tangisnya, sementara anak-anaknya memeluki Hendra. Hendra pun bingung, walaupun dia sudah menduga saatnya akan datang, sudah lama dia dibebani rasa sungkan menjadi beban keluarga itu. Dia tidak mampu mengatakannya karena selama ini mereka sudah terlalu baik padanya.

“Nggih… bu…”

“Kowe ngerti yo le pak’e wis gak enek” bu Kasmin berusaha tenang, lanjutnya

“Ibu wis nyuwun pakde Mus. Kowe nderek ning pesantren ne pakde mu ning Selokambang perengan Semeru.” Terbata-bata bu Kasmin sambil menyusut air matanya yang terus mengalir. Rini dan Ayu mulai menangis, Agung merangkul Hendra untuk memberikan rasa aman.

“Dalem nderek dawuh bu “ Hendra menjawab jelas walaupun dia pun berat dan sedih berpisah dengan keluarga itu, dia sudah menganggap bu Kasmin adalah ibunya dan anak-anak pak Kasmin adalah kakak-kakaknya.

Seminggu kemudian pakde Mustofa benar-benar datang menjemput Hendra. Mereka semua bertangisan saat melepas Hendra, hanya Agung yang tidak ada karena masih di Bandung untuk kuliah. Di hadapan ketiga orang yang sangat dia sayangi, Hendra berjanji untuk belajar dan bekerja dengan giat dan tekun. Mereka melepas Hendra dengan rasa kehilangan yang mendalam.

Hendra tersadar dari lamunannya.

Dekat pohon tumbang itu jalan memecah dua, satu langsung menuju desa sebelah lewat kebon kol yang luas. Kedua jalan itu akan bertemu di perempatan jalan dekat musala. Di situ ada air untuk wudhu dan biasanya juga dipakai untuk minum sumbernya diambil dari mata air gunung yang jernih. Kalau malam bulan purnama, banyak orang desa berkumpul di gubuk ronda di seberangnya. Hendra berpikir ada baiknya ke tempat itu mungkin ada orang ronda yang melihat orang yang lolos tadi, sekaligus minta pertolongan untuk melaporkan kejadian di villa. Maka dia cepat-cepat melangkah menuju ke sana.

Namun musala sepi dan gelap, pos ronda juga, hanya suara air pancuran di samping musala, gemericik melebihi suara gerimis. Tak seorang pun terlihat, Hendra berjalan memutari belakang musala menuju pancuran. Kerongkongannya terasa kering setelah berjalan sekian lama. Sambil mengenang akan masa lalu di pancuran itu, dia minum air jernih itu.

Bercawan telapak tangan ia meneguk air yang sejuk segar. Keadaan sekeliling jadi sepi ketika dia menampung air untuk diminum hanya suara gerimis masih terdengar, dalam sepi itulah dia mendengar suara langkah kaki, asal suaranya tak jauh, dari sekitar pos. Cepat ia buang air dari tangannya lalu merapatkan tubuhnya ke dinding musala, mengamati sekitar pos ronda.

Seseorang berdiri di sana, celingukan, menengok ke segala arah  kebingungan, agak lama dia berdiri namun kemudian duduk di bale-bale pos ronda. Masih celingukan mencari-cari sesuatu. Hendra sedang meyakinkan dirinya apakah orang itu salah satu dari gerombolan tadi, atau justru orang ini yang tadi lolos dan dia cari. Melihat dari postur tubuhnya ia meyakini yang ke dua. Perlahan-lahan ia berjalan mengendap-endap ke arah pos. Ada rasa khawatir kalau ia salah duga, tapi dia teruskan. Dia berjalan memutar, sehingga dia bisa sampai di belakang pos tanpa terlihat.

“Sssst….. diam.” Hendra membekap mulut orang itu dan merangkul dada dan mengunci gerak orang itu agar tidak meronta.

“Ak…uk…” orang itu berusaha melepaskan diri, tapi Hendra tidak memperdulikannya, dia bawa ke tempat yang lebih aman di belakang musala. Saat hampir sampai, orang itu masih meronta, dan Hendra baru sadar tangan kirinya merasakan bagian tubuh yang lunak dan menonjol, celaka perempuan, buru-buru dia turunkan kunciannya ke perut.

“Maaf.” Perempuan dalam pelukannya terus meronta-ronta sekuatnya.

“Mereka mencari kamu, gak lama lagi….”

Mungkin karena sedikit ada harapan perempuan itu agak tenang walaupun masih berusaha melepaskan diri. Maka Hendra perlahan-lahan melepaskan kunciannya dan juga bekapan pada mulut perempuan itu.

“Plakkkk…..” Tamparan keras mendarat di pipi kiri Hendra dan dia hanya diam bengong.

Tanpa menunggu jawaban dia menarik tangan perempuan itu, tidak  menghiraukan pemilik tangan itu terus meronta, dia bawa menyusuri ilalang menuju kebun sayur di bagian timur. Walaupun ketakutan dan bingung, dengan pasrah perempuan itu mengikuti Hendra. Kadang Hendra harus menyalakan korek api untuk mencari jalan karena senternya sudah mati, baterainya habis. Hendra berusaha mengumpulkan ingatan belasan tahun lalu tentang jalan, kebun dan tempat-tempat yang ada di situ.

Bersambung

Lawu Aku Dia 2

You May Also Like

About the Author: Dadung Lembu

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *